PARENTING
16 Agustus 2019

Apa Bedanya Ibu Baru dan Remaja Galau?

Di usia remaja, kita kerap merasa galau dan sibuk mencari jati diri. Ternyata, begitu juga ketika baru menjadi ibu.
Artikel ditulis oleh Orami
Disunting oleh Prita Apresianti

Masih ingat seperti apa galaunya kita ketika menjalani usia remaja? Tahan napas, Moms! Ternyata masa-masa penuh kegalauan ini akan (atau sedang?) terjadi lagi. Pasalnya bila kita amati, apa yang dialami seorang wanita yang baru menjadi ibu tidak jauh berbeda dengan seorang yang baru jadi anak remaja.

Coba saja ingat-ingat lagi, apa yang terjadi di masa remaja dulu. Masa ini layak disebut masa yang labil karena inilah peralihan dari masa kanak-kanak menuju dewasa. Di masa ini, ego kita berkembang, sibuk mencari pengakuan sambil berusaha menemukan jati diri. Belum lagi secara bersamaan kita sibuk menumbuhkan nilai, persepsi, dan sikap untuk berbagai hal yang kita temui setiap hari.

Di sinilah kemudian banyak masalah mengincar kehidupan kita. Mulai dari masalah gebetan, pacar, sahabat, sekolah, pergaulan, hingga penampilan. Mirip kan, dengan bagaimana ibu baru harus menghadapi suami, mertua, sahabat, para ipar, pasukan ibu nyinyir yang terus memberi nasihat tanpa diminta hingga masalah tubuh melar pascamelahirkan?

Belum juga percaya kalau ibu baru bisa jadi tidak jauh berbeda dari remaja galau? Mari kita bahas lebih dalam, Moms!

Soal Jati diri

by unsplash

Berbagai permasalahan yang kita hadapi saat remaja, sebenarnya adalah sebuah proses pencarian jati diri yang menjadi sebuah sebab dari kedewasaan. Di masa-masa mencari jati diri inilah, kita berusaha menemukan dan menanyakan identitas diri .

Identitas diri, bisa diartikan sebagai cara bagaimana seorang melihat dirinya agar dapat menemukan arti kehidupan dan kebahagian sejati. Misalnya mengenai tempat dan peran kita di dunia ini. Identitas diri juga dikenal dengan istilah konsep diri.

Bila proses pencarian identitas atau jati diri ini tidak berjalan dengan baik, remaja bisa mengalami krisis! Begitu juga dengan ibu baru.

Pasca melahirkan, setiap ibu mungkin mengalami sedikit krisis identitas. Sama seperti remaja yang berbeda-beda proses pendewasaannya, ibu baru juga bisa saja mengalami krisis hingga beberapa hari, beberapa bulan atau bahkan beberapa tahun setelah punya bayi.

Misalnya, sebelum jadi ibu, kita yakin bisa kembali bekerja setelah cuti melahirkan dan dan melanjutkan berbagai proyek yang akan berbuah promosi setahun kemudian. Tetapi setelah bayi lahir, kita malah tidak yakin bisa kembali bekerja mengingat mengatur waktu untuk tidur cukup dan mandi sehari dua kali saja rasanya sulit! Belum lagi bayangan untuk meninggalkan si kecil seharian di tangan pengasuh sudah bisa bikin kita panik tak menentu.

Atau bagaimana kita bangun pagi dengan semangat karena ada janji ketemu dengan beberapa teman, tapi lalu stres sendiri karena semua pakaian di lemari tidak ada yang bisa menutupi perut yang belum juga kempes setelah melahirkan?

Krisis Identitas

Image by Unsplash

Ingat bagaimana kita kewalahan mengatur waktu saat remaja dulu? Misalnya saat hari Sabtu datang. Ada jadwal kencan, latihan dance bareng teman-teman satu ekskul, tapi orang tua juga mengajak pergi atau minta kita ikut acara keluarga. Mana yang harus jadi prioritas?

Saat jadi ibu, urusan prioritas ini tak kalah rumitnya. Kita mungkin tak tahu lagi harus bagaimana menentukan yang mana yang lebih penting karena ibu baru akan terus-menerus menghadapi perubahan prioritas. Perubahan ini bisa menyebabkan berbagai bidang kehidupan terasa tidak seimbang. Tidak heran kalau ibu baru mudah merasa bingung, kerap mempertanyakan siapa dirinya dan merasa galau. Persis ketika mengalami krisis jati diri saat remaja!

Semua orang tentu ingin jadi ibu yang baik. Tapi dalam prosesnya, kegalauan membuat ibu tidak tahu bagaimana harus bersikap, berprinsip, berharap atau sederhananya tidak tahu harus berbuat apa di tengah arus kehidupan barunya. Apalagi di sekitar ibu tentunya ada keragaman pola pikir yang menawarkan kebenaran masing-masing.

Misalnya saat satu teman menerapkan gaya pengasuhan A, teman lain menerapkan gaya B, lalu ibu juga melihat selebgram yang menerapkan gaya pengasuhan C. Begitu deras arus di sekitarnya seperti pada contoh ini, bisa saja membuat ibu akhirnya hanyut. Terbawa pengaruh ke sana-ke mari atau mencoba mengikuti tanpa memahami apa yang betul-betul dibutuhkan dan diinginkannya.

Alih-alih merasa menjadi ibu yang baik atau lebih baik daripada ibu kita sendiri, bisa jadi ibu baru justru merasa hidupnya selalu diatur oleh orang lain. Entah itu orang tua, suami, ipar atau orang lain di sekitarnya. Ibu juga bisa jadi kelelahan karena terus mengejar penghargaan, apresiasi atau nilai baik dari lingkungan. Sampai mungkin kehilangan kepercayaan diri dan tidak bisa lagi mengenali diri sendiri.

Terjebak dalam krisis identitas di mana ibu mungkin merindukan dirinya yang dulu (sebelum punya anak) dan pada saat yang sama tidak dapat mengingat siapa dia yang dulu sekaligus tidak tahu siapa dia yang baru. Rumit, ya?

Kapan jadi dewasa?

by unsplash

Tapi jangan menyerah, Moms! Kalau dulu saat remaja kita punya teman-teman yang membawa pengaruh buruk dan sebaiknya dihindari, begitu juga saat ini. Kalau dulu saat remaja ada pem-bully yang suka menjatuhkan mental dan seharusnya tidak kita dengarkan, begitu juga saat ini. Kalau dulu saat remaja orang tua kita sering menasehati dan setelah dewasa kita mengerti bahwa semua itu hanya karena mereka sayang dan khawatir, begitu juga saat ini.

Pahami, terima, dan akui saja kalau memang saat ini kita mirip remaja galau. Tidak perlu malu! Setidaknya kita tahu kita pernah melalui masa-masa sulit itu dan berhasil jadi pribadi dewasa. Jadi yakin saja kalau saat ini pun kita bisa melaluinya kalau mau berusaha. Yang penting cobalah terus untuk bertahan, pupuk rasa pede, jangan hanyut, apalagi sampai melakukan hal-hal yang merugikan diri sendiri. (Andita G/ Prita)

Artikel Terkait