BALITA DAN ANAK
1 Juni 2020

Apa Itu Neurodermatitis alias Eksim Atopik?

Kenali pemicu dan cara mengatasinya lewat artikel ini
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Fitria Rahmadianti
Disunting oleh Ikhda Rizky Nurbayu

Neurodermatitis adalah penyakit kulit inflamasi kronis yang dikenal juga dengan sebutan dermatitis atopik atau eksim atopik. Gejalanya muncul di lima tahun pertama kehidupan dalam 85% kasus.

Eksim atopik cenderung berkembang saat bayi. Menurut situs web HealthPost, sekitar 60% anak dapat mengatasi kondisi ini pada usia 16 tahun.

Penyebab dan Pemicu Neurodermatitis

Penyebab dan Pemicu Neurodermatitis.jpg

Foto: congerdesign from Pixabay

Penyebab dan pemicu eksim atopik banyak dan bervariasi, di antaranya:

  • Kecenderungan genetik, diwariskan dari satu atau dua orang tua.
  • Kulit bayi lima kali lebih tipis dibanding kulit orang dewasa.
  • Perubahan struktur kulit pada orang dewasa akibat defisiensi, ketidakseimbangan, atau rusaknya fungsi zat (seperti protein atau lemak) yang berperan membentuk lapisan atas kulit. Akibatnya, air banyak menguap dan kulit menjadi kering. Selain itu, kulit lebih mudah dimasuki alergen dan zat lain dari lingkungan. Hal ini bisa memicu reaksi inflamasi.
  • Faktor lingkungan. Contohnya:
    • Polusi lingkungan
    • Zat kimia yang dapat mengiritasi seperti produk untuk mandi dan mencuci
    • Cuaca atau iklim ekstrem
    • Alergi atau intoleransi makanan
    • Stres karena penyakit, gaya hidup, dan lain-lain

Pemicu neurodermatitis bisa berbeda dari satu orang ke orang lain dan bisa berubah sepanjang umur. Karena itu, menurut situs web Pusat Alergi Swiss, seringkali sulit mengidentifikasi pemicunya.

Baca Juga: Mengenal Neurodermatitis: Penyebab dan Cara Mengatasinya

Gejala Dermatitis Atopik

Gejala Dermatitis Atopik.jpg

Foto: floreshealth.com

Gejala-gejala berikut bisa muncul serentak maupun dalam tingkatan yang bervariasi:

  • Kulit kering dan sensitif, kekurangan minyak alami
  • Gatal
  • Kemerahan
  • Bersisik
  • Ruam berair
  • Kulit berkerak
  • Kulit kasar dengan permukaan timbul
  • Bintil-bintil
  • Kulit mengelupas dan menyerpih

Baca Juga: Dermatitis Kontak pada Bayi, Mengapa Sering Terjadi?

Kulit yang teriritasi dan meradang bisa disertai asma alergi serta hay fever. Banyak penderita neurodermatitis, terutama anak-anak, juga mengalami alergi makanan.

Lokasi eksim di kulit tergantung usia penderitanya, yakni:

  • Bayi 0-6 bulan: tangan, kaki, belakang lutut, bagian dalam siku, wajah, tubuh bagian atas
  • Balita: lekuk lutut, siku, wajah, leher, dan tenggorokan
  • Anak-anak, remaja, dan dewasa: tangan dan kaki

Sebenarnya ada beberapa jenis iritasi kulit lain yang sering dianggap sama dengan neurodermatitis, yakni:

  • Kulit kepala bersisik (cradle cap)
  • Seborrhoeic dermatitis
  • Jerawat pada bayi baru lahir
  • Kulit kering di minggu-minggu pertama bayi baru lahir
  • Ruam popok

Karena itu, konsultasikan kondisi Si Kecil ke dokter untuk mendapatkan diagnosis dan perawatan yang tepat.

Baca Juga: Kerak Parah Pada Bayi, Waspadai Dermatitis Seboroik!

Cara Mencegah dan Mengatasi Neurodermatitis

Cara Mencegah dan Mengatasi Neurodermatitis.jpg

Foto: ImagesBG from Pixabay

Banyak penderita eksim atopik mengalami gatal-gatal parah. Menggaruk memang akan mengatasi gatal sementara, tapi bisa merusak kulit yang justru memperparah gatal. Tujuan penanganan neurodermatitis adalah memutus lingkaran setan antara gatal, menggaruk, dan iritasi di kulit.

Cara paling efektif untuk mencegah dan mengatasi eksim atopik adalah mengenali dan menghindari pemicunya. Beberapa langkah yang bisa dilakukan adalah:

  • Catat asupan makanan, pakaian, rutinitas, dan suasana hati Si Kecil selama empat minggu untuk mengenali pemicu neurodermatitis.
  • Rawat kulit Si Kecil dengan membersihkan dan melembapkannya. Misalnya, menambahkan beberapa tetes baby oil bebas pewangi ke air mandi Si Kecil. Inilah dasar perawatan neurodermatitis yang bisa mencegah infeksi, sementara produk perawatan kulit menyuplai lemak dan kelembapan ke kulit.
  • Memakaikan Si Kecil pakaian yang nyaman. Pilih baju atau kain yang mengenai kulit bayi yang berbahan katun, sutra (memberikan efek sejuk), atau linen. Untuk mencegah kulit teriritasi, pastikan jahitan lapisan pakaian yang paling dalam mengarah ke luar. Buang label pakaian. Jangan selimuti anak terlalu tebal dan pakaikan baju sesuai suhu udara untuk menghindari Si Kecil berkeringat yang bisa memperparah gatal.
  • Hindari deterjen pakaian berpewangi. Pilih deterjen ramah lingkungan dan cocok untuk kulit sensitif. Untuk pelembut pakaian, Moms bisa menggunakan sedikit cuka.
  • Untuk gatal yang akut, pastikan kuku Si Kecil pendek. Kalau perlu pakaikan sarung tangan katun ke Si Kecil untuk mencegah kulitnya lecet akibat digaruk-garuk. Moms juga bisa mengompres kulit dengan kain lembap untuk membantu meredakan gatalnya.
  • Moms harus terhindar dari stres agar Si Kecil tidak ikut merasa stres. Lakukan teknik relaksasi seperti yoga, hirup udara segar dengan berjalan-jalan pagi, serta jadwalkan waktu istirahat dan tidur secara teratur. Rutinitas bisa terasa menenangkan karena memberikan rasa aman.

Baca Juga: Dermatitis Atopik pada Anak, Bisa Kambuh Saat Dewasa!

Jika kondisi kulit memburuk meski langkah-langkah di atas sudah diambil, terapi antiinflamasi diperlukan sebagai langkah tambahan. Krim dan salep cortisone serta calcineurin inhibitors atau immunomodulator bisa digunakan.

Artikel Terkait