KESEHATAN
29 Januari 2018

Amankah Menggunakan Pantyliner dan Pembersih Kewanitaan Setiap Hari?

Jangan asal memilih produk, Moms.
Artikel ditulis oleh Intan Aprilia
Disunting oleh Intan Aprilia

Kalau bicara soal perawatan organ intim kewanitaan, saat ini sudah banyak macam-macam jenis produk pembersih kewanitaan untuk mengurangi masalah di area kewanitaan seperti mengatasi bau tidak sedap, gatal-gatal, sampai keputihan.

Untuk mengatasi keputihan pun tidak jarang wanita menggunakan pantyliner dan sabun pembersih kewanitaan. Banyak sebagian wanita yang belum tahu, apakah menggunakan produk seperti itu bisa mengatasi masalah di organ kewanitaan?

Amankah menggunakan pantyliner setiap hari?

shutterstock 489574729

Tidak disarankan menggunakan pantyliner setiap hari. Mengapa? Kebanyakan produk pantyliner yang beredar saat ini mengandung klorin yaitu zat yang bisa memicu iritasi pada daerah kewanitaan juga bisa memicu sel kanker.

Selain itu, menurut dr. Lauren Streicher, ginekolog yang berasal dari Chicago, Amerika Serikat menuturkan bahwa beberapa pantyliner juga memiliki kandungan wewangian untuk mengatasi vagina yang berbau tidak sedap.

Padahal wewangian tersebut bisa menimbulkan iritasi juga menambah kelembapan vagina. Daerah vagina yang terlalu lembap akan membuat jamur dan bakteri mudah bersarang di sana.

Baca juga: 4 Fakta Pembalut yang Jarang Diketahui Perempuan

Amankah menggunakan pembersih kewanitaan setiap hari?

shutterstock 634931801

Penyebab utama para wanita masa menggunakan cairan pembersih kewanitaan biasanya untuk secara cepat mengatasi gatal, keputihan, dan bau tidak sedap. Padahal belum tentu komposisi yang ada di dalamnya cocok untuk pH kulit daerah kewanitaan Moms.

Kadar keasaman daerah kewanitaan normalnya 3,8 sampai 4,2. Kalau produk yang Moms gunakan memiliki kadar pH yang lebih tinggi atau lebih rendah, ini bisa menyebabkan bakteri, kuman, dan virus berkembang dengan cepat di area kemaluan dan bisa berdampak buruk seperti gatal-gatal, terasa panas, iritasi, sampai kemerahan.

Kalau masalah utama Moms adalah keputihan, kita wajib tahu keputihan tidak hanya bisa disembuhkan dengan cara menggunakan cairan pembersih kewanitaan saja. Moms perlu berkonsultasi dengan dokter dan menanyakan apa penyebab keputihan tersebut.

Baca juga: 5 Hal Berbahaya yang Dilarang Saat Menstruasi

Memakai cairan pembersih kewanitaan boleh saja, asal Moms cermat memilih produk dengan komposisi yang baik. Berikut diantaranya:

1. Aroma

Banyak yang memilih pembersih kewanitaan yang beraroma sedikit tajam agar vagina menjadi wangi sepanjang hari. Tapi ini justru sangat berbahaya Moms, karena semakin tajam aroma produk pembersih kewanitaan, maka bahan kimianya semakin banyak. Kalau kulit Moms cenderung sensitif, ini akan memicu alergi.

2. Kandungan asam laktat

Asam laktat yang terkandung di dalam susu yang biasanya jadi salah satu varian dari jenis pembersih kewanitaan ini sudah lama digunakan para wanita untuk membersihkan daerah kewanitaan. Asam ini berfungsi sebagai penyeimbang kadar asam, sehingga keseimbangan pH kulit area vagina bisa selalu seimbang dan terhindar dari kuman dan bakteri.

Baca juga: Apa Bahayanya Jika Memakai Pantyliner Setiap Hari Pada Organ Intim?

3. Gliserin

Kalau produk andalan Moms mengandung gliserin dengan konsentrat yang cukup, ini baik digunakan karena gliserin bisa menjaga kelembutan kulit daerah kewanitaan. Gliserin tidak hanya terdapat di pembersih kewanitaan saja, tapi juga di dalam rangkaian skincare. Gliserin sudah teruji secara klinis baik untuk kulit.

4. Kandunga SLS (Sodium Lauryl Sulphate)

Secara sederhana kandungan SLS adalah bahan yang memberikan buih atau foam saat digunakan bersamaan dengan air. Pada kadar yang cukup SLS bisa dengan ampuh membersihkan secara optimal.

Tapi kalau produk yang Moms gunakan banyak mengandung buih saat digosokan ke tangan, sebaiknya jangan digunakan. Karena kulit daerah kewanitaan Moms akan terasa kering dan bukan tidak mungkin akan menimbulkan lecet kemerahan apabila terjadi gesekan akibat aktivitas sehari-hari.

Apakah produk yang Moms pakai sudah aman untuk digunakan?

(LMF)

Artikel Terkait