DI ATAS 5 TAHUN
8 Desember 2017

4 Dampak Perceraian Pada Anak, Salah Satunya Gangguan Mental

Sebelum berpisah, pikir baik-baik dampak terburuk ini pada buah hati tersayang
Artikel ditulis oleh -
Disunting oleh -

Tidak ada seorang anak pun yang ingin menjadi bagian dari perceraian orang tua. Hal ini menjadi pilihan terakhir bila masalah antara Moms dan Dads benar-benar tidak bisa diselesaikan. Jika sudah begini, yang menjadi korban adalah anak.

Anak pastinya menginginkan kehidupan keluarga yang harmonis, orang tua lengkap, saling menyayangi, selalu ada dan mendukungnya. Tapi kalau sudah ada perceraian, sadar tidak sadar, anak akan berubah secara psikologis.

Dampak Perceraian Orang Tua Pada Anak

Penelitian yang dilakukan profesor dari University of Montreal, Jennifer O'Loughlin, menunjukkan bahwa anak-anak remaja yang menghadapi perceraian orang tua biasanya mengalami gejala gangguan kesehatan mental jangka pendek, seperti stres, cemas, dan depresi.

Tentu saja gangguan tersebut tidak boleh dibiarkan, Moms. Menurut O'Loughlin, anak-anak membutuhkan dukungan untuk mencegah peningkatan depresi dan gangguan kesehatan mental lain.

"Salah satu yang kita ketahui tentang perceraian adalah bahwa hal itu mengganggu perkembangan normal dalam kehidupan anak-anak," ujar Profesor Family Social Science di University of Minnesota, Steven Harris.

Apa Saja yang Menjadi Dampak Perceraian Orang Tua?

Kehidupan Sosial

Seperti yang sudah disebutkan di atas, hal yang sangat normal terjadi dengan adanya perceraian orang tua adalah menganggu perkembangan kehidupan sosial anak. Misalnya, si kecil menjadi tidak fokus dengan sekolah atau hubungan sosial dengan teman-temannya.

Kurang Akrab dengan Orang Tua

Dilansir dari Alodokter, sebagian anak mungkin akan merasa tidak akrab dengan orang tua ketika mereka sudah dewasa.

Dalam penelitian menunjukkan bahwa anak yang orang tuanya bercerai pada saat berusia 5 tahun atau lebih kecil, memiliki perasaan tidak nyaman bersama orang tuanya lebih besar dibandingkan anak yang orang tuanya bercerai setelah ia berumur 5 tahun.

Labil

Sebagaimana dilansir Boldsky, penelitian yang dilakukan terhadap 100.000 remaja, menunjukkan perceraian orang tua bisa membuat psikologi atau mental anak perempuan labil. Anak perempuan merasa trauma dan takut ketika akan menjalin hubungan serius.

Namun yang pasti, si kecil yang menghadapi orang tua bercerai akan merasakan kaget, sedih, cemas, marah, atau bingung pada saat yang bersamaan. Si kecil mungkin juga akan lebih mengalami masalah dalam bersosialisasi karena ia akan merasa rendah diri dan merasa iri pada anak lain yang memiliki keluarga yang utuh. Walau sebagian anak tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik karena berhasil melewati masa stress dengan kuat.

Pemalu

Selain itu, sifat pemalu juga jadi akibat berikutnya. Beberapa faktor yang menjadi penyebab anak tertutup adalah hubungan dengan orang tua yang kurang harmonis, minimnya komunikasi dengan keluarga, dan hubungan yang tidak baik dengan keluarga.

Bagaimana Agar Si Kecil Tetap percaya Diri di Tengah Perceraian?

Meski sudah berpisah, Moms harus tetap berkonsentrasi tentang bagaimana cara mendidik dan membesarkan si kecil. Berikut beberapa caranya:

Komunikasi yang Aktif

Sesibuk apapun Moms, sebagai orang tua harus tetap meluangkan waktu untuk anak. Jangan sampai ia merasa kesepian seperti tidak punya teman. Ajak ngobrol anak dengan topik seputar kegiatannya di sekolah.

Terlihat Bahagia

Meski Moms sudah bercerai dengan suami, jangan memperlihatkan bagaimana kegelisahan dan kesedihan Moms dihadapan anak. Cukup hanya Moms yang merasakan.

Ada baiknya dipikirkan kembali soal perceraian. Jangan memaksakan ego, sampai melukai anak, ya Moms.

(ICA)

Artikel Terkait