KESEHATAN
22 Maret 2020

Apa Bedanya Dermatitis Seboroik dan Dermatitis Atopik?

Cari tahu perbedaan keduanya yuk, Moms
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Adeline Wahyu
Disunting oleh Intan Aprilia

Moms pasti pernah mendengar tentang istilah dermatitis. Ini merupakan istilah yang digunakan untuk mendeskripsikan suatu kondisi kulit yang mengalami peradangan.

Ada banyak jenis dermatitis yang kita ketahui di masyarakat. Tetapi ada 2 jenis dermatitis yang diketahui paling umum, yaitu dermatitis seboroik dan dermatitis atopik atau eksim. Apa saja perbedaan dari kedua jenis dermatitis ini? Berikut penjelasan ahli.

Baca Juga: Apa Dermatitis Atopik Pada Balita Akan Terus Berlanjut Sampai Dewasa?

Perbedaan Dermatitis Seboroik dan Dermatitis Atopik

dermatitis seboroik, dermatitis atopik

Dermatitis seboroik (DS) adalah suatu dermatitis kronis kambuhan yang dapat terjadi pada bayi ataupun dewasa.

“Sering terjadi pada daerah seboroik yang kaya akan kelenjar sebasea, misalnya kulit kepala berambut, wajah, dan badan,” kata dr. Alexander Chandra, dokter spesialis kulit dan kelamin RS Pondok Indah – Puri Indah.

Jenis dermatitis ini juga mempunyai gambaran yang khas berupa bercak kemerahan dengan sisik yang berwarna putih-putih keabuan, hingga kuning berminyak, dan dapat disertai rasa gatal.

Dermatitis seboroik dipengaruhi oleh kelembapan lingkungan, dan perubahan cuaca. Pada umumnya orang yang mengalaminya mulai memiliki gejala ringan seperti ketombe sampai dengan berupa sisik kasar.

DS tidak menular, namun dapat memberikan efek psikologis yaitu hilangnya rasa percaya diri karena penderita dapat dianggap kurang menjaga kebersihan.

Sementara itu dermatitis atopik (DA) merupakan peradangan kulit yang bersifat kronik berulang, disertai rasa gatal, timbul pada daerah tertentu terutama pada wajah bayi, dan daerah lipatan tangan pada anak.

Baca Juga: Mengenal Dermatomiositis, Penyakit Yang Sebabkan Radang Pada Kulit dan Otot

“Jenis dermatitis ini berhubungan dengan penyakit atopik lainnya, misalnya asma, alergi, dan eksim,” jelas dr. Alexander.

Sementara dermatitis atopik biasanya menunjukan gejala yang berbeda pada bayi, anak anak, dan orang tua.

Adapun gambaran utama yang membedakan DS dengan DA, antara lain adalah DS ditandai sisik kasar kuning berminyak yang mengenai kulit kepala, pipi, badan, tangan, dan daerah popok.

Sedangkan DA, penyebaran dan bentuk lesi berbeda menurut usia, tetapi rasa gatal adalah gejala utama DA. Terapi DA ditekankan pada edukasi, mengurangi rasa gatal, serta menghindari kekambuhan.

Gejala Dermatitis Atopik pada Bayi, Anak, dan Orang Dewasa

dermatitis seboroik, dermatitis atopik

Gejala dermatitis atopik pada bayi biasanya muncul di usia 2-3 bulan dan ditandai dengan ruam yang muncul tiba-tiba, kulit bersisik dan gatal, munculnya di kulit kepala dan wajah, terutama daerah pipi berupa sisik kasar, susah tidur karena sangat terasa gatal, bahkan dapat terjadi infeksi karena digaruk.

Sedangkan pada anak biasanya muncul pada usia 2 tahun hingga pubertas. Ruam bisa ditemukan terutama di siku atau lutut, dapat juga timbul di leher, pergelangan tangan, kaki atau lipatan bokong dan kaki.

Menurut dr. Alexander, kulit yang terkena ruam akan kelihatan lebih gelap.

Pada orang dewasa, meskipun jarang timbul pada orang dewasa, gejala yang kerap ditemui yaitu di lipatan siku atau lutut dan tengkuk. Selain itu, dapat menyerang area sekitar mata dan menyebabkan gatal.

Baca Juga: Selain Ruam Popok, Ini Beberapa Masalah Kulit Bayi dan Cara Mengatasinya

Mengatasi Dermatitis Seboroik dan Dermatitis Atopik

dermatitis seboroik, dermatitis atopik

Mandi teratur dua kali sehari dapat membersihkan kotoran dan keringat. Usahakan suhu air mandi, tidak boleh terlalu panas, karena dapat menambah gatal yang bisa terjadi.

Setelah mandi, daerah yang meradang diberi anti inflamasi topikal, sedangkan kulit lainya diberi pelembap.

Pemilihan sabun sangat penting untuk mencegah kulit kering yang memicu gatal,” kata dr. Alexander.

Sabun mandi biasa dan deterjen dapat menghilangkan lapisan minyak dan lemak dari permukaan kulit menjadi lebih kering dan memperburuk dermatitisnya.

Gunakan sabun yang mengandung pelembab, dan hindari sabun atau pembersih kulit yang mengunakan antiseptik karena mempermudah terjadinya resistensi.

Gatal dapat dikurangi dengan penambahan emolien, kompres basah, kortikosteroid topikal, dan antihistamin oral (obat-obatan alergi).

Baca Juga: Tips Memillih Sabun yang Aman Digunakan Bayi

Pada anak dan bayi yang lebih kecil, sebaiknya diberikan kortikosteroid yang potensi rendah, kecuali keadaan abnormal pada tubuh termasuk yang berat, dapat diberikan kortikosteroid dengan potensi yang kuat dalam jangka waktu pendek.

Artikel Terkait