2-3 TAHUN
30 Juni 2020

5 Fakta Hidrosefalus Pada Anak, Penting untuk Moms Ketahui!

Bagaimana peluang hidup penderita hidrosefalus?
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Wina Andria
Disunting oleh Dina Vionetta

Kasus hidrosefalus pada anak cukup sering ditemui, tapi informasi yang kurang memadai membuat sebagian orang tua masih salah kaprah dengan kondisi tersebut.

Sebelum membahas lebih lanjut, kita lihat dulu definisi hidrosefalus ya, Moms.

Menurut American Association of Neurological Surgeon, hidrosefalus adalah kondisi terjadinya penumpukan cairan cerebrospina (CSF) berlebih di dalam ventrikel otak.

Fakta Hidrosefalus pada Anak

Cairan berlebih yang seharusnya diserap ke pembuluh darah membuat ventrikel otak membesar, dan tekanannya bisa menyebabkan kerusakan jaringan halus otak serta gangguan pada berbagai fungsi otak.

Supaya lebih jelas, silakan simak dulu beberapa fakta tentang hidrosefalus berikut ya, Moms.

Baca Juga: Mengenal Aneurisma Otak: Gejala, Penyebab, dan Pengobatan

1. Gejala Hidrosefalus Tidak Selalu Sama

5 Fakta Hidrosefalus Pada Anak 1.jpg

Foto: childrenscolorado.org

Menurut keterangan dari National Institute of Neurological Disorders and Stroke, gejala hidrosefalus pada anak akan berbeda tergantung pada usia, tingkat keparahan, dan kondisi tubuh.

Pada bayi, hidrosefalus biasanya ditandai dengan pembesaran lingkar kepala abnormal, dan terkadang disertai dengan gejala seperti muntah, selalu mengantuk, rewel, bola mata seperti terus melihat ke bawah, serta kejang.

Balita dan anak lebih besar memiliki tulang tengkorak yang sudah tidak bisa mengakomodasi penumpukan CSF, sehingga memicu gejala seperti:

  • Sakit kepala
  • Mual dan muntah
  • Pandangan kabur atau berganda
  • Bola mata seperti terus melihat ke bawah (sun setting)
  • Masalah keseimbangan dan koordinasi tubuh
  • Gaya berjalan abnormal
  • Sering mengompol
  • Perkembangan terlambat
  • Perubahan kepribadian atau kemampuan kognitif, termasuk hilang ingatan

2. Hidrosefalus Tidak Selalu Bawaan Lahir

5 Fakta Hidrosefalus Pada Anak 2.jpg

Foto: romper.com

Selain hidrosefalus bawaan lahir atau congenital hydrocephalus yang paling sering ditemui, ada pula hidrosefalus setelah lahir atau acquired hydrocephalus.

Seperti dikutip dari ucsfbenioffchildren.org, situs web Benioff Children’s Hospital University of California San Fransisco, hidrosefalus setelah lahir biasanya terjadi akibat cidera, tumor, atau penyakit yang mengganggu penyerapan CSF di otak.

Beberapa kondisi yang bisa menyebabkan hidrosefalus setelah lahir di antaranya adalah tumor otak, meningitis, cedera otak traumatis, atau gondongan.

Baca Juga: Yuk Kenali Apa Saja Penyebab Tumor Otak, Penyakit yang Diderita Ibu Tya Ariestya

3. Tidak Semua Hidrosefalus Sama

5 Fakta Hidrosefalus Pada Anak 3.jpg

Foto: verywellfamily.com

Selain hidrosefalus bawaan lahir dan hidrosefalus setelah lahir yang sudah dijelaskan di atas, ada dua jenis hidrosefalus pada anak lainnya, yaitu:

  • Communicating hydrocephalus: terjadi akibat aliran CSF menjadi tersumbat setelah keluar dari ventrikel, tapi masih bisa mengalir di antara saluran penghubung ventrikel yang masih terbuka.
  • Non-communicating hydrocephalus: terjadi akibat aliran CSF tersumbat di satu atau lebih saluran yang menghubungkan ventrikel.

4. Hidrosefalus Ditangani Dengan Shunt

5 Fakta Hidrosefalus Pada Anak 4.jpg

Foto: mvppediatric.com

Sampai saat ini, cara paling efektif untuk menangani hidrosefalus pada anak adalah memasukkan sistem shunt ke dalam tubuh melalui prosedur operasi.

Shunt adalah sistem untuk mengeringkan cairan dengan menggunakan selang plastik, kateter, dan katup.

Salah satu ujung kateter biasanya diletakkan di dalam ventrikel otak atau pada CSF di luar saraf tulang belakang, sedangkan ujung satunya biasanya diletakkan di rongga perut, ruang jantung, atau sekitar paru-paru yang bisa menyerap CSF.

5. Penderita Hidrosefalus Bisa Hidup Normal

5 Fakta Hidrosefalus Pada Anak 5.jpg

Foto: freepik.com

Semakin dini hidrosefalus ditangani, akan semakin besar pula kemungkinan bagi anak untuk kembali sehat dan memiliki angka harapan hidup yang normal.

Sekitar 40-50% penderita hidrosefalus juga akan memiliki kecerdasan yang normal.

Deteksi dan penanganan dini hidrosefalus pada anak akan memperkecil resiko terjadinya gangguan pada struktur dan fungsi otak, jadi orang tua perlu segera memeriksakan Si Kecil ke dokter jika terlihat gejalanya.

Menurut Moms, informasi tentang hidrosefalus apa lagi yang perlu diketahui oleh setiap orang tua?

Baca Juga: 5 Kebiasaan Ini Cocok Untuk Menenangkan Pikiran dan Relaksasi Saraf

Artikel Terkait