3-5 TAHUN
29 September 2020

9 Infeksi dan Penyakit Kulit pada Anak yang Umum Terjadi, Wajib Tahu!

Ketahui juga cara mencegah dan penanganannya ya Moms
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Adeline Wahyu
Disunting oleh Andra Nur Oktaviani

Penyakit kulit pada anak adalah hal yang umum terjadi. Penyakit kulit pada anak ini sangat bervariasi dalam gejala dan tingkat keparahannya. Beberapa penyakit kulit pada anak terkadang bersifat sementara dan bisa hilang seiring berjalannya waktu. Namun, ada pula yang permanen dan mungkin tidak menimbulkan rasa sakit atau nyeri.

Beberapa penyakit kulit pada anak memiliki penyebab situasional, sementara yang lain mungkin bersifat genetik atau turunan. Memang, terkadang masalah kulit ini tidak perlu dikhawatirkan. Namun, ada juga masalah yang bisa mengancam jiwa lho Moms.

Meskipun sebagian besar masalah kulit pada anak berada pada tingkat yang ringan, gangguan lainnya dapat menunjukkan masalah yang lebih serius.

Apa saja penyakit kulit pada anak yang umumnya terjadi? Apa penyebab dan bagaimana cara mengatasi penyakit kulit pada anak? Yuk kita pahami lebih lanjut penjelasan mengenai penyakit kulit pada anak di bawah ini, Moms.

Baca Juga: 7 Penyakit yang Ditandai Kulit Gatal, Salah Satunya Sakit Ginjal!

Jenis Penyakit Kulit pada Anak

Ada beberapa penyakit kulit pada anak yang umumnya sering kita temukan. Apa saja? Yuk simak ulasannya di bawah ini.

1. Varisela dan Herpes Zoster (HZ)

penyakit kulit pada anak: varisela

Foto: Orami Photo Stock

Penyakit kulit pada anak yang pertama adalah varisela dan herpes zoster (HZ). Virus varisela zoster (VVZ) termasuk dalam keluarga virus herpes (herpesviridae) yang secara primer menyebabkan varisela (cacar air). Sedangkan reaktivasi VVZ menyebabkan herpes zoster (cacar ular atau cacar api) pada Si Kecil.

“Varisela sangat menular dan terutama mengenai anak-anak. Kurang lebih 90 persen kasus terjadi pada anak berusia kurang dari 10 tahun dan kurang dari 5 persen terjadi pada usia lebih dari 15 tahun,” jelas dr. Vinia Ardiani Permata, Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin RS Pondok Indah – Pondok Indah.

Penularan varisela dapat melalui kontak langsung dengan kelainan di kulit, tetapi terutama melalui udara (droplet infection).

Gejala varisela sendiri dapat berupa timbulnya bercak kemerahan di kulit yang cepat berkembang menjadi bintil berisi cairan (jernih atau putih kekuningan), yang kemudian mengering menjadi keropeng. Kelainan kulit ini bisa timbul di seluruh tubuh.

Jika anak terinfeksi penyakit kulit pada anak ini, ia akan merasakan nyeri kepala, dan nyeri otot, tidak nafsu makan. Kondisi ini sering disertai demam pada anak besar/pubertas. Prnyakit kulit pada anak satu ini umumnya menyerang anak dengan daya tahan tubuh rendah.

Virus ini selanjutnya dapat aktif kembali dan menimbulkan herpes zoster. Kondisi ini tidak terjadi pada semua orang yang sebelumnya pernah mengalami varisela/VVZ.

Penyakit kulit pada anak ini umumnya terjadi pada orang tua, tetapi dapat pula terjadi pada anak-anak. Kejadian HZ pada anak dengan imunitas baik sangat rendah, tetapi pada anak dengan imunitas yang terganggu lebih sering terjadi.

Gejala utama HZ berupa timbulnya bintil berisi air pada kulit (seperti pada cacar air), namun setempat (tidak menyebar ke seluruh tubuh dan terletak di satu sisi tubuh (kiri atau kanan). Kulit di sekitar bintil bengkak dan kemerahan.

Bintil tersebut terasa nyeri seperti terbakar, kaku, dan kesemutan. Kondisi ini semakin parah bila tersentuh.

Pengobatan Varisela dan Herpes Zoster:

Pada anak yang menderita varisela dan HZ dengan daya tahan tubuh yang baik, gejala yang didapat biasanya ringan dan dapat sembuh dengan sendirinya (swasirna). Untuk mengurangi gatal dapat diberikan losion kalamin dan obat antihistamin oral.

Baca Juga: Herpes pada Bayi: Penyebab, Cara Mengatasi, dan Pencegahannya

Bila penyakit kulit pada anak ini masih berbentuk vesikel (gelembung berisi cairan) dapat diberikan bedak yang mengandung anti gatal (misalnya mentol). Bila vesikel sudah pecah dan berbentuk krusta (cairan yang mengering) dapat diberikan salap antibiotik untuk mencegah infeksi sekunder karena bakterial.

Jika anak demam dapat diberikan obat penurun panas. Obat antivirus diberikan pada varisela dan herpes zoster dengan gejala yang berat, pada anak dengan daya tahan tubuh yang kurang, pada kasus yang berulang, pada anak usia di atas 13 tahun (pubertas) yang ada kebutuhan untuk mempercepat penyembuhan (anak menghadapi ujian), dan pasien dengan penyakit kulit pada anak kronik.

2. Dermatitis Atopik

dermatitis atopik pada anak

Foto: Orami Photo Stock

Penyakit kulit pada anak yang selanjutnya adalah dermatitis atopik (DA). Dermatitis atopik (DA) adalah keadaan peradangan kulit kronis dan residif (terlihat), dipengaruhi oleh faktor lingkungan, disertai gatal yang umumnya sering terjadi selama masa bayi dan anak-anak.

Faktor risiko yang berkaitan dengan dermatitis atopik di antaranya:

  • Genetik: Kecenderungan mendapatkan penyakit atopi diturunkan secara autosomal dominan. Sebanyak 75 persen anak akan mengalami alergi bila kedua orang tuanya memiliki riwayat alergi, dibandingkan dengan 50 persen anak bila hanya 1 orang tua yang mempunyai riwayat alergi. Meskipun demikian, faktor lain (lingkungan) sangat berpengaruh atas perkembangan penyakit.
  • Sosioekonomi: Kondisi ini lebih banyak dijumpai pada status sosial yang lebih tinggi dibandingkan dengan status sosial yang lebih rendah.
  • Laktasi: Semakin lama mendapat air susu ibu, semakin kecil kemungkinan untuk mendapat DA.
  • Pengenalan makanan padat terlalu dini (sebelum usia 4 bulan): Ini akan meningkatkan angka kejadian DA sebesar 1,6 kali. Sensitisasi umumnya terjadi terhadap alergen makanan, terutama susu sapi, telur, kacang-kacangan, dan gandum
  • Polusi lingkungan, antara lain daerah industri dengan peningkatan polusi udara, pemakaian pemanas ruangan sehingga terjadi peningkatan suhu dan penurunan kelembaban udara, asap rokok, penggunaan pendingin ruangan yang berpengaruh pula pada kelembaban, penggunaan sampo dan sabun yang berlebihan, serta deterjen yang tidak dibilas dengan sempurna

Dermatitis atopik cenderung diturunkan. Lebih dari seperempat anak dari seorang ibu yang menderita atopi akan mengalami DA pada masa kehidupan tiga bulan pertama. Bila salah satu orang tua menderita atopi, lebih separuh jumlah anak akan mengalami gejala alergi sampai usia 2 tahun, dan meningkat sampai 79 persen bila kedua orang tuanya menderita atopi.

Kulit anak dengan DA umumnya kering, kasar, kusam/pucat/redup, kadar lemak di kulit berkurang, dan kehilangan air melalui kulit meningkat.

Gejala utama penyakit kulit pada anak ini adalah gatal, dapat hilang timbul sepanjang hari, tetapi umumnya lebih hebat pada malam hari. Akibatnya anak akan terganggu tidurnya dan terus menggaruk sehingga timbul berbagai macam kelainan di kulit berupa bintil-bintil, lenting berisi cairan di atas kulit yang meradang, luka lecet akibat garukan, luka basah dan keropeng/koreng, penebalan kulit, dan kulit bersisik.

“Pada DA yang timbul pada bayi usia 2 bulan sampai 2 tahun, kelainan kulit bermula di muka (pipi dan dahi) kemudian meluas ke tempat lain yaitu kulit kepala, leher, pergelangan tangan, lengan, dan tungkai,” tutur dr. Vinia.

Baca Juga: 4 Cara Mengatasi Kulit Gatal Bayi Akibat Digigit Nyamuk

Perawatan dan Pengobatan Dermatitis Atopik

  • Kulit anak dengan DA kering, mudah retak, dan fungsi pelindungnya berkurang sehingga mempermudah masuknya mikroorganisme penyebab penyakit (bakteri, virus, jamur), serta berbagai bahan yang menyebabkan iritasi dan alergi. Pada kulit yang demikian perlu diberikan pelembap yang digunakan segera setelah mandi setelah kulit dikeringkan dengan handuk secara lembut. Pelembap digunakan beberapa kali sehari.
  • Mandi dua kali sehari dengan pembersih/sabun yang mengandung pelembab, dan mempunyai pH netral, hindari pembersih antiseptik/antibakterial
  • Gunakan pelembap secara rutin segera setelah mandi minimal dua kali sehari walaupun tidak ada keluhan DA
  • Lama kerja emolien/pelembap maksimal enam jam sehingga perlu diaplikasikan ulang. Hindari pelembap yang mengandung pengawet, pewangi, dan pewarna
  • Jaga kebersihan di daerah genitalia dan bokong bayi, popok segera diganti bila basah atau kotor. Urin dan feses dapat menyebabkan iritasi dan infeksi
  • Kulit anak/bayi dijaga tetap tertutup pakaian untuk menghindari pajanan iritan atau trauma garukan
  • Usahakan tidak memakai pakaian yang terlalu tebal, ketat, kotor dan bersifat iritan, juga kasar (misalnya wol atau sintetik), gunakan yang terbuat dari katun
  • Hindari pajanan terhadap panas (mandi air terlalu panas) atau dingin (AC ruangan)
  • Pakaian baru sebaiknya dicuci terlebih dahulu sebelum dipakai untuk membersihkan dari kotoran dan bahan kimia
  • Mencuci pakaian dengan deterjen harus dibilas dengan baik, sebab sisa deterjen dapat bersifat iritan. Hindari penggunaan pewangi pakaian
  • Pada anak dengan DA yang alergi terhadap alergen hirup, misalnya tungau debu rumah, perlu dilakukan berbagai upaya untuk mengurangi jumlah tungau tersebut, antara lain hindari penggunaan kasur kapuk, tidak menggunakan karpet dalam ruangan, hindari mainan berbulu, dan rutin membersihkan debu dalam rumah (rak buku, lemari baju)
  • Selesai berenang, anak harus segera mandi dengan sabun berpelembap untuk membilas klorin yang biasanya digunakan pada kolam renang. Jangan lupa untuk menggunakan pelembap setelahnya
  • Makanan, misalnya susu, ikan, telur, dan kacang-kacangan sering dianggap berperan dalam patogenesis DA/perkembangan penyakit DA terutama pada bayi dan anak kecil. Identifikasi makanan pencetus DA harus dilakukan secara teliti. Eliminasi makanan esensial pada bayi/anak harus dilakukan secara berhati-hati karena dapat menimbulkan malnutrisi sehingga sebaiknya diberikan makanan pengganti. Apabila Moms merasa yakin bahwa makanan tertentu menyebabkan DA pada Si Kecil, makanan tersebut dapat dihindari ya.
  • Hindari stres psikis

Penatalaksanaan Khusus Dermatik Atopik:

  • Pengobatan DA dengan kortikosteroid topikal (yang dioleskan) adalah yang paling sering digunakan sebagai anti inflamasi kelainan kulit. Namun demikian pemberiannya harus dalam pengawasan dokter spesialis kulit dan kelamin untuk menghindari terjadi efek samping yang tidak diinginkan.
  • Terapi kortikosteroid oral hanya digunakan untuk mengendalikan kekambuhan akut, dalam jangka pendek dan dosis rendah. Dosis diturunkan secara bertahap, kemudian segera diganti dengan kortikosteroid topikal. Antihistamin oral digunakan untuk membantu mengurangi rasa gatal yang hebat, terutama malam hari sehingga mengganggu tidur. Pada anak dengan DA yang disertai infeksi bakteri dapat diberikan antibiotik, anti jamur pada anak yang disertai dengan infeksi jamur, atau anti virus pada anak yang disertai dengan infeksi virus.

3. Pioderma

penyakit kulit pada anak: pioderma

Penyakit kulit pada anak selanjutnya adalah pioderma. Pioderma merupakan suatu infeksi bakteri kulit yang sering dialami anak-anak yang disebabkan oleh Staphylococcus dan Streptococcus atau oleh kedua-duanya. Faktor yang cenderung membuat terjadinya pioderma pada anak di antaranya:

  • Higienitas yang kurang
  • Menurunnya daya tahan tubuh (misalnya, kekurangan gizi, anemia, penyakit kronik, kencing manis, kanker)
  • Telah ada penyakit lain di kulit (karena terjadi kerusakan di epidermis/ bagian kulit terluar, maka fungsi kulit sebagai pelindung akan terganggu sehingga memudahkan terjadinya infeksi.
  • Obesitas

Jenis pioderma pada anak ada beberapa, yaitu:

  • Impetigo krustosa, kemerahan dan lenting berisi cairan yang cepat memecah, menimbulkan keropeng/koreng tebal berwarna kuning seperti madu. Lokasi di muka yakni di sekitar lubang hidung dan mulut
  • Impetigo bulosa, kemerahan, lenting berisi cairan yang lebih besar dari 0,5 cm, dan berisi nanah. Lokasi di ketiak, dada, dan punggung
  • Ektima, koreng/keropeng tebal berwarna kuning, biasanya berlokasi di tungkai bawah, yaitu tempat yang relatif banyak mendapat trauma
  • Folikulitis (radang folikel rambut), beberapa bintil berwarna kemerahan atau putih kekuningan berisi nanah (bisul kecil), di tengahnya terdapat rambut. Berlokasi di tungkai bawah di area berambut.
  • Furunkel/karbunkel (radang folikel rambut dan sekitarnya), jika lebih dari satu disebut furunkulosis. Karbunkel merupakan kumpulan dari furunkel yang bergabung menjadi satu bentol kemerahan berbentuk kerucut, di tengahnya terdapat nanah (bisul lebih besar). Bentol bisa melunak menjadi abses yang berisi nanah dan jaringan kulit yang mati lalu memecah membentuk fistel (saluran). Lokasi di kulit yang banyak mengalami friksi atau gesekan, misalnya ketiak dan bokong. Kelainan ini menimbulkan keluhan nyeri
  • Abses kelenjar keringat (infeksi pada kelenjar keringat), bentol kemerahan, berbentuk kubah, multipel, tidak nyeri dan lama memecah. Lokasinya di kulit yang banyak keringat.

Baca Juga: Yuk, Kenali Biang Keringat pada Bayi

“Untuk mencegah terjadinya pioderma, sangat penting untuk menjaga higenitas anak (rutin mandi dan mengganti baju) dan memberikan gizi yang baik sehingga anak memiliki daya tahan tubuh yang baik,” ujar dr. Vinia.

Agar tidak terserang penyakit kulit pada anak, kesehatan kulit anak juga harus dijaga, sehingga, kulit sebagai pelindung tubuh dapat berfungsi dengan baik sehingga pioderma tidak mudah terjadi. Ingatkan anak untuk menghindari memanipulasi kulit (menggaruk, dikopek, atau dipencet).

Pengobatan pada pioderma dengan memberikan preparat antibiotik topikal. Jika terjadi infeksi yang lebih berat dapat diberikan preparat antbiotika oral.

4. Skabies

penyakit kulit pada anak: skabies

Penyakit kulit pada anak selanjutnya adalah skabies. Skabies adalah kelainan kulit yang disebabkan infestasi dan sensitisasi oleh kutu sarcoptes scabiei.

Skabies dapat diderita oleh semua orang tanpa membedakan usia dan jenis kelamin, akan tetapi lebih sering ditemukan pada bayi, anak-anak usia sekolah, dan remaja.

Transmisi atau perpindahan skabies antar penderita dapat berlangsung melalui kontak langsung (kontak kulit dengan kulit) dengan akrab dan erat serta kontak kulit yang cukup lama.

Hal ini dapat terjadi bila hidup dan tidur bersama, terutama anak yang mendapat infestasi tungau dari ibunya, hidup dalam satu asrama, berjabat tangan. Selain itu juga dapat melalui kontak tidak langsung, yaitu melalui pakaian yang digunakan bersama, handuk, sprei, bantal, atau alat mandi yang tidak terpisah.

Gejala klinis utama penyakit kulit pada anak ini adalah rasa gatal, terutama dirasakan pada malam hari, saat cuaca panas serta pasien berkeringat. Gambaran kelainan kulit berupa bintil, bintil berisi cairan jernih atau nanah.

Terkadang terdapat luka lecet akibat garukan dan kelainan kulit seperti terowongan berwarna abu-abu. Kelainan kulit umumnya simetris, ditemukan terutama pada daerah celah dan lipatan, misalnya ketiak, lipat lengan, pergelangan tangan, sela-sela jari tangan, kulit sekitar puting susu, pusar, perut bagian bawah, penis, bokong, dan lipat lutut.

Pada anak-anak usia kurang dari dua tahun, kelainan kulit cenderung di seluruh tubuh, terutama kepala, leher, telapak tangan, dan kaki. Pada bayi, lesi dapat ditemukan di muka dan kulit kepala, terutama yang minum air susu ibu dari ibu yang menderita skabies.

Tips Mencegah dan Menangani Skabies:

Penderita dianjurkan untuk menjaga kebersihan dengan mandi secara teratur setiap hari. Semua pakaian, sprei, dan handuk yang telah digunakan harus dicuci secara teratur dan bila perlu direndam air panas.

Baca Juga: Mandi Air Hangat Bisa Merusak Kulit, Mitos atau Fakta?

Anggota keluarga yang berisiko tinggi untuk tertular penyakit kulit pada anak ini, terutama bayi dan anak-anak, juga harus dijaga kebersihannya dan untuk sementara waktu menghindari terjadinya kontak langsung. Selain itu juga ditekankan untuk mengobati semua anggota keluarga secara serentak.

Pengobatan dapat dilakukan dengan berbagai jenis obat anti skabies dengan mempertimbangkan faktor keamanan, efek samping, dan efektivitas obat. Selain pemberian obat anti skabies yang adekuat dapat diberikan obat anti gatal misalnya antihistamin.

5. Moluskum Kontagiosum

infeksi kulit anak, infeksi kulit, jenis infeksi kulit

Foto: allaboutnothing.me.uk

Penyakit kulit pada anak ini disebabkan oleh infeksi virus Molluscum contagiosum, yang merupakan bagian dari virus pox. Gejala yang muncul seperti papul atau benjolan licin sewarna kulit atau seperti mutiara atau benjolan merah dengan penurunan pada pusat benjolan yang disebut umbilikasi.

Biasanya, papul muncul di area tubuh dan lipatan serta tidak menimbulkan nyeri. "Saat sistem kekebalan tubuh anak kembali sehat dan muncul kerak atau papul sedikit berkerak, berarti moluskum itu tidak menular lagi," ujar dokter Cheryl Bayart, MD, dari Cleveland Clinic.

Infeksi ini pun jarang terjadi pada anak di bawah usia 1 tahun, biasanya lebih banyak dialami anak usia 2-5 tahun.

6. Kutil Virus

infeksi kulit anak, infeksi kulit, jenis infeksi kulit

Foto: kidspot.co.nz

Kutil virus adalah pertumbuhan kulit (bukan kanker) yang disebabkan oleh virus human papillomavirus (HPV). Kutil virus ini juga umum terjadi pada anak-anak.

Kutil virus dapat menyebar dan menetap pada penderita imunokompromi atau orang yang sistem imunitasnya menurun.

Bentuk dari kutil yang muncul tergantung pada lokasinya seperti tangan atau kaki.

Baca Juga: Begini 5 Cara Menghilangkan Infeksi Kulit Kepala Menurut Penyebabnya

7. Impetigo

infeksi kulit anak, infeksi kulit, jenis infeksi kulit

Foto: globalnews.ca

Impetigo adalah infeksi kulit superfisial yang ditandai dengan kerak berwarna keemasan. Infeksi ini merupakan penyakit kulit tersering ketiga setelah dermatitis dan kutil virus.

Anak paling sering terkena impetigo ketika berusia 2-6 tahun. Penyakit kulit pada anak ini disebabkan oleh infeksi bakteri stafilokokus atau streptokokus kulit.

Impetigo menyebar dan dapat menular melalui kontak langsung dengan penderitanya.

8. Tinea Kapitis

infeksi kulit anak, infeksi kulit, jenis infeksi kulit

Foto: blueberrytherapeutics.com

Tinea kapitis adalah infeksi yang terjadi pada kulit kepala yang disebabkan oleh jamur dermatofita. Kondisi ini sangat menular dan dapat terjadi pada semua kelompok umur, tapi paling sering menyerang anak usia 2-10 tahun.

Gejalanya peyakit kulit pada anak ini berupa kulit kepala yang merah dan bersisik, gatal, serta kerontokan rambut. Penyakit kulit pada anak ini menyebabkan kebotakan berkerak, tetapi bisa juga bervariasi tergantung pada kasusnya.

Baca Juga: Dari yang Mudah Disembuhkan hingga Mengancam Jiwa, Ketahui Jenis-jenis Penyakit Kulit

9. Fifth Disease (Eritema Infektiosum)

infeksi kulit anak, infeksi kulit, jenis infeksi kulit

Foto: healthline.com

Biasa disebut juga Slap Face karena penderita terlihat seperti terkena tamparan. Gejala penyakit kulit pada anak ini seperti demam ringan, pilek, timbul ruam di wajah yang melebar ke badan, lengan, hingga kakinya.

Saat ruam muncul, demam dan flu yang dialami anak menghilang. Penyebab dari penyakit kulit pada anak ini adalah Parvovirus B19. "Pipi mereka jadi agak kemerahan, tapi bentuknya terlihat lucu dan bagus.

Jika saya melihat anak dengan ruam tetapi terlihat cukup sakit maka itu bukan penyakit ini, " jelas dokter Emily Goodwin, dokter anak di Children's's Mercy Kansas City Hospital, Amerika.

Fifth disease ditularkan melalui cairan hidung, mulut, dan tenggorokan saat anak batuk atau bersin. Biasanya paling rawan terjadi saat pergantian musim.

Nah Moms, itulah beberapa penyakit kulit pada anak yang umumnya terjadi. Setelah tahu cara mencegahnya, segera lakukan pencegahan ya Moms!

Jika menemukan gejala-gejala penyakit kulit pada anak seperti di atas pada Si Kecil, segera periksakan ke dokter agar mendapatkan pengobatan sesuai dengan penyebab infeksi dan penyakit kulit pada anak.

Artikel Terkait