2-3 TAHUN
25 Oktober 2017

5 Cara Mencegah Balita Menjadi Pelaku Bullying

Kalau kecilnya saja sudah terbiasa menjadi bully, tidak terbayang seperti apa nantinya mereka setelah dewasa.
Artikel ditulis oleh (fitria.rahmadianti)
Disunting oleh (fitria.rahmadianti)

Prihatin dan miris rasanya melihat berita kasus bullying di kalangan pelajar. Bukan hanya di Indonesia saja, hampir seluruh negara di dunia ternyata juga kesulitan menghadapi kasus bullying yang semakin marak.

Selain di kalangan pelajar, riset yang dilakukan oleh University of New Hampshire mengatakan bahwa 20.4% balita berumur 2-5 tahun mengalami bullying, dan 2% di antaranya merupakan pelaku bullying.

Baca juga: Bagaimana Membantu Anak Menghadapi Bullying?

Waduh, mengkhawatirkan sekali, ya? Kalau kecilnya saja sudah terbiasa menjadi bully, tidak terbayang seperti apa nantinya mereka setelah dewasa.

Sebenarnya, mencegah anak untuk menjadi pelaku bullying sudah bisa dilakukan sejak mereka berusia balita, seperti dengan cara berikut ini:

  1. Pahami Dulu Perilaku Bullying

5 cara mencegah balita menjadi pelaku bullying 1

Foto: media3.s-nbcnews.com

Sebelum Mama berusaha mencegah si kecil menjadi pelaku bullying, sebaiknya pahami dulu apa saja tanda dan perilaku bullying. Tanda yang mudah terlihat adalah balita bersifat agresif, selalu mencari perhatian, impulsif, dan kurang rasa empati. Mereka juga biasanya enggan menghormati orang lain, bahkan suka mengejek atau menghina kekurangan yang dimiliki orang lain.

Bila Mama melihat si kecil memiliki tanda seperti itu, terus awasi dan langsung berikan pengertian saat ia melakukan bullying. Tegaskan padanya, bahwa hal itu tidak baik, merugikan orang lain, dan sama sekali tidak membawa manfaat.

  1. Ajarkan Empati dan Rasa Hormat

5 cara mencegah balita menjadi pelaku bullying 2

Foto: i.huffpost.com

Ya, pelaku bullying biasanya memang memiliki tingkat empati dan rasa hormat yang rendah. Mereka tidak bisa menghormati perasaan orang lain atau merasakan empati dan rasa kasihan pada orang lain. Salah satu penyebab utamanya adalah karena orang tuanya tidak mengajarkan cara menghormati dan memberikan kasih sayang pada orang lain.

Karena itu, sebaiknya mulai ajarkan empati dan rasa hormat pada si kecil sejak dini. Mama bisa mulai dengan mengajarkan rasa sayang dan menghormati anggota keluarga yang lain. Ajarkan padanya cara berbicara dengan lembut, bermain dan berteman yang baik, hingga berbagi mainan bersama.

  1. Kembangkan Skill Sosial & Emosional

5 cara mencegah balita menjadi pelaku bullying 3

Foto: blog.neurogistics.com

Selain empati dan rasa hormat, menumbuhkan skill sosial dan emosional balita sangat penting untuk membantu si kecil menghadapi situasi sulit. Mengenali perasaan dan cara mengekspresikannya secara sehat akan membantu si kecil bersikap lebih tenang serta bisa membuat keputusan yang tepat.

Untuk mengembangkan skill sosial dan emosionalnya, Mama bisa manfaatkan buku cerita atau program dari PAUD yang diikutinya. Perkembangan skill sosial dan emosional yang baik sejak balita akan membuat si kecil lebih mudah mengendalikan perasaannya saat berinteraksi dengan orang lain.

  1. Berikan Hukuman Berupa Pelajaran

5 cara mencegah balita menjadi pelaku bullying 4

Foto: i1.wp.com

Meskipun Mama sudah memberikan berbagai macam pelajaran tentang empati dan rasa hormat, ada kemungkinan si kecil akan tetap melakukan perilaku bullying. Saat ini terjadi, Mama harus bertindak tegas dan langsung berikan hukuman.

Tapi ingat, ya, Ma, hukuman bukanlah sesuatu yang bersifat kekerasan fisik, tapi berupa pelajaran yang bermanfaat. Contohnya, saat ia memukul temannya, Mama bisa mengarahkannya untuk meminta maaf dan berjanji untuk tidak melakukannya lagi. Dengan begitu, perlahan balita akan menyadari bahwa perilaku bullying tidak bisa ditolerir sama sekali.

  1. Jaga Selalu Komunikasi

5 cara mencegah balita menjadi pelaku bullying 5

Foto: http://1.bp.blogspot.com

Komunikasi yang lancar antara balita dan orang tua bisa sangat mengurangi risiko si kecil menjadi pelaku bullying. Jalinan komunikasi yang baik akan memberikan si kecil cukup ruang untuk mengekspresikan perasaan dan emosinya, mengutarakan pendapatnya, serta menyampaikan ketidaksetujuannya. Dengan begitu, tak akan ada lagi perasaan terpendam yang berisiko diluapkan pada teman sebaya.

Selalu berikan ia perhatian saat sedang bermain dan belajar, sering mengajak berbicara dan bertanya, serta selalu dengarkan apa yang ia katakan. Jangan lupa jaga komunikasi Mama dengan guru dan teman sekolah, agar Mama bisa langsung bertindak jika si kecil berperilaku di luar kebiasaan.

Percaya, deh, Ma, perhatian dan kasih sayang adalah cara sederhana tapi efektif untuk meminimalisasi kemungkinan si kecil untuk menjadi pelaku bullying. Apa Mama punya cara lain untuk mencegah balita melakukan bullying?

(WA)

Artikel Terkait