PERNIKAHAN & SEKS
25 Oktober 2019

5 Mitos Selingkuh yang Tidak Perlu Dipercayai Lagi

Tragedi selingkuh bisa jadi justru dapat memperkuat hubungan dengan pasangan
Artikel ditulis oleh Amelia Puteri
Disunting oleh Dina Vionetta

Setiap pasangan menginginkan hubungan yang langgeng dan bahagia hingga maut memisahkan. Namun, pada beberapa rumah tangga, bisa terjadi perselingkuhan dari salah satu pihak.

Memang menyakitkan bila pasangan selingkuh, mengingat mereka telah berjanji memberikan komitmen dan loyalitasnya, tapi ternyata justru menyakiti Moms.

Ada beberapa mitos tentang selingkuh yang mungkin sepatutnya tidak perlu Moms percaya lagi. Berikut ini daftarnya, mengutip dari Reader's Digest.

1. Mitos: Selingkuh Hanya Terjadi pada Hubungan yang Tidak Bahagia

3 Alasan yang Sering Dipakai Seseorang untuk Selingkuh 3.jpg

Ada banyak alasan bagi seseorang untuk berselingkuh, tetapi perselingkuhan tidak selalu didasari karena sebuah hubungan yang tidak sehat.

Terkadang, orang berselingkuh karena alam bawah sadar mereka ingin menjalani kehidupan yang belum pernah mereka alami dan jalani.

"Sebuah hubungan dapat menjadi sebuah hal biasa, sehingga seseorang mungkin membutuhkan tantangan dalam hidup," kata Foojan Zeine, PsyD, terapis perkawinan dan keluarga berlisensi di Tarzana, California.

Ia melanjutkan, "Mereka membutuhkan semacam tindakan impulsif untuk menciptakan gairah hidup."

Baca Juga: Jangan Selingkuh! Ini 3 Manfaat Setia Pada Pasangan

2. Mitos: Pelaku Selingkuh Sosok yang Narsis dan Manipulatif

Ketika Pasangan Selingkuh, Haruskah Diberi Kesempatan Kedua 2.jpg

Perselingkuhan datang dalam berbagai bentuk, ukuran, dan kepribadian, yang berarti tidak selalu dilakukan oleh 'penjahat' hubungan yang dibayangkan.

"Beberapa orang yang berselingkuh memiliki kepribadian yang menyabotase yang tidak disadari dan tertanam dalam diri mereka," kata Anthony Tasso, PhD, ABPP, psikolog klinis di Whippany, New Jersey.

Lebih lanjut ia menerangkan, "Pada intinya, mereka tidak merasa layak memiliki hubungan yang sehat sehingga perselingkuhan menjadi jalan untuk merusak dan mungkin menghancurkan hubungan mereka."

3. Mitos: Sekali Selingkuh, Selalu Selingkuh

5 alasan orang selingkuh meski hubungannya bahagia 3

Nyatanya, tidak semua harapan hilang jika pasangan berkhianat dengan hubungan yang sedang ia miliki. Banyak mereka yang berselingkuh melihat kesalahan mereka.

Para ahli mengatakan kemungkinan bagi para peselingkuh untuk berkomitmen kembali dan tidak pernah menyimpang dari hubungan lagi.

"Kehadiran penyesalan yang tulus menjadi indikator yang baik apakah seseorang benar-benar berkomitmen untuk mengatasi alasan berselingkuh dan akhirnya mengubah perilaku ini," kata Dr. Tasso.

Apa yang diperlukan hanyalah komunikasi yang terbuka dan jujur, menunjukkan penyesalan yang tulus, dan keinginan aktif untuk berubah menjadi lebih baik.

Baca Juga: 5 Drama yang Dibintangi Oh Yeon Seo, Aktris Korea yang Dituduh jadi Selingkuhan Ahn Jae Hyun

4. Mitos: Pria Lebih Sering Berselingkuh Daripada Wanita

3 Alasan yang Sering Dipakai Seseorang untuk Selingkuh 1.jpg

Selama bertahun-tahun, banyak orang percaya bahwa lebih banyak pria berselingkuh daripada wanita. Tetapi penelitian dari 20 tahun terakhir menunjukkan bahwa hal ini tidak berlaku lagi.

Para peneliti dari University of Washington menemukan bahwa tingkat perselingkuhan wanita antara 1991 dan 2006 melonjak dari 5 persen menjadi 15 persen.

Sebuah studi 2011 juga menunjukkan bahwa 19 persen wanita dan 23 persen pria mengaku berselingkuh pada pasangan mereka.

Baca Juga: Ternyata Ini 5 Zodiak yang Paling Mungkin Selingkuh, Setuju?

5. Mitos: Perselingkuhan Selalu Mengarah pada Perpisahan

bertengkar dengan suami 02.jpg

Perselingkuhan tidak selalu merupakan akhir dari segalanya. Sebaliknya, perselingkuhan dapat membuat ikatan pernikahan lebih kuat dari sebelumnya.

"Krisis kesadaran perselingkuhan dapat membawa banyak masalah. Ini bisa memaksa masing-masing pasangan untuk mengevaluasi tentang masalah hubungan mereka," kata Dr. Tasso.

Dengan sedikit dedikasi, kejujuran, dan pengabdian dari kedua pasangan, maka dapat tercipta kembali ruang positif untuk hubungan yang lebih sehat dan bahagia.

(AP/DIN)

Artikel Terkait