DI ATAS 5 TAHUN
29 April 2019

3 Masalah Pencernaan Anak

Ketahui penyebab dan cara mengatasinya
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Amelia Puteri
Disunting oleh Amelia Puteri

Tidak ada orang tua yang ingin melihat anaknya sakit. Karenanya, penting bagi Moms untuk cekatan dalam melihat gejala-gejala Si Kecil akan sakit. Salah satunya adalah gangguan pencernaan.

Gangguan pencernaan pada bayi menjadi risiko yang secepatnya harus ditangani, karena hal ini dapat memengaruhi pola makannya yang kemudian berdampak pada penurunan berat badan, akibat masalah pencernaan yang sedang diderita Si Kecil.

Karenanya, kenali masalah pencernaan pada anak dengan mencari tahu penyebabnya dan bagaimana cara mengatasinya. Berikut ini penjelasannya, menurut Dr. Badriul Hegar, PhD, SpA(K), Bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUI - RSCM, dari situs resmi Ikatan Dokter Anak Indonesia.

Baca Juga: Anak Jarang Mendapat Sinar Matahari, Apakah Berpengaruh Pada Pertumbuhan Giginya?

1. Regurgitasi (Gumoh)

cerna1

Foto:imperfectpenelopy.com

Hal ini sebenarnya merupakan keadaan fisiologis (normal) pada bayi, sekitar 60 persen bayi berusia 4 bulan mengalami regurgitasi minimal 1 kali per hari dan kejadian ini akan berkurang sejalan dengan bertambahnya usia.

Penyebabnya bisa dikarenakan oleh belum matangnya sistem saluran cerna terutama sfingter esofagus bawah (pintu antara kerongkongan dengan lambung).

Penting bagi Moms untuk memahami bahwa keadaan ini normal pada bayi dan tidak perlu dikhawatirkan selama pertumbuhan dan perkembangan normal serta tidak ada gangguan makan seperti rewel atau menolak makan.

Jika terjadi gumoh, tindakan yang dapat Moms lakukan adalah memberikan posisi 60 derajat antara alas tempat tidur dengan pinggang saat bayi telentang.

Pertahankan keadaan tersebut selama 1,5-2 jam. Moms juga tidak perlu menghentikan asupan ASI bila Si Kecil mengalami gumoh.

2. Diare

cerna2

Foto: thebump.com

Diare juga bisa terjadi pada bayi, penyebab umumnya bisa karena infeksi, Rotavirus, dan sebagian kecil oleh bakteri, serta penyebab lainnya. Seorang anak di bawah usia 3 tahun umumnya dapat mengalami episode diare sampai 2-3 kali setiap tahun.

Saat anak mengalami diare, ia akan kehilangan banyak cairan dan elektrolit. Karenanya, cara penanganan bila anak mengalami diare perlu mengganti kehilangan cairan dan elektrolit selama diare.

Karena diare umumnya disebabkan oleh infeksi, penting bagi Moms untuk menjaga kebersihan, membiasakan pola hidup sehat, dan menjaga daya tahan tubuh Si Kecil.

Jika diare pada anak disebabkan oleh Rotavirus, maka antibiotik tidak menjadi pertimbangan pertama dalam pengobatan diare. Moms perlu berkonsultasi dengan dokter untuk penanganan lebih lanjut.

Baca Juga: Bisa Berbahaya, Ini Dampak Kesehatan Anak Memakai Sepatu Kekecilan

3. Konstipasi (Sembelit)

cerna23

Foto: sittercity.com

Konstipasi adalah berkurangnya frekuensi buang air besar dengan tinja yang keras dibanding biasanya. Sebelum mengatakan seorang anak mengalami konstipasi, Moms harus memahami seberapa sering Si Kecil buang air berdasarkan usianya.

Pada anak di atas usia 6 bulan, frekuensi 2 hari sekali masih dianggap normal, selama konsistensi tinja tetap lunak.

Banyak faktor yang dapat memengaruhi konsistensi tinja. Seperti komposisi kalsium dan fosfor, perbandingan protein whey dan casein, kandungan karbohidrat, dan lemak dalam makanan dapat mempengaruhi konsistensi tinja.

Jadi, itu dia tiga masalah pencernaan pada anak yang perlu menjadi perhatian Moms. Namun, tetap ingat untuk berkonsultasi dengan dokter jika gejala yang dimiliki Si Kecil cukup mengkhawatirkan.

(AP/AND) 

Artikel Terkait