2-3 TAHUN
21 September 2020

Waspada Stunting pada Anak, Ini Hal-hal yang Wajib Moms Ketahui!

Moms, hati-hati, anak dapat terkena kondisi stunting. Lakukan hal ini untuk mencegah stunting.
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Adeline Wahyu
Disunting oleh Andra Nur Oktaviani

Moms pasti sudah tidak asing dengan kata stunting. Ini adalah gangguan tumbuh kembang yang dialami oleh anak-anak akibat gizi buruk, infeksi berulang, dan stimulasi psikososial yang tidak memadai.

Mengutip Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), anak-anak didefinisikan sebagai terhambat pertumbuhannya jika tinggi badan mereka terhadap usia lebih dari dua deviasi standar di bawah median Standar Pertumbuhan Anak WHO.

Stunting pada anak di awal kehidupan, terutama pada 1000 hari pertama sejak konsepsi sampai usia dua tahun, memiliki konsekuensi fungsional yang merugikan anak. Beberapa konsekuensi tersebut termasuk kognisi dan kinerja pendidikan yang buruk, produktivitas yang hilang dan, bila disertai dengan penambahan berat badan yang berlebihan di kemudian hari, peningkatan risiko penyakit kronis terkait nutrisi pada kehidupan orang dewasa.

Baca Juga: Diet Vegan, Amankah untuk Anak dalam Masa Pertumbuhan?

Pertumbuhan linier pada anak usia dini merupakan penanda kuat dari pertumbuhan yang sehat, juga terkait erat dengan perkembangan anak di beberapa domain termasuk kapasitas kognitif, bahasa dan motorik sensorik.

“Risiko yang paling besar dari stunting pada anak adalah penurunan kognitif Si Kecil dalam jangka panjang. Hal ini terjadi karena si kecil kekurangan nutrisi hingga stunting dapat memengaruhi pertumbuhan otak yang sangat pesat pada 1000 hari pertama kehidupannya,” jelas dr. Cut Nurul Hafifah, Dokter Spesialis Anak Konsultan Nutrisi dan Metabolik, RS Pondok Indah – Pondok Indah.

Tak hanya itu, menurut dr. Cut, selain penurunan kemampuan kognitif, anak stunting juga mengalami penurunan kekebalan tubuh, hingga berisiko lebih besar mengalami sindrom metabolik, seperti hipertensi, kelainan jantung, dan hiperkolesterolemia pada usia dewasa.

Yuk, kita kenali stunting pada anak lebih lanjut, Moms.

Penyebab Stunting pada Anak

stunting pada anak

Foto: Orami Photo Stock

Stunting atau pertumbuhan anak yang tertunda dapat disebabkan oleh berbagai macam hal yang mendasarinya. Penyebab paling umum stunting pada anak meliputi:

1. Riwayat Keluarga Bertubuh Pendek

Penyebab stunting pada anak yang pertama adalah riwayat keluarga bertubuh pendek. Jika orang tua atau anggota keluarga lain bertubuh pendek, biasanya pertumbuhan anak akan lebih lambat daripada teman sebayanya. Pertumbuhan yang tertunda karena riwayat keluarga bukanlah indikasi masalah yang mendasarinya.

Anak tersebut mungkin lebih pendek dari rata-rata hanya karena faktor genetik.

2. Penundaan Pertumbuhan Konstitusional

Penyebab stunting pada anak yang selanjutnya adalah penundaan pertumbuhan konstitusional. Anak-anak dengan kondisi ini lebih pendek dari rata-rata tetapi tumbuh dengan kecepatan normal. Mereka biasanya mengalami “usia tulang” yang tertunda, yang berarti tulang mereka matang lebih lambat dari usia mereka.

Mereka juga cenderung mencapai pubertas lebih lambat dari teman sebayanya. Hal ini menyebabkan tinggi badan di bawah rata-rata di tahun-tahun awal usia remaja, tetapi mereka cenderung mengejar saat beranjak dewasa.

3. Kekurangan Hormon Pertumbuhan

Penyebab stunting pada anak yang selanjutnya adalah kekurangan hormon pertumbuhan. Dalam keadaan normal, hormon pertumbuhan mendorong pertumbuhan jaringan tubuh. Anak-anak dengan defisiensi hormon pertumbuhan sebagian atau seluruhnya tidak akan dapat mempertahankan tingkat pertumbuhan yang sehat.

Baca Juga: Cara Terbaik Memantau Pertumbuhan Anak dan Memenuhi Nutrisinya dengan Baik

4. Hipotiroidisme

Penyebab stunting pada anak yang selanjutnya adalah hipotiroidisme. Bayi atau anak-anak dengan hipotiroidisme memiliki kelenjar tiroid yang kurang aktif. Tiroid bertanggung jawab untuk melepaskan hormon yang mendorong pertumbuhan normal, jadi pertumbuhan yang tertunda adalah tanda yang mungkin dari tiroid yang kurang aktif.

5. Mengalami Sindrom Turner

Penyebab stunting pada anak yang selanjutnya adalah sindrom Turner. Sindrom Turner adalah kondisi genetik yang memengaruhi wanita yang kehilangan sebagian atau seluruh satu kromosom X. TS mempengaruhi sekitar 1 dari 2.500 perempuan.

Meskipun anak-anak dengan TS menghasilkan GH dalam jumlah normal, tubuh mereka tidak menggunakannya secara efektif.

6. Penyebab Lain dari Pertumbuhan yang Tertunda

Penyebab yang kurang umum dari stunting pada anak/pertumbuhan tertunda meliputi:

  • down syndrome, suatu kondisi genetik di mana individu memiliki 47 kromosom, bukan 46 yang biasa
  • skeletal displasia, sekelompok kondisi yang menyebabkan masalah pada pertumbuhan tulang
  • jenis anemia tertentu, seperti anemia sel sabit
  • penyakit ginjal, jantung, pencernaan, atau paru-paru
  • penggunaan obat-obatan tertentu oleh ibu kandung selama kehamilan
  • nutrisi yang buruk, menurut dr. Cut, stunting pada anak disebabkan oleh kekurangan nutrisi jangka panjang Si Kecil disertai dengan adanya atau peningkatan kebutuhan energi akibat infeksi berulang atau penyakit kronis lainnya.
  • stres yang parah

Gejala Stunting pada Anak

gejala stunting pada anak

Foto: Orami Photo Stock

Jika anak Moms lebih kecil dari anak-anak lain seusianya, mereka mungkin memiliki masalah pertumbuhan. Ini biasanya dianggap sebagai masalah medis jika mereka lebih kecil dari 95 persen dari anak-anak seusia mereka, dan laju pertumbuhan mereka lambat.

Keterlambatan pertumbuhan juga dapat didiagnosis pada anak yang tinggi badannya dalam kisaran normal, tetapi laju pertumbuhannya melambat.

Bergantung pada penyebab yang mendasari keterlambatan pertumbuhan Si Kecil, mereka mungkin akan menunjukkan gejala stunting pada anak lain, seperti:

  • Jika mereka memiliki bentuk dwarfisme tertentu, ukuran lengan atau kaki mereka mungkin di luar proporsi normal dari badan mereka.
  • Jika mereka memiliki tingkat hormon tiroksin yang rendah, mereka mungkin kehilangan energi, sembelit, kulit kering, rambut kering, dan kesulitan untuk tetap hangat.
  • Jika mereka memiliki tingkat hormon pertumbuhan (Growth Hormone) yang rendah, hal itu dapat mempengaruhi pertumbuhan wajah mereka, menyebabkan mereka terlihat sangat muda.
  • Jika keterlambatan pertumbuhannya disebabkan oleh penyakit perut atau usus, mereka mungkin memiliki darah di tinja, diare, sembelit, muntah, atau mual.

Baca Juga: Cara Mencukupi Kebutuhan Vitamin D Anak untuk Pertumbuhan Tulang

Cara Mengatasi Stunting pada Anak

mengatasi stunting pada anak

Foto: Orami Photo Stock

Apabila anak Moms dicurigai mengalami stunting, bawalah ke dokter spesialis anak untuk dievaluasi mendalam dan dicarikan penyebabnya.

Pemberian makan yang benar dengan memastikan asupan nutrisi adekuat, imunisasi untuk mencegah infeksi berulang, serta pemantauan perkembangan merupakan hal yang harus dilakukan pada semua anak agar dapat terbebas dari stunting.

Rencana perawatan anak akan bergantung pada penyebab keterlambatan pertumbuhan yang Si Kecil alami.

Untuk pertumbuhan tertunda yang terkait dengan riwayat keluarga atau keterlambatan konstitusional, dokter biasanya tidak merekomendasikan perawatan atau intervensi apa pun. Untuk penyebab mendasar lainnya, mungkin ada perawatan yang perlu mereka terima.

Jika anak Moms didiagnosis dengan defisiensi hormon pertumbuhan, dokter mungkin merekomendasikan untuk memberi mereka suntikan hormon. Penyuntikan biasanya bisa dilakukan di rumah oleh orang tua, sebanyak satu kali sehari.

Perawatan ini kemungkinan akan berlanjut selama beberapa tahun seiring dengan pertumbuhan anak. Dokter akan memantau keefektifan pengobatan hormon ini dan menyesuaikan dosisnya.

Sedangkan jika penyebabnya adalah hipotiroid, dokter anak mungkin akan meresepkan obat pengganti hormon tiroid untuk mengkompensasi kelenjar tiroid Si Kecil yang kurang aktif. Selama perawatan, dokter akan mengawasi kadar hormon tiroid anak secara teratur.

Beberapa anak secara alami mengatasi gangguan tersebut dalam beberapa tahun, tetapi yang lain mungkin perlu melanjutkan pengobatan selama sisa hidup mereka.

Baca Juga: Perhatian Ekstra untuk Stimulasi Tumbuh Kembang Bayi Prematur

Mencegah Stunting pada Anak

Sebelum mengobati, ada baiknya Moms mencegah stunting pada anak. Cara mencegah stunting pada Si Kecil adalah dengan memantau pertumbuhannya sejak dini (sejak dalam kandungan).

Melihat banyak hal yang bisa dialami anak karena stunting, ada beberapa pencegahan yang bisa dilakukan. Hal ini diungkapkan langsung oleh dr. Caessar Pronocitro, Sp. A., M. Sc., dokter spesialis anak RS Pondok Indah - Bintaro Jaya.

1. Kebutuhan Nutrisi yang Cukup

cegah balita alami stunting dengan cara ini 1

Foto: huiji

Cara mencegah stunting pada anak yang pertama adalah dengan memenuhi kebutuhan nutrisinya. Moms, menurut dr. Caessar, kebutuhan nutrisi yang cukup perlu dilakukan sejak awal kehamilan.

Ibu hamil harus mendapatkan asupan gizi dan rutin kontrol cek kandungan ke tenaga medis yang kompeten.

Setelah bayi lahir, Moms harus memberikan ASI eksklusif selama 6 bulan. ASI mencegah bayi mengalami kekurangan nutrisi.

Lalu, setelah 6 bulan, bayi diberikan Makanan Pendamping ASI (MPASI) yang tepat dengan komposisi gizi yang seimbang, yaitu karbohidrat, protein hewani, protein nabati, sayur, lemak, dan buah.

Jangan sampai bayi hanya diberikan buah, melainkan harus menerima karbohidrat dan lemak sejak awal mendapatkan MPASI.

2. Lindungi Anak dari Infeksi dan Lingkungan yang Tidak Sehat

cegah balita alami stunting dengan cara ini 2

Foto: verywellfamily

Cara mencegah stunting pada anak yang selanjutnya adalah melindungi anak dari infeksi dan lingkungan yang tidak sehat. Melindungi anak dari infeksi dengan imunisasi sesuai jadwal. Selain itu, jangan sampai anak terekspos dengan zat-zat berbahaya, terutama rokok karena memberikan dampak yang buruk untuk kesehatan.

Walaupun perokok tidak merokok di dekat anak, tetapi partikel rokok menempel di badan, rambut, mulut, baju, dinding, dan permukaan hingga 2 minggu dan terakumulasi terus-menerus sehingga tetap terhirup oleh anak.

Kondisi ini memberikan pengaruh negatif dan meningkatkan risiko sakit pada anak, terutama gangguan pernapasan seperti batuk, pilek, dan sesak napas.

Selain itu, lingkungan yang tidak bersih atau sanitasi yang buruk meningkatkan risiko anak terkena infeksi, seperti gangguan pencernaan. Infeksi yang berulang meningkatkan risiko stunting.

3. Berikan Stimulasi Psikososial yang Positif bagi Anak

cegah balita alami stunting dengan cara ini 3

Foto: theglobeandmail

Cara mencegah stunting pada anak adalah memberikan stimulasi psikososial yang positif bagi anak.

Caranya mudah kok Moms, yaitu dengan tummy time untuk merangsang bayi belajar berguling dan tengkurap.

Sering mengajak anak bicara dan bercanda saat menyusui, memberikan makan, atau menidurkan bayi juga merangsang kemampuannya berbicara.

Hindari penggunaan gadget sebagai alat stimulasi bagi anak. Bayi yang berusia di bawah 18 bulan tidak diperbolehkan menggunakan telepon genggam atau menonton televisi, kecuali video call.

Ketika anak berusia 18 bulan hingga 2 tahun dapat diperkenalkan dengan program belajar yang ada di telepon atau televisi tetapi harus didampingi orangtua dan tidak lebih dari 1 jam sehari.

Saat anak berusia 2-5 tahun, Moms bisa memberi waktu untuk bermain gadget tapi hanya 1 jam sehari, serta didampingi orangtua.

Karena dasarnya, ketika anak hanya menonton sendiri tanpa pengajaran orang lain secara langsung, maka sebenarnya anak tidak mempelajari apa-apa.

Jadi, Moms, tak perlu khawatir lagi dengan stunting, risikonya dapat berkurang dengan melakukan hal-hal di atas, ya!

Stunting pada anak diawali dengan adanya kenaikan berat badan Si Kecil yang tidak adekuat atau disebut weight faltering. Pastikan kenaikan berat badan anak kita sesuai dengan grafik standar WHO,” ujar dr. Cut.

Moms juga perlu tahu bahwa anak yang berisiko mengalami stunting adalah anak dengan kenaikan berat badan yang tidak adekuat, terutama bayi prematur, bayi dengan berat lahir rendah, anak dengan alergi, serta anak dengan penyakit kronis lainnya. Semoga semua anak kita terbebas dari stunting dan tetap sehat.

Semoga semua anak kita terbebas dari stunting dan tetap sehat.

Artikel Terkait