3-12 BULAN
30 Agustus 2019

Anemia pada Bayi, Mungkinkah Menyerang?

Bayi mulai usia sembilan bulan paling rentan mengalami anemia yang dapat membahayakan.
Artikel ditulis oleh Dina Vionetta
Disunting oleh Dina Vionetta

Anemia tidak hanya dapat dialami oleh orang dewasa.

Bayi baru lahir rupanya juga sangat rentan mengalami anemia.

Dikutip dari thebump.com, sekitar 3% bayi di bawah usia dua tahun mengalami defisiensi zat besi anemia.

Gejala bayi anemia, antara lain: kulit pucat, sesak napas dan kelelahan.

Meskipun terlihat mengkhawatirkan, namun anemia pada bayi mudah untuk diatasi dengan perawatan yang tepat.

Mari kenali lebih dalam mengenai anemia bayi dan apa penyebab dari masalah ini.

Mengenal Anemia

Anemia pada Bayi, Mungkinkah Menyerang 01.jpg

Foto: healthline.com

Anemia terjadi saat tubuh kekurangan sel darah merah.

Sel darah merah ini penting karena akan membawa oksigen ke jaringan tubuh agar dapat berfungsi secara efisien.

Sedangkan, zat besi adalah mineral yang penting untuk pengembangan sel darah merah yang sehat.

Jika bayi mengalami kekurangan zat besi anemia (iron deficiency anemia), itu berarti bayi memiliki terlalu sedikit sel darah merah, karena ia kekurangan zat besi.

Dikutip dari thebump.com, anemia bayi perlu mendapatkan perawatan yang tepat, karena kerap dihubungkan dengan kesulitan belajar serta perilaku anak.

Baca Juga: Sebelum Terjadi, Ini 7 Cara Mencegah Anemia

Bagaimana Bayi Bisa Mengalami Anemia?

Anemia pada Bayi, Mungkinkah Menyerang 02.png

Foto: theguardian.com

Ketika bayi lahir, bayi memiliki cukup zat besi yang telah terkumpul selama waktu di dalam rahim Moms.

Namun zat besi ini hanya cukup untuk enam bulan pertama kehidupan bayi, pada bayi dengan jangka lahir normal.

Sedangkan bayi prematur yang lahir lebih cepat dari waktu kelahiran serta bayi dengan berat lahir rendah, lebih rentan mengalami anemia, karena jumlah zat besi yang terbentuk saat di dalam kandungan Moms lebih sedikit.

Biasanya, zat besi pada bayi prematur hanya bertahan untuk dua bulan pertama kehidupan bayi.

Setelah zat besi habis, bayi perlu mendapatkan tambahan zat besi.

Karena jika tidak, maka bayi rentan mengalami anemia.

“Bayi antara usia sembilan hingga 24 bulan memiliki risiko tertinggi mengalami defisiensi zat besi anemia, karena mereka tumbuh dengan sangat cepat dan sulit bagi bayi untuk mendapatkan semua zat besi yang tubuh mereka perlukan hanya dari menu diet harian,” ungkap Dr. Rallie McAllister, seperti dikutip dari parents.com.

Salah satu pemeriksaan yang dapat dilakukan oleh Dokter untuk mendiagnosis anemia bayi adalah melalui tes darah di laboratorium.

Dokter akan menganalisis jumlah sel darah merah melalui sampe darah bayi yang telah diambil sebelumnya.

Baca Juga: Gejala Anemia Saat Haid, Apa Moms Pernah Mengalaminya?

Perawatan Anemia Bayi

Anemia pada Bayi, Mungkinkah Menyerang 03.png

Foto: bundoo.com

Cara terbaik untuk mengatasi anemia bayi adalah dengan meningkatkan jumlah zat besi melalui MPASI yang dikonsumsi Si Kecil mulai usia enam bulan.

Makanan yang merupakan sumber zat besi, antara lain: daging, kuning telur, dan sayuran hijau, seperti bayam.

Meski demikian, kadang pemberian MPASI bayi yang kaya zat besi pun belum cukup untuk memenuhi kebutuhan zat besi bayi.

Dokter juga dapat merekomendasikan pemberian suplemen zat besi pada bayi untuk sementara waktu, hingga zat besi bayi mencukupi.

“Susu formula saat ini sudah diperkaya dengan zat besi. Sehingga jika bayi minum susu formula, maka zat besi yang dimiliki bayi akan mencukupi. Sedangkan jika bayi ASI eksklusif, maka akan direkomendasikan pemberian suplemen zat besi mulai usia empat bulan,” ungkap dokter anak, Alanna Levine, MD, di Orangetown Pediatric Associates, Tappan, New York, seperti dikutip dari thebump.com.

Baca Juga: Ketahui Gejala dan Langkah Mencegah Anemia Pada Anak

(GS)

Artikel Terkait