PROGRAM HAMIL
22 Juni 2020

Anak IVF Berisiko Cerebral Palsy? Intip Penelitiannya

Infertilitas orang tua yang menjalani IVF tidak memengaruhi risiko cerebral palsy
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Gladys
Disunting oleh Ikhda Rizky Nurbayu

Salah satu jalan keluar bagi orang tua dengan masalah infertilitas adalah melakukan in vitro fertilization (IVF). Prosedur ini kerap kali dihubungkan dengan kelahiran prematur dan berat badan lahir bayi rendah.

Tidak hanya efek saat kelahiran, prosedur IVF juga ditenggarai memiliki efek hingga anak hasil IVF beranjak remaja atau dewasa. Salah satunya kemungkinan risiko anak IVF mengalami cerebral palsy di kemudian hari.

Namun sebuah penelitian terbaru menyebutkan bahwa infertilitas orang tua yang menjalani IVF bukanlah penyebab dari risiko cerebral palsy tersebut.

Baca Juga: 7 Fakta Mengenai Cerebral Palsy Pada Bayi

Kemungkinan Penyebab Cerebral Palsy

1 Kemungkinan Penyebab Cerebral Palsy.jpg

Foto: ivi.uk

Sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Human Reproduction mengambil data dari National Danish Birth Cohort terhadap lebih dari 90.000 anak yang lahir antara tahun 1997-2003.

Para subyek penelitian diberikan pertanyaan mengenai apakah kehamilan mereka direncanakan dan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk hamil. Peneliti membagi anak-anak tersebut dalam kelompok, sesuai dengan berapa lama orang tua mereka membutuhkan waktu untuk hamil.

Orang tua yang segera hamil merupakan kelompok yang subur. Kelompok tersebut terbagi menjadi 0-2 bulan, 3-5 bulan, 6-12 bulan, dan lebih dari 12 bulan.

Baca Juga: 7 Tips Membesarkan Anak dengan Cerebral Palsy

Kehamilan yang tidak direncakan, kehamilan yang berasal dari IVF, intracytoplasmic sperm injection (ICSI), dan induksi ovulasi dengan atau tanpa inseminasi buatan juga masuk dalam kelompok studi untuk melihat apakah infertilitas orang tua yang menjalani IVF berpengaruh pada cerebral palsy.

Infertilitas Bukan Penyebabnya

2 Infertilitas Bukan Penyebabnya.jpg

Foto: Wes Hicks – Unsplash.com

Hasil dari penelitian ini menyebutkan bahwa infertilitas orang tua yang menjalani IVF bukanlah penyebab dari cerebral palsy pada anak IVF.

“Hasil penelitian kami memperlihatkan bahwa bukan itu penyebabnya, karena bahkan pasangan yang membutuhkan waktu setahun atau lebih untuk hamil, dalam statistik tidak mengalami peningkatan risiko yang signifikan dibanding dengan yang hamil secara langsung,” ungkap peneliti sekaligus pakar epidemiologi di Danish Epidemiology Science Center, University of Aarhus, Denmark, Jin Liang Zhu, PhD, seperti dikutip dari webmd.com.

Baca Juga: Mengagumkan! 7 Anak Penderita Cerebral Palsy yang Penuh Prestasi

Dari 3.000 anak dalam kelompok yang lahir dengan IVF/ICSI, hanya 17 anak yang mengalami cerebral palsy. Sehingga estimasi risiko adalah satu banding 176.

Risiko Kelahiran Kembar

3 Risiko Kelahiran Kembar.jpg

Foto: congerdesign – Pixabay.com

Hasil lain dari penelitian yang melihat infertilitas orang tua yang menjalani IVF bukanlah penyebab cerebral palsy ini juga menemukan bahwa dari jumlah anak yang mengalami cerebral palsy, presentase paling tinggi terjadi pada kelahiran kembar (2.11% pada kembar tiga, 0.47% pada kembar dua, dan 0.17% kelahiran tunggal).

Sehingga kelahiran kembar diduga menjadi salah satu penyebab risiko anak IVF mengalami cerebral palsy, di mana memang kelahiran kembar sendiri memiliki faktor risiko lebih tinggi bagi Moms dan bayi. Salah satunya, kelahiran kembar berisiko lebih besar untuk bayi lahir lebih cepat, di saat belum matang sempurna.

Kelahiran kembar yang dihubungkan dengan risiko cerebral palsy pada anak IVF juga dibuktikan dalam penelitian lain yang lebih besar pada anak-anak di Swedia.

Penelitian yang melibatkan 2.623.517 bayi yang lahir antara tahun 1982-2007 ini menemukan bahwa tidak ada peningkatan risiko cerebral palsy yang signifikan pada anak IVF/ICSI.

Baca Juga: Berisiko Tinggi, Begini Gejala Dini Cerebral Palsy pada Bayi Prematur

“Tampak bahwa peningkatan risiko cerebral palsy pada anak IVF yang sebelumnya digaungkan telah menurun dan mungkin sebenarnya telah hilang dalam beberapa tahun terakhir di negara yang hanya mentransfer embrio tunggal pada satu waktu. Ini merupakan berita bagus,” ungkap salah satu tim dari penelitian di Swedia sekaligus co-ordinator European Society of Human Reproduction and Embryology, Professor Karl Nygren, seperti dikutip dari sciencedaily.com.

Dengan melihat penelitian-penelitian ini, tidak perlu khawatir infertilitas orang tua yang menjalani IVF akan memberi efek jangka panjang pada anak. Namun melihat kemungkinan penyebab lain anak mengalami cerebral palsy juga tidak dapat diabaikan dan perlu menjadi pertimbangan.

Artikel Terkait