KESEHATAN
10 Oktober 2019

6 Jenis Hipertermia, Mulai dari yang Ringan hingga yang Paling Berat

Heat exhaustion adalah kondisi hipertermia yang paling parah
Artikel ditulis oleh Orami
Disunting oleh Andra Nur Oktaviani

Cuaca dingin maupun panas ternyata bisa menimbulkan masalah pada kesehatan. Jika cuaca terlalu dingin, kita bisa terkena hipotermia.

Sebaliknya, cuaca yang terlalu panas pun bisa berakibat buruk bagi tubuh. Gejala-gejala yang timbul akibat cuaca sangat panas ini disebut hipertermia. Seperti apa hipertermia ini?

Hipertermia adalah suhu tubuh tinggi yang tidak normal, disebabkan oleh kegagalan mekanisme pengatur panas tubuh untuk menangani panas yang berasal dari lingkungan.

Pada manusia, suhu tubuh inti berkisar antara 95,9 derajat Fahrenheit hingga 99,5 derajat Fahrenheit di siang hari, atau 35,5 derajat Celsius hingga 37,5 derajat Celsius.

Sebaliknya, orang dengan beberapa tingkat hipertermia memiliki suhu tubuh lebih dari 100,4 derajat Fahrenheit (38 derajat Celcius).

Gejala hipertermia tergantung pada tahap yang telah dicapai atau seberapa banyak tubuh terpapar cuaca yang terlalu panas.

“Gejala hipertermia ini dapat berkembang sangat cepat atau selama berjam-jam bahkan berhari-hari,” kata dr Stacy Sampson, DO dari Des Moines University College of Osteopathic Medicine seperti dikutip dari healthline.com..

Ada beberapa kondisi yang tergolong hipertermia. Antara lain, heat exhaustion atau kepanasan parah, sinkop panas atau pusing mendadak setelah paparan panas yang berkepanjangan, kram panas atau heat cramps, dan stroke panas atau heat stroke.

Ada beberapa jenis hipertermia. Berikut ulasannya.

Baca Juga: Bayi Baru Lahir Terkena Hipotermia, Bagaimana Cara Mengatasinya?

1. Stres Panas atau Heat Stress

Cuaca panas (1).jpg

Jika suhu tubuh mulai naik dan Moms tidak dapat mendinginkan diri melalui keringat, bisa jadi Moms mengalami stres akibat panas. Stres panas ini dapat menyebabkan komplikasi serius, seperti kelelahan panas dan stroke panas.

Selain merasa panas yang tidak nyaman, Moms juga mungkin mengalami beberapa gejala seperti pusing, lemah, mual dan haus. Jika merasakan tanda-tanda stres akibat panas, segeralah berlindung di tempat yang lebih dingin dan istirahatlah.

Moms bisa juga mulai minum air atau cairan lain dengan elektrolit, yang akan membantu mengembalikan hidrasi. Elektrolit adalah zat di dalam tubuh, seperti kalsium, natrium, dan kalium yang membuat kita tetap terhidrasi.

Elektrolit membantu mengatur detak jantung, fungsi saraf, dan kesehatan otot. Tapi jika gejala-gejalanya makin memburuk, segera cari bantuan medis.

2. Sinkop Panas atau Heat Syncope

Cuaca panas.jpg

Sinkop, juga dikenal sebagai pingsan, terjadi ketika tekanan darah turun dan aliran darah ke otak berkurang sementara. Hal ini cenderung terjadi jika kita terlalu memforsir diri dalam cuaca yang panas.

Selain itu, jika Moms kerap mengonsumsi obat beta-blocker atau obat jantung untuk menurunkan tekanan darah, maka Moms berisiko lebih tinggi terkena sinkop panas.

Biasanya sinkop panas atau pingsan sering didahului oleh gejala pusing atau kepala terasa ringan. Moms mungkin merasa hampir pingsan, tetapi jika Moms rileks dan mampu mendinginkan tubuh dengan cepat, Moms dapat mencegah kehilangan kesadaran. Selain itu, mengangkat kaki juga bisa membantu.

Seperti halnya penyakit terkait akibat cuaca panas lainnya, rehidrasi adalah kuncinya. Cairan apa pun bisa digunakan, tetapi minuman olahraga yang mengandung banyak air atau elektrolit adalah yang terbaik.

3. Kram Panas atau Heat Cramps

Cuaca sangat panas.jpg

Kram panas biasanya terjadi karena aktivitas yang keras atau berolahraga dalam cuaca yang panas. Ini terjadi akibat ketidakseimbangan elektrolit dan biasanya dirasakan di perut, kaki, atau otot-otot lengan.

Untuk membantu meredakan kram panas, istirahatlah di tempat yang dingin, dan pastikan untuk mengisi kembali cairan dan elektrolit yang hilang saat Moms berkeringat.

Baca Juga: Cegah Lemas Akibat Dehidrasi, Ikuti 4 Kiat Ampuh Agar Anak Moms Suka Minum Air Putih

4. Edema Panas atau Heat Edema

Redakan hipertermia.jpg

Edema panas dapat terjadi jika kita berdiri atau duduk dalam waktu lama di panas dan tidak terbiasa berada dalam suhu yang lebih hangat. Ini bisa menyebabkan tangan, kaki bagian bawah, atau pergelangan kaki membengkak.

Pembengkakan ini berasal dari penumpukan cairan di ekstremitas atau anggota gerak tubuh kita. Ini mungkin terkait dengan respon yang melibatkan reabsorpsi natrium yang distimulasi aldosteron ke dalam darah melalui ginjal.

Biasanya edema panas secara spontan mereda seiring waktu setelah kita terbiasa dengan lingkungan yang hangat. Mendinginkan dan mengangkat kaki juga akan membantu, karena akan tetap terhidrasi dengan cukup air dan asupan elektrolit.

5. Ruam Panas atau Heat Rash

Hipertermia 1.jpg

Terkadang, aktif dalam suhu yang panas untuk waktu lama dapat menyebabkan benjolan seperti jerawat muncul di kulit. Ini biasanya berkembang di bawah pakaian yang telah menjadi basah karena keringat.

Ruam panas biasanya hilang dengan sendirinya setelah suhu tubuh mendingin atau kita mengganti pakaian. Namun, infeksi mungkin terjadi jika kulit tidak didinginkan segera setelah ruam muncul.

6. Kelelahan karena Panas atau Heat Exhaustion

Redakan hipertermia 2.jpg

Kondisi ini adalah salah satu tahap paling serius dari hipertermia. Kelelahan panas terjadi ketika tubuh kita tidak bisa mendingin lagi.

Selain banyak berkeringat, Moms mungkin mengalami beberapa gejala seperti, pusing, merasa lemah, haus, kesulitan berkonsentrasi, kulit menjadi dingin dan lembap, dan denyut nadi menjadi cepat.

Kelelahan karena panas ini adalah tahap terakhir sebelum serangan panas atau heat stroke terjadi. Jika heat stroke dibiarkan tanpa penanganan serius, kondisi ini dapat mengancam nyawa dengan menyebabkan kerusakan otak dan organ vital lainnya.

Karena itu, penting bagi Moms untuk beristirahat dan rehidrasi segera setelah merasakan gejala-gejala heat exhaustion terus berkembang. Jika gejala tidak membaik, segera dapatkan bantuan medis.

Baca Juga: Waspadai 4 Pertanda Dehidrasi

Ada banyak faktor yang bisa menyebabkan kita terserang hipertermia. Salah satunya faktor gaya hidup, di antaranya kita tidak cukup minum air, tinggal di perumahan tanpa pendingin udara, kurangnya mobilitas dan akses ke transportasi, berpakaian berlebihan, mengunjungi tempat-tempat yang penuh sesak dan tidak memahami bagaimana menanggapi kondisi cuaca panas.

Kemudian, ada juga sejumlah faktor yang berhubungan dengan kesehatan, di antaranya sedang menderita dehidrasi, kemudian adanya perubahan pada kulit terkait usia pada seperti gangguan sirkulasi darah dan kelenjar keringat yang tidak efisien.

Penyakit jantung, paru-paru dan ginjal, serta penyakit apa pun yang menyebabkan demam juga bisa memicu hipertermia.

Lalu, orang dengan tekanan darah tinggi yang membutuhkan perubahan dalam diet, kurang berkeringat karena mengonsumsi obatan seperti diuretik, obat penenang, dan obat jantung dan tekanan darah tertentu, juga berpotensi terkena serangan panas ini.

Secara substansial kelebihan berat badan atau kekurangan berat badan dan juga gemar mengonsumsi alkohol juga membuat kita rentan terkena hipertermia.

Nah, udara panas ternyata tidak bisa disepelekan ya Moms. Jika Moms mengalami gejala-gejala tersebut, jangan anggap sepele ya.

(SERA)

Artikel Terkait