2-3 TAHUN
18 Maret 2019

3 Hal yang Menjadi Risiko Anak Alami Stunting

Masalah stunting tak dapat dianggap sepele karena menimbulkan risiko yang besar.
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Intan
Disunting oleh Intan


Tak ada orangtua yang ingin anaknya terganggu pertumbuhan dan perkembangannya.

Namun, gangguan dapat terjadi jika tidak ada pencegahan sejak dini. Masalah yang rentan terjadi pada anak adalah stunting.

Stunting membuat anak menjadi perawakan pendek, yang terjadi karena kurangnya nutrisi dalam jangka panjang, sering terkena infeksi, dan kurangnya stimulasi psikososial.

Sebenarnya tidak hanya postur tubuh yang tidak optimal, anak yang stunting dapat mengalami risiko-risiko yang berdampak bagi pertumbuhan dan perkembangannya di kemudian hari.

Hal ini diungkapkan oleh dr. Caessar Pronocitro, dokter spesialis anak di RS Pondok Indah Bintaro Jaya.

Anak yang stunting punya risiko mengalami gangguan kesehatan lain dan juga berdampak bagi kesehatannya.

Lebih lengkapnya, ini penjelasan tentang risiko anak yang alami stunting.

Baca Juga : Cegah Stunting Pada Anak dengan Menu MPASI Ini

1. Rentan Alami Gangguan Kesehatan

3 hal yang menjadi risiko anak alami stunting 2
Foto: sciencenewsforstudent

Penyebab utama stunting adalah kurangnya nutrisi sejak masih dalam kandungan.

Jadi, tak heran jika stunting berisiko menyebabkan anak rentan terinfeksi penyakit di masa yang akan datang dibandingkan anak yang tidak stunting.

Beberapa penyakit yang berisiko dialami anak stunting adalah penyakit kronis seperti diabetes, penyakit jantung, hipertensi, obesitas saat usianya dewasa.

Bahkan peningkatan risiko kematian juga dapat terjadi. Selain itu, anak yang stunting berisiko menurunkan kesehatan reproduksi.

Hal ini akhirnya akan berdampak pada peningkatan biaya kesehatan karena seringnya anak terinfeksi berbagai jenis penyakit.

2. Berdampak pada Kecerdasan

3 hal yang menjadi risiko anak alami stunting 3
Foto: thought.co

“Anak yang stunting juga berpengaruh pada kemampuan kognitif, verbal, dan motorik yang tidak optimal," ungkap dr. Caessar pada Kulwap Orami Community pada Kamis (7/2)..

Menurut dr. Caessar hal tersebut mampu menurunkan kecerdasan anak dan anak stunting akan memiliki IQ yang lebih rendah dibandingkan anak seusianya.

Tak dapat dipungkiri, anak yang stunting dapat alami kesulitan belajar, performa yang tidak optimal selama masa pembelajaran di sekolah, mudah merasa lelah dan kurang lincah.

Setiap efek yang dialami anak stunting tidak dapat diperbaiki atau akan menetap saat usia anak lebih dari 2 tahun.

Untuk itu, pencegahan stunting sebelum anak berusia 2 tahun sangat penting dilakukan.

3. Tingkat Produktivitas Rendah

3 hal yang menjadi risiko anak alami stunting 4
Foto: welldoing

Tak hanya gangguan kesehatan dan kemampuan kognitif anak yang dapat terganggu karena stunting.

Ternyata, dampak dari gangguan kesehatan ini bisa dialami anak setelah tumbuh dewasa bahkan hingga lanjut usia.

Risiko yang mengintai anak stunting setelah dewasa adalah produktivitas dan kapasitas kerja yang tidak optimal.

Bahkan, anak yang stunting kelak akan memiliki pendapatan 22% lebih kecil saat dewasa dibandingkan yang tidak stunting.

Negara yang memiliki populasi stunting besar mengalami penurunan pendapatan bruto nasional hingga 16%.

Indonesia masuk ke dalam 5 negara dengan populasi stunting terbanyak di dunia, selain India, Nigeria, Pakistan, dan Republik Rakyat Tionghoa.

Dapat dikatakan ada sekitar 7,5 juta anak stunting di Indonesia atau 36% dari seluruh populasi anak.

Baca Juga : Anak Kena Stunting atau Pendek karena Gizi Buruk Picu Penyakit Degeneratif Saat Dewasa

Masalah stunting tak bisa dianggap sepele, untuk itu penting untuk memenuhi asupan gizi anak dimulai dari masih dalam kandungan.

Selain itu, Moms wajib memantau perkembangan anak lewat tabel perkembangan bayi dan anak yang bisa diperoleh di berbagai situs ataupun buku kesehatan.

Cegah stunting sejak dini, demi masa depan anak yang lebih baik.

(DG)

Artikel Terkait