2-3 TAHUN
9 Oktober 2020

Apa saja Alergi Makanan yang Paling Sering Dialami Anak? Ini Cara Menanganinya

Apa saja makanan yang dapat menjadi ancaman untuknya?
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Orami
Disunting oleh Ikhda Rizky Nurbayu

Alergi makanan pada anak adalah hal yang umum terjadi saat ia masih kecil. Akibatnya, banyak orang tua yang kaget saat pertama kali mengetahui bahwa Si Kecil memiliki alergi pada makanan tertentu.

Dikutip dari Kids With Food Allergies, menurut laporan National Institute of Allergy and Infectious Diseases (NIAID) diperkirakan 5% anak-anak usia 5 tahun dan lebih muda memiliki alergi makanan.

Bahkan, anak yang salah satu orangtuanya memiliki riwayat atopi atau kecenderungan alergi maka ia memiliki kemungkinan alergi sebesar 17-29%.

Sedangkan, Moms dan Dads memiliki riwayat atopi maka kemungkinan anak memiliki riwayat alergi menjadi lebih tinggi hingga 53-58%.

Baca Juga: 6 Langkah Mencegah Alergi Tungau di Kamar Tidur

Alergi Makanan pada Anak, Ini Penyebabnya!

Memang tidak semua makanan dapat memicu reaksi penyakit alergi pada anak.

Namun, menurut Food and Drug Administration berikut merupakan makanan yang dapat memicu reaksi alergi.

1. Susu

alergi makanan pada anak

Foto: dairyfarmersofcanada.ca

Alergi susu dapat menyebabkan anafilaksis, yaitu reaksi yang mengancam jiwa yang mempersempit saluran udara dan dapat menghambat pernapasan.

Wajib dipahami alergi susu berbeda dari intoleransi protein susu dan intoleransi laktosa, ya Moms. Intoleransi susu tidak melibatkan sistem kekebalan tubuh Si Kecil.

Tanda dan gejala umum dari intoleransi protein susu atau intoleransi laktosa sendiri meliputi masalah pencernaan seperti kembung, gas atau diare, setelah mengkonsumsi susu atau produk yang mengandung susu.

2. Telur

alergi makanan pada anak

Foto: thekitchn.com

Alergi telur terjadi ketika sistem kekebalan tubuh secara keliru mengidentifikasi satu atau lebih protein dalam telur sebagai bahaya sehingga melepaskan bahan kimia yang menyebabkan reaksi alergi.

Anak-anak mungkin saja hanya alergi terhadap putih atau kuning telurnya saja dan bukan secara keseluruhan.

"Bagian telur yang paling sering menimbulkan alergi adalah putih telur. Itu dapat menyebabkan gejala yang lebih serius," kata dokter Maria Triassi Asper, seorang ahli alergi di The Hospital for Sick Children, Toronto.

Baca Juga: Waspadai 5 Gejala Anak Alergi Makanan Berikut Ini

3. Makanan Laut

alergi makanan pada anak

Foto: bme.ucdavis.edu

Makanan laut seperti ikan, kepiting, lobster, dan udang merupakan makanan laut yang umum menjadi penyebab alergi.

Namun, berbeda dari alergi makanan lainnya pada bayi dan anak kecil, alergi terhadap ikan mungkin tidak terjadi sampai dewasa.

Dalam sebuah penelitian, sebanyak 40 persen orang yang memiliki alergi ikan mengatakan bahwa mereka tidak memiliki masalah dengan ikan sampai mereka dewasa.

4. Kacang-kacangan

alergi makanan pada anak

Foto: bicycling.com

Beragam jenis kacang baik kacang pohon seperti almond dan biji kenari dan juga kacang tanah hingga kacang kedelai dapat menyebabkan alergi pada anak. Bahkan sekitar 1,2 juta anak-anak di Amerika menderita alergi kacang.

"Saat ini satu-satunya pendekatan yang disetujui untuk alergi ini adalah untuk menghindari kacang," kata dokter James R. Baker Jr., direktur Pusat Alergi Makanan Mary H. Weiser di University of Michigan, Amerika.

Obat baru seperti Palforzia tidak menyembuhkan kondisi ini, tetapi dapat menumpulkan reaksi alerginya yang mengancam jiwa.

Baca Juga: Kenali Berbagai Gejala dan Cara Mengatasi Alergi Dingin!

5. Menangani Alergi Makanan Pada Anak

alergi makanan pada anak

Foto: raisingchildren.net.au

Reaksi alergi yang paling berbahaya pada umumnya adalah kulit memerah dan gatal, eksim, muntah, bengkak pada bagian tubuh, hingga sesak napas.

Oleh sebab itu, hal yang wajib Moms lakukan adalah mengenali makanan yang dapat memicu alergi pada anak. Kemudian, jauhkan anak dari makanan tersebut.

Sebab, jika reaksinya menyebabkan anafilaksis hal ini akan mengancam keselamatan Si Kecil.

Dengan pengetahuan dan antisipasi yang tepat, Si Kecil pun bisa tetap sehat.

Artikel Terkait