KESEHATAN
31 Oktober 2019

5 Faktor Risiko Penyakit Autoimun, Penyakit yang Diderita Ashanty dan Raditya Dika

Faktor lingkungan juga ternyata berpengaruh lho
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Orami
Disunting oleh Andra Nur Oktaviani

Raditya Dika dan Ashanty sempat mencuri perhatian publik. Bukanlantaran karya mereka, melainkan karena kondisi kesehatan mereka.

Dua artis ini dikabarkan mengidap penyakit autoimun. Sebenarnya, apa sih penyakit autoimun itu?

Penyakit autoimun adalah kondisi di mana sistem kekebalan tubuh secara keliru menghasilkan antibodi yang menyerang sel dan jaringannya sendiri.

Penyakit autoimun bisa terjadi pada pria maupun perempuan. Ada beberapa faktor risiko penyakit autoimun yang perlu Moms ketahui.

Apa saja faktor risiko penyakit autoimun? Berikut daftarnya!

Baca Juga: Waspadai Gejala Lupus, Penyakit Autoimun yang Sering Menyerang Wanita

1. Genetik

Benarkah Warna Kulit Bayi Baru Lahir Dipengaruhi Faktor Genetik 2.jpg

Faktor risiko penyakit autoimun yang pertama adalah genetik. Studi menunjukkan bahwa gangguan autoimun dapat diturunkan.

Jika Moms memiliki anggota keluarga yang memiliki kelainan autoimun, maka ada kemungkinan diturunkan kepada anggota keluarga berikutnya.

Penelitian genomic menunjukkan hasil ada mutasi genetik spesifik yang umum pada orang dengan penyakit autoimun.

Contohnya, kedua orang tua yang memiliki Multiple Sclerosis (penyakit autoimun yang menyerang sistem saraf pusat, terutama otak, saraf tulang belakang, dan saraf mata), maka risiko anaknya terkena penyakit yang sama meningkat 20 kali lipat.

2. Etnis

etnis - mediatracks.com.jpg

Faktor risiko penyakit autoimun yang selanjutnya adalah etnis. Etnis Afrika, Amerika, Indian Amerika, atau Latin lebih mungkin mengembangkan gangguan autoimun daripada ras Kaukasia.

Misalnya, pada diabetes tipe 1, yang lebih umum pada orang kulit putih, sedangkan penyakit lupus yang cenderung lebih banyak terjadi pada ras Afrika-Amerika.

Baca Juga: 6 Sayuran yang Bisa Mencegah Penyakit Autoimun, Bisa Jadi Pilihan!

3. Lingkungan dan Gaya Hidup

Penyebab perut buncit - merokok.jpg

Faktor risiko penyakit autoimun yang selanjutnya adalah lingkungan dan gaya hidup. Menurut penelitian dari Scripps Institute di Los Angeles, penyebab lingkungan dapat mencapai sebanyak 70 persen dari semua penyakit autoimun.

Penyebabnya, berkaitan dengan infeksi, seperti virus Epstein-Barr, paparan bahan kimia beracun, seperti asap rokok, dan faktor makanan, seperti konsumsi garam berlebihan.

Faktor-faktor tersebut dapat mengganggu fungsi normal sistem kekebalan tubuh, sehingga berpotensi menyebabkan tubuh merespons dengan memproduksi antibodi pertahanan.

Tergantung pada pemicunya, beberapa antibodi tidak dapat membedakan antara agen penyebab dan sel-sel normal tubuh.

Jika ini terjadi, antibodi dapat mulai merusak jaringan normal, sehingga memicu respons sekunder di mana autoantibodi diproduksi untuk menyerang jaringan yang dianggap asing.

4. Gender

council on business society on gender equality11

Faktor risiko penyakit autoimun yang selanjutnya adalah gender. Moms, perempuan memiliki risiko lebih besar terkena gangguan autoimun daripada pria.

Sekitar 75 persen gangguan autoimun diderita oleh perempuan. Belum jelas mengapa perempuan lebih rentan terhadap gangguan autoimunitas, akan tetapi beberapa peneliti berspekulasi bahwa peningkatan sistem kekebalan tubuh pada perempuan membuat mereka lebih rentan terhadap gangguan autoimun.

Begitu pula dengan faktor hormonal.

Baca Juga: 5 Dampak Terhadap Janin Apabila Ibu Hamil Menderita Penyakit Autoimun

5. Usia

Program Hamil dengan Suami Paruh Baya, Apakah Bisa Berhasil?

Faktor risiko penyakit autoimun yang selanjutnya adalah usia. Penyakit autoimun sering terjadi pada usia muda hingga paruh baya.

Akan tetapi, setiap penyakit berbeda. Misalnya kasus kelainan rheumatoid arthritis lebih sering terjadi seiring dengan bertambahnya usia.

Itulah beberapa faktor risiko penyakit autoimun. Jika memiliki riwayat keluarga, bisa bertanya pada dokter mengenai tes antinuclear antibodies (ANA) dan tes imunoglobulin IgA, IgG, dan IgM.

Setelah mengetahui hasilnya, setidaknya bisa berupaya melakukan pencegahan atau tes lebih lanjut.

(SWN)

Artikel Terkait