PROGRAM HAMIL
9 Desember 2019

5 Hal Yang Dapat Terjadi di Dua Minggu Setelah Ovulasi

Munculnya bercak darah bukan hanya karena menstruasi, tapi bisa menjadi pertanda kehamilan.
Artikel ditulis oleh Dina Vionetta
Disunting oleh Dina Vionetta

Pasangan yang sedang menjalani program hamil pasti tahu bagaimana mendebarkannya dua minggu setelah ovulasi, masa penantian di antara masa ovulasi dengan tes kehamilan, yang menjadi penentu apakah Moms hamil atau tidak.

Berikut ini lima hal yang perlu Moms ketahui, hindari atau lakukan selama dua minggu setelah ovulasi tersebut.

Hal yang Terjadi Dua Minggu Setelah Ovulasi

1. Tubuh Terasa Seperti Akan Menstruasi

1 Tubuh Terasa Seperti Akan Menstruasi.jpg

Foto: healthyway.com

Beberapa tanda awal kehamilan setelah masa ovulasi memiliki gejala yang hampir identik dengan saat akan menstruasi.

Dikutip dari British Medical Journal, hal ini terjadi karena Moms menghasilkan lebih banyak progesteron seminggu setelah waktu ovulasi, baik pada akhirnya Moms akan hamil ataupun tidak.

Progesteron adalah hormon yang menghasilkan banyak gejala menstruasi, seperti perut kembung, nyeri payudara, dan perubahan suasana hati.

Jika Moms tidak hamil, maka hormon akan berhenti dilepaskan sekitar 10 hari setelah ovulasi. Ketika hormonnya menghilang, gejala mereda, lapisan rahim mengelupas, dan Moms akan mendapatkan menstruasi.

Tapi jika hamil, maka Moms akan terus memproduksi progesteron dan mengalami gejala seperti menstruasi.

Baca Juga: 5 Faktor yang Menyebabkan Ovulasi Tertunda

2. Sedikit Pendarahan

2 Sedikit Pendarahan.jpg

Foto: medicalnewstoday.com

Di tengah masa penantian dua minggu setelah ovulasi dan melihat darah di pakaian dalam, tentu Moms berpikir akan atau sedang menstruasi.

Namun, tahan dulu diagnosis tersebut, karena bisa saja itu merupakan pendarahan implantasi.

“Pendarahan implantasi diperkirakan terjadi ketika sel telur yang dibuahi, menempel pada lapisan rahim. Biasanya terjadi sekitar waktu menstruasi. Namun, pendarahan implantasi lebih ringan dari pendarahan menstruasi,” ungkap Yvonne Butler Tobah, M.D., seperti dikutip dari mayoclinic.org.

Pendarahan implantasi juga memiliki durasi yang lebih pendek dibandingkan menstruasi. Selain itu, warna pada pendarahan implantasi cenderung cokelat muda atau gelap, dibanding merah darah seperti saat sedang menstruasi.

Tidak semua Moms mengalami pendarahan implantasi atau tidak sadar mengalami hal tersebut.

Jika mengalaminya pun, tidak perlu khawatir, karena kondisi ini adalah hal yang normal dan kehamilan Moms tidak membahayakan.

3. Berpikirlah Bahwa Sedang Hamil

3 Berpikirlah Bahwa Sedang Hamil.jpg

Foto: webmd.com

Tetap penting untuk beraktivitas seperti Moms sedang hamil, mulai dari masa setelah ovulasi sampai tahu pasti hasil test kehamilan.

Untuk itu, hindari alkohol, batasi konsumsi kopi, kurangi makan ikan yang mengandung merkuri tinggi, dan hindari makanan yang mentah atau kurang matang.

Konsumsilah vitamin prenatal setiap hari yang telah diresepkan Dokter.

Bahkan bagi Moms yang memang sedang program hamil, vitamin prenatal yang mengandung 400-800 microgram asam folat seharusnya sudah dikonsumsi sebelum masa penantian dua minggu setelah ovulasi.

Asam folat dapat mencegah cacat tabung saraf dan tabung saraf bayi, yang akan menjadi otak serta sumsum tulang belakang bayi.

Bagian ini akan berkembang di empat minggu pertama masa kehamilan.

Baca Juga: Ibu Hamil, Konsumsi 5 Makanan Sumber Folat Ini Agar Kesehatan Janin Optimal

4. Jalani Olahraga Seperti Biasa

4 Jalani Olahraga Seperti Biasa.jpg

Foto: womenshealthmag.com

Jika biasanya Moms menjalani olahraga dengan intensitas sedang, maka lanjutkanlah meski sedang menjalani program hamil.

Olahraga merupakan cara yang baik untuk mengurangi stres yang dapat memengaruhi kesuburan.

Hal yang perlu dihindari adalah melakukan jenis olahraga baru atau program pelatihan intensif yang dapat menekan sistem saraf.

Aktivitas yang secara signifikan meningkatkan suhu inti tubuh, seperti hot yoga, juga perlu dihindari karena memengaruhi implantasi.

5. Konsultasi Dokter

5 Konsultasi Dokter.jpg

Foto: helloflo.com

Konsultasikan pada Dokter jika Moms mendapat menstruasi kurang dari 14 hari setelah ovulasi.

Hal ini bisa menjadi pertanda bahwa ada sesuatu yang memengaruhi kemampuan Moms untuk hamil.

Diagnosis ringannya dapat berupa masalah ovulasi yang salah perhitungan, atau lebih berat lagi merujuk pada kondisi cacat fase luteal.

“Ini berarti tubuh Moms tidak menghasilkan kadar progesteron yang memadai untuk mempertahankan kehamilan,” ungkap Helen Kim, M.D., Asisten Profesor Obstetrics/ Gynecology dan Direktur In Vitro Fertilization Program di University of Chicago, seperti dikutip dari parents.com.

Dokter mungkin akan meresepkan obat penambah progesterone untuk ovulasi, agar memperpanjang fase luteal.

Itulah lima hal yang perlu Moms ketahui selama masa penantian dua minggu setelah ovulasi hingga waktu untuk test kehamilan.

Baca Juga: 3 Penyebab Utama Tidak Terjadinya Ovulasi

(GS/DIN)

Artikel Terkait