NEWBORN
16 April 2019

Bayi Terkena Diare, Apakah Perlu Diobati Antibiotik?

Teruskan ASI sebagai langkah terbaik
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Ikhda Rizky Nurbayu
Disunting oleh Ikhda Rizky Nurbayu

Sepanjang tahun, diare menjadi penyakit yang selalu menjadi perhatian. Diare termasuk dalam tiga penyebab paling besar dari kesakitan serta kematian anak-anak di Indonesia.

Menurut data dari Depkes.go.id, penderita diare semua umur yang sudah dilayani di sarana kesehatan sebanyak 3.176.079 penderita dan meningkat di tahun 2017 menjadi 4.274.790 penderita atau sekitar 60,4 persen dari perkiraan di sarana kesehatan di Indonesia.

Penyebab Timbulnya Diare

101001328 1024x768

Dokter Spesialis Anak dr. Badriul Hegar, PhD, SpA(K) yang salah satu anggota IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia) menjelaskan bahwa penyebab diare pada anak-anak di bawah usia 3 tahun disebabkan oleh Rotavirus (70 persen), sisanya baru diakibatkan oleh berbagai macam bakteri atau parasit.

Maka dari itu, sebagian besar penyakit diare pada anak-anak tidak membutuhkan antibiotik. Bahkan yang memerlukan antibiotik untuk penyakit diare yang disebabkan oleh bakteri itu hanya 10-15 persen saja.

Penggunaan antibiotik harus mendapat perhatian supaya penggunaannya rasional. Hal ini karena antibiotik bisa memengaruhi keseimbangan saluran cerna.

Baca Juga: Anak Diare? Ini 5 Hal yang Harus Diperhatikan

Kapan Memerlukan Antibiotik?

cover

Salah satu keadaan yang memerlukan antibiotik adalah disentri. Disentri adalah radang usus yang menyebabkan diare karena bakteri dan sebagian lain disebabkan oleh amuba.

Antibiotik harus diberikan sesegera mungkin, karena keterlambatan dapat menyebabkan semakin parahnya disentri dan keadaan Si Kecil.

Dikutip dari Idai.co.id, disentri biasanya sangat respons dengan antibiotik yang sensitif dengan shigella (infeksi di saluran cerna). Moms bisa memantau anak-anak setelah 2 hari mengonsumsi antibiotik untuk melihat penyembuhannya.

Tandanya bisa terlihat seperti menghilangnya demam, berkurangnya frekuensi buang air besar dan volume tinja, dan tentunya selera makan yang meningkat.

Baca Juga: Redakan Diare dan Muntah pada Bayi dengan Makanan Ini

Apabila Tidak Terjadi Penyembuhan

shutterstock 164618243

Jika dalam dua hari tidak ada perubahan pada Si Kecil, maka kemungkinannya bakteri sudah resistan dengan antibiotik yang diberi atau bisa jadi terdapat bakteri lain yang menjangkiti.

Moms bisa menggunakan fasilitas laboratorium untuk pemeriksaan lebih lanjut terhadap amuba pada tinja dan nantinya akan diberikan antibiotik pilihan kedua.

Selain itu, disentri juga dapat menyebabkan gangguan nutrisi seperti anak kehilangan selera makannya. Maka dari itu, Moms harus memberikan asupan makanan dan nutrisi yang cukup setiap harinya.

ASI juga harus diteruskan untuk diberikan kepada Si Kecil, bahkan harus lebih sering. Si Kecil yang sudah berusia lebih dari 6 tahun juga harus Moms berikan makanan dengan porsi yang lebih banyak dari biasanya.

(IRN/AND)

Artikel Terkait