BALITA DAN ANAK
23 Oktober 2019

3 Cara Atasi Stres Akibat Toilet Training yang Gagal Terus

Dibutuhkan kesabaran dalam membimbing anak melakukan toilet training
Artikel ditulis oleh Adeline Wahyu
Disunting oleh Andra Nur Oktaviani

Saat toilet training anak tidak berhasil, Moms pasti uring-uringan. Padahal, kunci keberhasilan toilet training hanya satu lho Moms, yakni santai saja.

Memang usia anak dalam memulai toilet training, berbeda-beda dalam setiap budaya atau negara. Jadi, tidak mengherankan juga keberhasilan toilet training berbeda setiap anaknya.

Dilansir dari situs Fatherly.com, sebagian besar anak-anak di Amerika belajar toilet training ketika menginjak usia 2 hingga 3 tahun. Hal ini merupakan usia umum anak mengembangkan keterampilan motorik kasar yang diperlukan untuk melatih toilet.

Setelah usia balita, anak-anak secara psikologis siap untuk menggunakan toilet.

Baca Juga: 9 Tanda Anak Siap untuk Toilet Training

"Jika bayi berusia 18 bulan tidak berhasil toilet training, alasannya karena anak itu terlalu muda," kata Dr. Howard J. Bennett, penulis buku AAP, buku Waking Up Dry: A Guide to Help Children Overcome Bedwetting.

Namun banyak orang tua merasa frustrasi ketika anaknya tidak berhasil melakukan toilet training. Namun jangan sedih, tetap tenang. Karena kesedihan atau sikap uring-uringan Moms tidak akan mengubah keadaan. Sebaliknya, Si Kecil malah bisa jadi ogah-ogahan.

Bagaimana cara atasi stres jika toilet training gagal? Simak caranya di bawah ini.

1. Ingat Bahwa Toilet Training Butuh Waktu

toilet training

Foto: todaysparent.com

Ingatkan diri sendiri secara berulang kali bahwa hal yang tidak berjalan lancar sering terjadii dan pelatihan untuk melakukan apa pun membutuhkan waktu.

Terus mengingat bahwa diri kita bisa melakukannya dan tetap percaya diri. Jangan menyerah saat toilet training anak tidak berhasil, dan tetap latih anak dengan penuh kesabaran.

Baca Juga: 5 Tips Sukses Toilet Training Untuk Anak

2. Tetap Berpegang pada Rencana yang Ditetapkan

toilet training

Foto: parents.com

Karena kekacauan dapat membuat orang semakin cemas dan gelisah, memutuskan bagaimana ingin melatih toilet training anak sebelum kita mulai adalah kunci dalam membantu semua orang tetap tenang.

Mulailah secara perlahan dengan membaca buku atau artikel dan memilih metode yang ingin diikuti.

"Jika orang tua melakukannya dengan perasaan urgensi, stres, atau ketidakpastian, maka anak yang paling siap pun akan merasakan kecemasan dan stres itu," kata Maria Darcy, psikolog berlisensi di Newport Beach, California, dan pencipta Sistem Pelatihan Potty Positif PoGO.

Ia menambahkan bahwa yang paling penting adalah bersiap diri saja dan lakukan dalam waktu yang fleksibel.

3. Jangan Bandingkan Pengalaman

toilet training

Foto: momjunction.com

"Toilet training bukanlah alat ukur cara asuh orang tua dan inilah kuncinya,” kata Jamie Glowacki, penulis Oh Crap! Potty Training: Everything Modern Parents Need to Know to Do It Once and Do It Right.

Baca Juga: Persiapkan 7 Item Ini Agar Anak Sukses Toilet Training

Begitu banyak orang yang memandang keberhasilan latihan toilet sebagai bukti pengasuhan anak mereka yang baik. Namun mereka tidak paham, bahwa hal ini bukanlah untuk dibanding-bandingkan.

Apa yang terjadi pada anak lain, belum tentu bisa berhasil dengan anak kita. Makanya, jangan dibandingkan.

Akan jauh lebih mudah bila disesuaikan dengan anak kita sendiri dan pola asuh kita. Jika kita terus-menerus mendengarkan arahan orang lain atau cara orang lain, belum tentu akan berhasil.

Itu dia beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mengatasi stres akibat toilet training anak. Ingat ya Moms, jangan terbebani dan tetaplah bersikap santai. Jika sudah waktunya, Si Kecil pun akan cepat lulus toilet training.

Artikel Terkait