KESEHATAN
10 Maret 2020

3 Jenis Obat Keputihan Berdasarkan Penyebabnya

Tuntaskan keputihan dengan obat yang tepat ya, Moms.
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Irene Anindyaputri
Disunting oleh Orami

Sebetulnya keputihan belum tentu menandakan penyakit, Moms. Selama keputihan yang dialami warnanya bening atau agak putih, tidak berbau, dan teksturnya tidak terlalu kental, Moms tidak usah khawatir dan tidak perlu menggunakan obat keputihan.

Cairan vagina memang normal keluar di masa-masa tertentu, misalnya pada saat ovulasi.

Lalu bagaimana jika keputihan berbau, warnanya kekuningan atau kehijauan, dan teksturnya sangat kental sampai menjadi gumpalan? Nah, bisa jadi Moms sedang mengalami infeksi vagina.

Untuk mempercepat penyembuhan, sebaiknya Moms memilih obat keputihan yang tepat berdasarkan penyebab infeksinya.

Yuk, cari tahu berbagai penyebab infeksi vagina dan apa obat keputihan yang tepat untuk kondisi Moms dalam ulasan ini.

Baca Juga: Apa Penyebab Darah Haid Hitam?

Mengenal Penyebab Keputihan

cara mengatasi keputihan hero banner magz (1510x849)

Menurut situs kesehatan asal Amerika Serikat WebMD, keputihan yang tidak normal ditandai dengan gejala seperti sakit ketika buang air kecil atau berhubungan seks, vagina terasa gatal, serta keluarnya cairan vagina berbau tak sedap, kental, dan berwarna pink, cokelat, kuning, atau kehijauan.

Keputihan tidak normal bisa disebabkan oleh infeksi jamur, infeksi virus, atau infeksi bakteri.

Jamur, virus, dan bakteri penyebab infeksi sendiri bisa ditularkan lewat hubungan seks yang tidak aman atau terjadi akibat kurangnya menjaga kebersihan area intim Moms terutama saat menstruasi.

Baca Juga: Kenali Berbagai Penyebab Siklus Haid Tidak Teratur

Di samping itu, penggunaan obat-obatan, alat kontrasepsi, atau produk kewanitaan tertentu juga dapat memicu pertumbuhan jamur atau bakteri penyebab keputihan.

Sebaiknya langsung periksakan ke dokter untuk memastikan apa penyebab keputihan yang Moms alami.

Obat Keputihan Berdasarkan Penyebabnya

keputihan4.jpg

Jangan salah memilih obat keputihan karena khasiatnya tentu jadi tidak maksimal. Obat keputihan dibedakan dari penyebab keputihannya, yaitu infeksi jamur, virus, atau bakteri.

Bila Moms mengalami infeksi jamur, Moms harus menggunakan obat keputihan antijamur.

Dilansir dari WebMD, kebanyakan obat keputihan antijamur tersedia dalam bentuk gel atau krim yang harus dioleskan langsung ke area bibir vagina yang terinfeksi.

Menurut British Medical Journal (The BMJ), jenis obat keputihan antijamur yang biasanya diresepkan oleh dokter meliputi butoconazole, miconazole, dan clindamycin. Berapa lama Moms harus menggunakan obat keputihan ini tergantung dari kondisi setiap orang.

Rata-rata, obat keputihan antijamur harus digunakan secara rutin selama tiga hari. Namun, selalu ikuti anjuran dokter dalam penggunaan obat apa pun.

Baca Juga: Pilihan Obat Vertigo yang Manjur

Nah, jika Moms mengalami infeksi bakteri, kemungkinan besar dokter akan meresepkan obat keputihan antibiotik.

Umumnya, antibiotik diberikan dalam bentuk tablet minum yang harus dikonsumsi selama kurang lebih 7 hari.

Antibiotik yang bisa diberikan untuk mengobati keputihan akibat infeksi bakteri antara lain metronidazole dan tinidazole.

Patuhi saran dokter dalam menggunakan antibiotik untuk keputihan. Termasuk apakah obatnya harus dihabiskan, berapa lama jeda waktu minum obatnya, dosis, serta efek samping yang mungkin muncul.

Terakhir, bila Moms mengalami keputihan akibat infeksi virus seperti herpes simplex (juga dikenal sebagai herpes genital), Mom akan dianjurkan untuk menggunakan obat antivirus.

Obat antivirus yang sering diresepkan dokter untuk mengobati herpes genital yaitu acyclovir, valacyclovir, dan famciclovir.

Jangan lupa, konsultasikan dulu dengan dokter sebelum Moms mengonsumsi antivirus ini untuk mengobati keputihan yang tidak normal.

(IA/ERW)

Artikel Terkait