KEHAMILAN
13 Juli 2020

Amankah Melakukan Transfusi Darah Saat Hamil? Ini Penjelasannya

Apalagi bagi Moms yang terbiasa melakukan donor darah atau transfusi darah sebelum hamil
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Phanie Fauziah
Disunting oleh Dina Vionetta

Transfusi darah atau dikenal juga dengan donor darah merupakan kegiatan pemberian darah dari satu orang ke orang lain.

Darah berfungsi memasok oksigen dan nutrisi yang dibutuhkan tubuh. Kegiatan transfusi darah akan menggantikan darah yang sudah hilang.

Jika sebelum hamil, Moms sering melakukan kegiatan ini, berbeda dengan kondisi Moms selama kehamilan.

Berikut ini penjelasan mengenai fakta transfusi darah saat hamil.

Baca Juga: Ketahui 6 Manfaat Donor Darah, Tingkatkan Kesehatan Jantung hingga Hindari Kanker

Transfusi Darah Saat Hamil

transfusi darah saat hamil.jpeg

Foto: geburtszeit.com

Transfusi darah saat hamil tidak dianjurkan, dengan alasan menjaga kesehatan ibu hamil dan janin dalam kandungan.

Ibu hamil setidaknya menunggu hingga 6 minggu setelah melahirkan untuk melakukan kegiatan transfusi darah.

Namun, Ibu hamil perlu memiliki jumlah darah yang cukup untuk tumbuh kembang janin.

Ada beberapa kondisi yang membuat ibu hamil melakukan transfusi darah, salah satunya anemia.

American Pregnancy Association menyatakan, setelah perkiraan hemoglobin, dokter kandungan akan bisa mendiagnosis tingkat anemia pada ibu hamil.

Kondisi ini menunjukkan jumlah hemoglobin dalam darah di bawah normal.

Meskipun selama kehamilan sel darah merah meningkat, namun anemia bukanlah hal yang bisa dihindari dan seringkali dialami ibu hamil.

Jika ibu hamil memasuki minggu ke-34 atau lebih dengan hemoglobin lebih rendah dari 7g/dl, kegiatan transfusi darah akan direncanakan.

Jika jumlah hemoglobin lebih rendah dari 5g/dl, kemungkinan meningkatkan risiko kematian.

Selain anemia, penyebab lain yang memerlukan transfusi darah adalah perdarahan yang berlebihan dan menyebabkan anemia berat.

Dimuat dalam artikel Royal College of Obstetricians and Gynaecologists, jika Moms memiliki riwayat thalasemia, kondisi ini memengaruhi proses pembentukan hemoglobin yang sehat.

Hal tersebut akan menyebabkan anemia parah dan tentu perlu dilakukan kegiatan transfusi darah.

Baca Juga: 7 Fakta Mengejutkan Tentang Manfaat Donor Darah

Risiko Transfusi Darah saat Hamil

transfusi darah saat hamil 2.jpg

Foto: americanpregnancy.org

Transfusi darah memang akan menambah pasokan darah dalam tubuh, namun bukan berarti hal tersebut tanpa resiko meski dilakukan di saat-saat darurat.

Efek samping yang biasa terjadi saat melakukan transfusi darah saat hamil diantaranya mengalami alergi parah, kontaminasi bakteri, demam, ruam, kesulitan bernafas akibat kelebihan cairan yang membuat paru-paru cedera, rentan tertular penyakit kronis.

Selain itu ada kemungkinan terjadi hemolytic transfusion reaction atau reaksi sistem imun yang memproduksi antibodi untuk menghancurkan sel darah dari pendonor, mistransfusi atau kesalahan proses transfusi oleh pihak medis, dan hemochromatosis atau kondisi zat besi yang berlebih dan memicu kerusakan organ jantung dan hati.

Baca Juga: 12 Aturan Sehat Mengonsumsi Makanan Sebelum dan Setelah Donor Darah

Gejala Infeksi Transfusi Darah

transfusi darah saat hamil 3.jpg

Foto: healthline.com

Ibu hamil yang melakukan kegiatan transfusi darah perlu pemantauan selama proses dan setelahnya.

Biasanya akan dilakukan tindakan oleh dokter jika terjadi gejala seperti mual dan muntah, sakit punggung yang parah, ruam dan gatal, detak jantung yang cepat, kesulitan bernapas, perdarahan, kulit dingin dan berkeringat, menggigil, serta urin berwarna kemerahan atau gelap.

Nah, Moms sudah mengetahui kapan saat yang tepat untuk melakukan transfusi darah.

Namun, sebaiknya Moms tetap perlu berkonsultasi dengan dokter.

Moms perlu melakukan pemeriksaan kesehatan ibu dan janin selama kehamilan untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan terjadi.

Baca Juga: Fakta dan Mitos Seputar Donor Darah yang Harus Moms Ketahui

Artikel Terkait