PROGRAM HAMIL
24 Februari 2020

3 Gejala Normal Usai Transfer Embrio Pada IVF

Kram hingga bercak darah merupakan hal normal usai transfer embrio pada IVF
Artikel ditulis oleh Gladys
Disunting oleh Ikhda Rizky Nurbayu

Bagi wanita yang memutuskan menjalani in vitro fertilization (IVF) perlu mengetahui bagaimana proses dan perubahan apa saja yang akan terjadi saat menjalani prosedur ini.

Salah satu prosedur yang akan dijalani adalah transfer embrio pada IVF. Dikutip dari American Pregnancy Association, hanya ada risiko minimal yang berhubungan dengan prosedur transfer embrio pada IVF.

Antara lain kehilangan embrio saat transfer atau meletakkan embrio di tempat yang salah, misalnya tuba falopi.

Meski beberapa wanita mengalami kram ringan, namun prosedur ini biasanya tidak sakit.

Baca Juga: Proses IVF dengan Embrio Beku, Bikin Ibu dan Bayi Lebih Sehat?

Gejala yang Mungkin Timbul Usai Transfer Embrio pada IVF

Berikut ini beberapa gejala lain yang mungkin timbul usai transfer embrio pada IVF.

1. Pendarahan atau Bercak Darah

1 Pendarahan atau Bercak Darah.jpg

Foto: freepik.com

Sangat umum untuk melihat munculnya bercak darah atau pendarahan pada vagina setelah transfer embrio pada IVF. Hal ini biasanya terjadi sekitar seminggu setelah embrio bergerak ke dalam rahim.

Saat embrio masuk dalam lapisan rahim, beberapa jaringan akan tumpah dan mengarah ke pendarahan. Warna darah pada kondisi ini umumnya merah mudah atau cokelat, dan jumlah darahnya sangat kecil, bahkan beberapa wanita tidak menyadari munculnya bercak darah.

“Dalam beberapa kasus, pendarahan ini tidak mengkhawatirkan, namun bisa juga menunjukkan masalah.

Baca Juga: Perjuangan ketika Hamil Muda dengan Rahim Retro dan Mengalami Pendarahan

Misalnya kurangnya dukungan hormon pada fase luteal, sehingga menyebabkan lapisan endometrium untuk luruh,” ungkap Dr. Ramirez dari Monterey Bay IVF, seperti dikutip dari montereybayivf.com.

Jika pendarahan berlebih, maka bisa juga menunjukkan risiko keguguran atau kegagalan IVF. Untuk itu, Moms perlu berkonsultasi dengan Dokter jika jumlah bercak darah mengkhawatirkan.

2. Kram dan Nyeri Perut

2 Kram dan Nyeri Perut.jpg

Foto: katemangostar – freepik.com

Beberapa wanita usai menjalani transfer embrio pada IVF akan mengalami nyeri tajam atau menusuk. Nyeri ini mungkin bukan berasal dari implantasi tetapi lebih pada ovarium.

“Kram ini rasanya mungkin akan mirip dengan nyeri perut saat menstruasi bulanan, sehingga seringkali dianggap sebagai implantasi yang gagal,” ungkap Joseph E. Martin, M.D., FACOG, seperti dikutip dari fertilitysa.com.

Tiga hari setelah pengambilan, ovarium akan mengisi ulang dengan cairan dan peregangan pada folikel serta ovarium ini tentu akan menyebabkan rasa nyeri.

Baca Juga: 5 Penyebab Nyeri Perut Saat Hamil yang Tak Boleh Diremehkan

Jika rasa nyeri ini sangat menyakitkan dan tidak hilang dengan bantuan obat pereda nyeri ringan, seperti motrin, ibuprofen atau lainnya, maka bisa menandakan hal yang lebih serius.

Beberapa komplikasi yang mungkin terjadi dengan gejala nyeri berat ini adalah Ovarian Hyperstimulation Syndrome (OHSS), torsi ovarium, perdarahan ovarium, kehamilan ektopik, dan infeksi panggul. Hal ini tentu memerlukan diagnosis lebih dalam oleh Dokter.

3. Suhu Basal Tubuh

3 Suhu Basal Tubuh.jpg

Foto: parents.com

Dikutip dari pregnancy-baby-care.com, suhu basal tubuh mengacu pada suhu istirahat tubuh wanita yang biasanya diambil sesaat setelah bangun tidur dan sebelum beranjak dari tempat tidur.

Moms yang rutin memeriksa suhu basal tubuh untuk mengecek ovulasi, akan melihat adanya perubahan setelah transfer embrio pada IVF atau implantasi. Perubahan ini merupakan hal yang normal dan juga akan terjadi pada implantasi kehamilan alami.

Itulah beberapa gejala yang mungkin timbul usai transfer embrio pada IVF. Jika Moms mengalami gejala yang mengkhawatirkan, maka ada baiknya segera berkonsultasi dengan Dokter.

Artikel Terkait