KEHAMILAN
12 Maret 2020

Air Ketuban Kurang di Akhir Kehamilan, Harus Caesar?

Ketahui penjelasannya berikut ini
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Amelia Puteri
Disunting oleh Andra Nur Oktaviani

Di masa kehamilan, Moms bisa mengalami kondisi di mana cairan ketuban lebih rendah dari yang diperkirakan untuk usia kehamilan bayi. Kondisi cairan ketuban yang rendah dinamakan sebagai oligohidramnion.

"Air ketuban adalah cairan yang melindungi bayi di dalam kandungan selama kehamilan. Cairan ketuban ini memiliki banyak fungsi penting dan vital untuk perkembangan janin yang sehat," jelas dr. Putri Deva Karimah, Sp.OG, Dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan RS Pondok Indah - Pondok Indah.

Dalam Jurnal Kedokteran Komunitas dan Tropik di Universitas Sam Ratulangi Manado, disebutkan bahwa penurunan volume cairan ketuban atau oligohidramnion bisa memberikan kondisi khusus pada bayi.

Seperti menurunnya denyut jantung janin, cairan ketuban dengan mekonium (feses janin), persalinan caesar, skor Apgar (Appearance, Pulse, Grimace, Activity, Respiration) rendah di menit pertama, berat badan lahir <2500 gram, dan perawatan bayi di NICU.

Lalu, apakah ketika cairan ketuban rendah pada trimester ketiga harus melakukan tindakan caesar? Berikut penjelasannya.

Baca Juga: Waspada Emboli Air Ketuban yang Bisa Mengancam Jiwa

Penanganan Air Ketuban Kurang di Akhir Kehamilan

cairan ketuban rendah-1

Foto: Orami Photo Stock

Menurut dr. Putri, jumlah cairan ketuban di dalam rahim yang terlalu sedikit atau terlalu besar, bisa menimbulkan komplikasi kehamilan. Untuk penanganannya bisa bervariasi.

"Dalam kasus kurangnya air ketuban saat trimester 3, penanganannya dapat bervariasi. Tidak semua tata laksananya harus dioperasi caesar, bisa juga dilakukan induksi dengan obat apabila ada kondisi yang mengharuskan janin untuk segera dilahirkan," jelas dr. Putri.

Lebih lanjut, ia juga menjelaskan tidak ada kontraindikasi (suatu kondisi atau faktor untuk mencegah tindakan medis tertentu karena bahaya yang akan didapatkan pasien) untuk lahir normal dari ibu dan janin.

"Hal ini tergantung dari penyebab jumlah cairan ketuban berkurang. Pada umumnya, semakin besar usia kehamilan, tentu jumlah air ketuban akan berkurang," lanjut dr. Putri.

Menurut American Pregnancy Association, perawatan untuk cairan ketuban yang rendah didasarkan pada usia kehamilannya.

Jika belum cukup bulan untuk melakukan persalinan, dokter akan memantau dengan sangat cermat, dan bisa dilakukan tes seperti non-stress dan contraction stress test untuk memantau aktivitas janin.

Baca Juga: Tanda Kelebihan Air Ketuban dan Risikonya

Faktor Air Ketuban yang Kurang di Akhir Kehamilan

cairan ketuban rendah-2

Foto: Orami Photo Stock

Faktor yang memengaruhi kapan seorang ibu hamil harus menjalani operasi caesar pada kasus jumlah ketuban berkurang terbagi dua, yaitu faktor ibu dan faktor janin.

1. Cairan Ketuban Rendah Karena Faktor Ibu

  • Adanya tanda infeksi
  • Ketuban pecah lebih dari 48 jam, warna ketuban hijau dan berbau, sehingga tidak bisa dilakukan induksi
  • Riwayat operasi sebelumnya dan terdapat ketuban pecah dini penyebab air ketuban berkurang saat ini
  • Terdapat kontraindikasi atau larangan ibu hamil untuk lahir spontan atau induksi
  • Terdapat keganasan yaitu berupa kanker di daerah vagina dan serviks
  • Ibu hamil dengan panggul sempit karena kepala janin tidak dapat melewati jalan lahir
  • Solusio plasenta atau pelepasan plasenta pada rahim atau plasenta previa di mana lokasi plasenta menutupi jalan lahir

Baca Juga: 4 Penyebab Polihidramnion, Gangguan Cairan Ketuban yang Berlebihan

2. Cairan Ketuban Rendah Karena Faktor Janin

  • Gawat janin
  • Adanya tanda infeksi pada janin
  • Posisi janin lintang
  • Posisi kepala janin tidak proposional untuk lahir normal atau disebut malpresentasi
  • Janin besar (macrosomi)
  • Kelainan pada janin
  • Air ketuban habis

"Faktor-faktor tersebut adalah contoh beberapa indikasi atau keharusan ibu hamil untuk dilakukan operasi caesar, dan tidak masuk kategori yang dapat lahir normal, dengan atau tanpa induksi," jelas dr. Putri.

Jadi dengan kata lain, tidak semua kasus jumlah cairan ketuban berkurang maka ibu hamil harus dioperasi. Ini semua kembali lagi bergantung dari apa yang menyebabkannya.

Artikel Terkait