PARENTING
19 September 2019

4 Hal Penting untuk Bertahan Menghadapi Depresi Pascapersalinan

Pernah tanpa sebab yang jelas, saya tidak ingin mendengar tangisan anak sendiri, dan pergi dari rumah tanpa memedulikan mereka
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Amelia Puteri
Disunting oleh Andra Nur Oktaviani

Oleh Indah Kusuma (30 th), Ibu dari Puan Pelangi Pemberani (34 bln), dan Bulan Biru Bijaksana (11 bln), Member WAG Orami Working Moms (2).

Memiliki anak adalah anugerah bagi saya. Bayangan-bayangan tentang kehamilan, menggendong Si Kecil, berbelanja kebutuhan bayi, menyusui, selalu terbesit indah ketika mengetahui kalau saya hamil.

Air mata haru di antara pelukan saya dan suami mengalir begitu saja.

Tapi siapa sangka? Kehamilan yang dialami pertama, kedua, dan ketiga (kehamilan kedua saya keguguran), ternyata menyisakan rasa traumatis karena prosesnya tidak berjalan semudah yang saya bayangkan.

Mulai dari harus menjalani operasi karena permasalahan serviks, hiperemesis gravidarum selama kehamilan sampai menjelang persalinan, dan proses melahirkan yang memakan waktu cukup lama serta menyakitkan.

Baca Juga: Begini Cara Saya Menghadapi Masa-masa Terrible Two Si Kecil

Sempat Merasa Tidak Ingin Mendengar Tangisan Anak

Indah Kusuma-1.jpg

Singkat cerita, setelah kelahiran anak kedua, saya tiba-tiba menjadi pribadi yang pemurung, sering menangis, dan hampir setiap hari meluapkan kemarahan, entah kepada anak pertama, kedua, maupun suami.

Awalnya, saya kira itu hanya baby blues, namun setelah hal itu berlangsung lebih dari dua bulan, saya merasa ada yang salah.

Terutama ketika suatu hari tanpa sebab yang jelas, saya merasa tidak ingin lagi mendengar tangisan anak sendiri, dan kemudian pergi dari rumah tanpa memedulikan kedua anak saya.

Beruntung saya punya suami yang baik dan penyabar. saat itu suami dengan sigap menjalankan perannya sebagai ayah sekaligus ibu, untuk menggantikan saya yang tidak mau mengurus anak anak.

Suami memberikan saya waktu untuk me-time, dan mengajak saya berbicara dari hati ke hati, sampai akhirnya kami memutuskan untuk mencari bantuan kepada para ahli, dan didiagnosa mengalami postpartum depression (PPD).

Hal yang Bisa Membantu Melalui Masa Postpartum Depression

Hingga hari ini, saya bersyukur Allah memberikan saya kekuatan untuk berjuang dan bertahan menghadapi PPD hingga saya perlahan membaik.

Saya ingin membagikan beberapa hal yang mungkin dapat membantu Moms di luar sana yang mengalami kejadian serupa, entah disadari atau tidak.

Berdasarkan dari apa yang saya alami, mungkin ada 4 hal penting yang sangat membantu saya memulihkan diri dari PPD.

1. Dukungan Keluarga dan Suami

Indah Kusuma-2.jpg

Saya mungkin akan terus mengulang kalimat "saya beruntung memiliki suami yang baik dan penyabar", di saat orang lain mungkin mengutuki saya dengan ucapan "dasar tidak bersyukur", atau memberikan stigma negatif karena tidak mau mengurus anak.

Namun, suami saya selalu ada. Ia selalu siap dengan pelukannya, selalu bersedia meluangkan waktunya meski di tengah kesibukan pekerjaannya yang padat.

Ia tetap mendampingi saya di saat terendah dalam hidup saya. Suami juga yang menemani saya untuk datang ke psikolog, psikiater, bahkan datang ke salah satu seminar dari Orami yang mengupas tentang post partum blues.

Baca Juga: Dukungan Suami saat Hamil, Cara Paling Ampuh untuk Jaga Kesehatan Ibu dan Janin

2. Buang Beban yang Tidak Perlu

Bayangkan kita sedang mendaki gunung yang terjal, sembari membawa ransel yang sangat berat. Tentu perjalanan kita terasa tidak mudah.

Coba sesekali buka ransel itu, cek kembali isinya, kalau ternyata di dalam ransel ada bebatuan, pasir, besi, atau barang lain yang tidak perlu, keluarkan. Kurang lebih, seperti itu gambaran saya saat menghadapi PPD.

Mulai dari memikirkan ASI anak kedua, masak untuk anak pertama, pekerjaan yang saya tinggalkan di kantor, bagaimana hubungan saya dengan suami, memastikan rumah rapi, sampai memikirkan bagaimana supaya badan melar cepat langsing lagi.

Semua hal ini terlalu dipikirkan sampai akhirnya banyak stressor yang tidak perlu.

Dengan menggunakan analogi beban di ransel tadi, saya dapat mengurangi beban pikiran satu per satu, saya ikhlaskan urusan sekunder kepada asisten rumah tangga, saya ikhlaskan produksi ASI yang tidak begitu melimpah sesuai target, dan tidak mempermasalahkan perkara diet.

3. Cari Support System yang Baik dan Berbagilah

Indah Kusuma-3.jpg

Selain ikut dalam beberapa komunitas tumbuh kembang anak dan parenting, saya juga berusaha mencari supporting group PPD yang masih sangat jarang saya temui di Indonesia. Grup tersebut bernama “Motherhope Indonesia”.

Motherhope Indonesia merupakan supporting group untuk para ibu yang mengalami hal serupa dengan saya, yaitu postpartum depresion.

Mereka menjadi lingkaran pertemanan yang bisa menguatkan saya. Saya jadi lebih membuka diri, membuka pikiran bahwa banyak yang juga mengalami serupa.

Saya juga belajar berbagi pengalaman, yang membuat kami saling menguatkan tanpa menghakimi, dan saling membantu tanpa menambah beban satu sama lain.

Saya merasakan betul bahwa berbagi itu menyembuhkan. Sharing is healing. Sejak saat itu, saya berusaha sebisa mungkin berbagi cerita, kegiatan ini tidak hanya menjadi media terapi penyembuhan, tetapi saya berharap para pendengar cerita dapat memetik pelajaran dari apa yang saya alami.

Baca Juga: 4 Resep Anti-mati Gaya jadi Ibu Rumah Tangga

4. Jangan Pernah Takut untuk Mencari Bantuan

Saya mengetahui dari artikel dan diskusi dengan teman-teman bahwa 1 dari 7 ibu mengalami depresi pasca persalinan.

Ini sesuai dengan penelitian oleh Michael W O’Hara dalam Journal of Clinical Psychology tahun 2009, berjudul "Postparum Depression".

Apa yang kita ketahui, bahwa 7,1 persen perempuan memiliki kemungkinan depresi berat dalam 3 bulan pertama setelah melahirkan. Sebesar 19,2 persen kemungkinan mengalami depresi ringan.

Di Indonesia, salah satu yang saya baca adalah penelitian Sri Idaiani dan Bastaman Basuki, yaitu "Postpartum Depression in Indonesian Women: A National Study" tahun 2012.

Penelitian ini mengungkapkan bahwa dari 18.937 responden, 2,32 persen mengalami depresi pasca melahirkan.

Beberapa penelitian ini menunjukkan bahwa, kondisi ini nyata, dan benar terjadi.

Sayangnya, kebanyakan ibu awalnya tidak paham dan menyadari apa yang sebenarnya sedang mereka alami. Mereka juga terlambat ditangani sehingga muncul berbagai kasus.

Seperti ibu yang tega mengubur bayinya hidup-hidup di Purwakarta maret 2019 kemarin, atau mencoba bunuh diri bersama bayinya.

Mereka seringkali juga enggan mencari bantuan ahli, karena takut akan stigma negatif yang melekat dari lingkungan sekitar.

Dampaknya, kondisi ini ibarat bom waktu, karena depresi yang terpendam suatu saat akan meledak dan tentunya berdampak negatif baik bagi ibu maupun bayi.

Maka dari itu, please, jika Moms sudah merasakan gejala depresi umum (mudah marah, mudah lelah dan menangis tanpa alasan, gelisah, sulit tidur, kondisi emosional berubah-ubah) hingga gejala spesifik (tidak tertarik pada bayi, tidak nyaman bila ditinggal berdua dengan bayi, menolak bayi, timbul keinginan menyakiti diri dan bayi), jangan pernah malu atau takut untuk segera mencari bantuan profesional.

Semakin cepat, maka semakin baik, dan hal ini tentunya untuk kebaikan Moms juga.

Ibu yang bahagia, adalah kunci kebahagiaan keluarga. Tapi sebelum bisa membahagiakan bayi dan keluarga secara utuh, Moms berhak membahagiakan diri sendiri terlebih dahulu.

Artikel Terkait