KESEHATAN
16 Januari 2019

4 Mitos dan Fakta Seputar Vaksin MR/MMR

Vaksin MR/MMR tidak terbukti menyebabkan autisme
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Andra Nur Oktaviani
Disunting oleh Andra Nur Oktaviani

Banyak ibu yang ragu untuk memberikan vaksin MR/MMR kepada anak-anak mereka. Banyaknya mitos seputar vaksin tersebut yang menjadi penyebabnya.

Sebelum Moms semakin ragu, tidak ada salahnya jika kita mencari tahu kebenaran dari mitos-mitos seputar vaksin MR/MMR yang beredar di masyarakat.

Dr Soedjatmiko, Sekretaris Satgas Imunisasi Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (PP IDAI), punya penjelasannya untuk Moms.

Baca Juga : Yuk Ketahui Beda Vaksin MR dan MMR

Mitos: Vaksin MR/MMR mengandung babi

Fakta: Benar. Pada Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Nomor 33 tahun 2018 tentang penggunaan vaksin MR (Measles Rubella) dari produk SII (Serum Institute India) untuk imunisasi, dijelaskan bahwa vaksin MR produk dari SII dalam proses produksinya menggunakan bahan yang berasal dari babi.

Sementara itu, vaksin MMR-II, salah satu vaksin MMR yang beredar di Indonesia diproduksi oleh PT MSD, melalui uji laboratorium Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-Obatan, dan Kosmetika (LPPOM) MUI, tidak terbukti mengandung unsur babi. MUI telah mengeluarkan sertifikat analisis Nomor ASI7/LAB/LPPOM MUI/XII/2018 untuk produk vaksin MMR keluaran PT MSD. Pada sertifikat tersebut dijelaskan bahwa parameter DNA porcine (unsur babi) tidak ditemukan dalam vaksin tersebut.

Mitos: Vaksin MR/MMR tidak halal

Fakta: Betul. Karena pada proses produksinya menggunakan bahan yang berasal dari babi, melalui Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Nomor 33 tahun 2018, MUI menetapkan bahwa penggunaan vaksin MR produksi SII hukumnya haram.

Namun, bersadarkan fatwa yang sama, MUI juga menyampaikan bahwa untuk saat ini, penggunaan Vaksin MR produk dari SII, pada saat ini, dibolehkan (mubah) karena ada kondisi keterpaksaan (darurat syar'iyyah), belum ditemukan vaksin MR yang halal dan suci, dan ada keterangan dari ahli yang kompeten dan dipercaya tentang bahaya yang ditimbulkan akibat tidak diimunisasi dan belum adanya vaksin yang halal.

Baca Juga : Si Kecil Mau Disuntik Vaksin? Cek Dulu 5 Tips Berikut Ini!

Mitos: Vaksin MR/MMR menyebabkan autisme

Fakta: Salah. Vaksin MMR tidak terbukti mengakibatkan autisme. Isu itu disebarkan oleh penelitian dr Wakefield, dokter spesialis bedah di Inggris dgn subjek hanya 12 anak pada 1998.

Penelitian-penelitian yang dilakukan oleh pakar lain di berbagai negara menyimpulkan autisme bukan disebabkan oleh MMR. Banyak anak dengan autisme yang belum pernah diimunisasi MMR.

Karena hasil penelitian dr Wakefield bertolak belakang dengan penelitian pakar-pakar lain, maka Ikatan Dokter Inggris mengaudit proses dan data-data penelitian dr Wakefield.

Hasilnya, ternyata lima subjek penelitian dr Wakefield sudah menderita autis sebelum divaksin MMR dan lima subjek lain bukan mengalami autisme. Sehingga disimpulkan dr Wakefield memalsukan data subjeknya.

Pada 2011 izin praktik dr Wakefield dicabut a karena memalsukan data subjek penelitianya sehingga kesimpulannya berbeda dengan kenyataan.

Hingga saat ini, semua hasil penelitian pakar-pakar menyimpulkan bahwa autisme bukan disebabkan oleh vaksin MMR.

Mitos: Anak yang tidak diimunisasi lebih sehat

Fakta: Salah. Ketika terjadi wabah polio, campak, dan difteri di Indonesia, anak yang imunisasinya belum lengkap atau belum pernah imunisasi jauh lebih banyak yang sakit berat, cacat, atau meninggal.

Sedangkan bayi/anak yang imunisasi lengkap dan teratur, jumlahnya sedikit sekali yang sakit berat, cacat, atau meninggal. Demikian juga kenyataan ketika ada wabah di negara-negara lain.

Artinya imunisasi yang lengkap dan teratur dapat melindungi bayi/anak dari sakit berat, cacat, dan kematian akibat penyakit-penyakit tersebut.

Nah, apakah keraguan Moms untuk memberikan vaksin kepada Si Kecil jadi terjawab? Jika masih belum yakin, segera konsultasikan dengan dokter anak ya Moms.

(AND)

Artikel Terkait