DI ATAS 5 TAHUN
20 November 2017

Anak Bermain dengan Teman Imajinasi, Bolehkah?

Apakah hal itu baik, atau justru buruk?
Artikel ditulis oleh Carla Octama
Disunting oleh Carla Octama


Sebuah penelitian yang dilansir Sciencetoday menyebutkan, 60 persen anak di usia 3-8 tahun memiliki teman imajinasi atau khayalan. Tipe temannya pun beragam. Ada yang binatang, boneka atau manusia. Tentu, itu hanya ada dalam pikirannya, tidak nyata dan terlihat dengan kasat mata.

Mungkin awalnya terlihat lucu dan menggemaskan, namun lama-kelamaan pasti muncul rasa khawatir di diri orang tua bagaimana cara menyikapinya. Apakah Moms perlu membiarkannya sampai ia mengerti sendiri bahwa teman khayalannya tidak benar-benar nyata, atau malah langsung mengatasinya?

Baca Juga : Pentingnya Mengenal Teman-Teman Si Kecil

Apakah Hal Itu Baik, Atau Justru Buruk?

shutterstock 424933078

Tracy Gleason, seorang Profesor Psikologi di Universitas Wellesley telah mempelajari mengenai hubungan anak, baik dengan yang nyata maupun khayalan. Ia menjelaskan bahwa lewat teman khayalan, anak seakan ingin memberitahu orang dewasa tentang apa yang dipikirkannya mengenai hubungan antar manusia.

Adapun menurut Robin Goldstein, Penulis The New Baby Answer Book, teman khayalan adalah bagian penting untuk pertumbuhan dan kreativitas seorang anak. Menurutnya, sosok teman imajinasi bisa membantu anak menghadapi emosi dan masalah yang awalnya tidak bisa ia atasi.

Ada beberapa alasan yang menjadi dasar anak menciptakan teman khayalan. Biasanya, kondisi baru pindah rumah dan ia tidak langsung menemukan teman baru di sekitar lingkungan rumah.

Kondisi yang cukup kontradiktif juga bisa terjadi. Misalnya, ketika Si Kecil takut dengan anjing justru ia menciptakan teman khayalan seekor anjing.

Bagaimana orang tua menghadapi anak yang memiliki teman khayalan? Menurut Gleason, hal yang terpenting adalah kalau kondisi tersebut tidak mengganggu atau justru dinikmati oleh Si Kecil dan Moms, tidak ada masalah. Tapi kalau sudah mengganggu, sebagai orang tua, Moms bisa memberi pengertian kalau apa yang dilihatnya itu tidak nyata.

"Bahkan kalau misalnya sampai anak ingin memberi makan teman khayalannya, Moms bisa bilang, teman imajinasi hanya bisa makan yang imajiner juga" jelasnya.

Memberi pengertian secara perlahan pada anak adalah hal yang penting. Di usianya, anak-anak memang wajar memiliki teman khayalan.

(ICA)

Artikel Terkait