KESEHATAN
25 November 2020

Usus Buntu Bisa Sembuh tanpa Operasi, Benarkah?

Moms tidak harus melalui operasi lho!
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Adeline Wahyu
Disunting oleh Ikhda Rizky Nurbayu

Waspalah jika merasakan nyeri pada perut bagian kiri bawah! Bisa jadi usus buntu mengintai. Usus buntu terjadi karena adanya penyumbatan hingga menyebabkan infeksi di dalam rongga usus.

Penyumbatan dapat terjadi karena penumpukan lendir, parasit, hingga feses. Ketika kondisi ini terjadi, bakteri berkembang biak dengan cepat. Hal ini bisa membuat usus buntu bengkak, meradang, dan bernanah.

Umumnya pasien dengan radang usus buntu akan melakukan tindakan operasi pengangkatan usus buntunya. Tetapi penelitian terbaru menunjukkan, ada beberapa kasus usus buntu bisa sembuh tanpa operasi.

Baca Juga: Nyeri Perut Mendadak, Bisa Jadi Gejala Usus Buntu

Dalam kasus yang tidak rumit, sebagian besar pasien dengan usus buntu bisa sembuh tanpa operasi dan dapat diobati dengan sukses dengan antibiotik. Tapi apa sebenarnya penyebab usus buntu ini dan apa gejalanya?

Penyebab Usus Buntu

penyebab usus buntu

Foto: Orami Photo Stock

Dalam banyak kasus, penyebab pasti dari usus buntu tidak diketahui. Para ahli percaya itu berkembang ketika bagian dari usus buntu menjadi terhalang, atau tersumbat. Banyak hal yang berpotensi menghalangi usus buntu kita, termasuk:

  • penumpukan feses yang mengeras
  • folikel limfoid membesar
  • cacingan
  • cedera traumatis
  • tumor

Saat usus buntu Moms tersumbat, bakteri dapat berkembang biak di dalamnya. Hal ini dapat menyebabkan pembentukan nanah dan pembengkakan, yang dapat menyebabkan tekanan yang menyakitkan di perut kita. Kondisi lain juga bisa menyebabkan sakit perut.

Gejala Usus Buntu

Usus buntu tanpa operasi - antibiotik.jpg

Foto: Orami Photo Stock

Jika Moms menderita radang usus buntu, maka mungkin akan mengalami satu atau lebih gejala berikut ini:

  • nyeri di perut bagian atas atau di sekitar pusar kita
  • nyeri di sisi kanan bawah perut
  • kehilangan selera makan
  • gangguan pencernaan
  • mual
  • muntah
  • diare
  • sembelit
  • perut bengkak
  • ketidakmampuan untuk mengeluarkan gas
  • demam ringan

Nyeri radang usus buntu bisa dimulai sebagai kram yang ringan. Kram ini akan menjadi lebih sering terasa dan semakin parah dari waktu ke waktu. Ini mungkin dimulai di perut bagian atas atau area pusar, sebelum pindah ke kuadran kanan bawah perut kita.

Jika Moms mengalami konstipasi dan menduga bahwa kita mungkin menderita radang usus buntu, hindari minum obat pencahar atau penggunaan enema. Perawatan ini dapat menyebabkan usus buntu kita pecah.

Hubungi dokter jika Moms mengalami nyeri tekan di sisi kanan perut bersama dengan gejala radang usus buntu lainnya. Apendisitis dapat dengan cepat berubah ke keadaan darurat medis.

Cara Mengobati Usus Buntu

Usus buntu tanpa operasi - terapi antibiotik.jpg

Foto: Orami Photo Stock

Bergantung pada kondisi Moms, rencana perawatan yang direkomendasikan oleh dokter untuk mengobati usus buntu bisa dilakukan dengan beberapa cara. Mulai dari memberi obat hingga dioperasi.

1. Memberikan Antibiotik

Usus buntu bisa sembuh tanpa operasi dengan intervensi antibiotik. Kasus usus buntu yang tidak rumit biasanya berarti usus buntu memang sudah bengkak tapi belum sampai pecah. Jika tidak diobati, usus buntu yang meradang tentu dapat menjadi kasus yang rumit.

Para peneliti di Turku University Hospital yang berada di Finlandia membagi 530 orang dengan kasus radang usus buntu yang tidak berat ini menjadi dua kelompok. Kelompok pertama menerima perawatan antibiotik, sedangkan kelompok lainnya menjalani operasi. Para peneliti mengikuti kedua kelompok tersebut selama satu tahun.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sekitar 72 persen pasien yang menerima perawatan antibiotik tidak memerlukan pengangkatan usus buntu mereka.

“Studi ini memberi lebih banyak bukti bahwa terapi penggunaan antibiotik sebagai pengganti operasi mungkin menjadi pilihan bagi beberapa pasien dengan radang usus buntu,” ujar Matthew Kroh, MD, Direktur Bedah Endoskopi di Institut Penyakit dan Bedah Pencernaan Klinik Cleveland, Amerika Serikat.

Mengobati usus buntu dengan antibiotik memang semakin populer di kalangan dokter Eropa. Menariknya, perawatan tersebut ternyata belum terlalu diterima sebagai standar perawatan rutin di Amerika Serikat. Perawatan standar usus buntu di sana masih berupa operasi pengangkatan organ.

Dikutip dari Harvard Health Publishing, para peneliti Appendicitis Acuta (APPAC) menemukan bahwa enam dari setiap 10 pasien yang awalnya diobati dengan antibiotik untuk radang usus buntu akut tanpa komplikasi tetap bebas penyakit pada lima tahun.

Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam British Medical Journal, juga menemukan bahwa antibiotik mungkin merupakan pengobatan terbaik untuk radang usus buntu tanpa komplikasi.

Mereka kembali menyimpulkan bahwa pengobatan antibiotik saja tampaknya layak sebagai alternatif untuk operasi untuk radang usus buntu akut tanpa komplikasi.

Baca Juga: Usus Buntu pada Anak, Kapan Harus Dioperasi?

2. Operasi Usus Buntu

Saat Moms bertemu dengan dokter, mereka akan melakukan pemeriksaan fisik dan mengajukan pertanyaan tentang gejala yang kita alami. Mereka juga akan melakukan tes tertentu untuk membantu mereka menentukan apakah Moms menderita usus buntu. Pemeriksaan yang dilakukan termasuk:

  • tes darah untuk mencari tanda-tanda infeksi
  • tes urine untuk memeriksa tanda-tanda ISK atau batu ginjal
  • USG perut atau CT scan untuk melihat apakah usus buntuk meradang

Jika dokter mendiagnosis Moms dengan radang usus buntu, mereka kemudian akan memutuskan apakah kita memerlukan pembedahan segera atau tidak.

Jika diperlukan, dokter bedah kemudian akan melakukan operasi untuk mengangkat usus buntu kita, yang disebut apendektomi.

Dokter bedah mungkin melakukan operasi open appendectomy atau laparoskopi apendektomi. Ini tergantung pada tingkat keparahan apendisitis Moms.

  • Open appendectomy, atau operasi usus buntu terbuka. Selama operasi usus buntu terbuka, ahli bedah akan membuat satu sayatan di sisi kanan bawah perut kita. Mereka mengangkat usus buntu dan menutup luka dengan jahitan. Prosedur ini memungkinkan dokter untuk membersihkan rongga perut jika usus buntu Moms pecah atau jika mengalami abses.
  • Laparoskopi apendektomi, selama operasi usus buntu laparoskopi, ahli bedah akan membuat beberapa sayatan kecil di perut kita. Mereka kemudian akan memasukkan laparoskop ke dalam sayatan. Laparoskop adalah tabung panjang dan tipis dengan lampu dan kamera di bagian depan. Kamera akan menampilkan gambar di layar, memungkinkan dokter untuk melihat ke dalam perut kita dan memandu instrumen. Saat menemukan usus buntu, mereka akan mengikatnya dengan jahitan dan melepaskannya. Mereka kemudian akan membersihkan, menutup, dan membalut sayatan kecil tersebut.

Setelah operasi, dokter akan meminta kita untuk tinggal di rumah sakit sampai rasa sakit yang dirasakan terkendali dan Moms dapat mengonsumsi cairan.

Jika Moms mengalami abses atau jika terjadi komplikasi, dokter mungkin ingin kita tetap minum antibiotik selama satu atau dua hari.

Penting untuk diingat bahwa meskipun masalah mungkin saja muncul, kebanyakan orang melakukan pemulihan penuh tanpa komplikasi.

3. Mengonsumsi Jahe

Usus buntu tanpa operasi - minuman jahe.jpg

Foto: Orami Photo Stock

Jika sudah ada tanda-tanda mengalami usus buntu dengan gejala yang menyertainya, ada beberapa cara untuk mengurangi peradangan dan mengatasi rasa nyeri yang dialami. Moms dapat mengkonsumsi jahe dan bawang putih yang merupakan antiinflamasi alami.

Perlu juga untuk mengkonsumsi makanan tinggi serat agar meminimalisir terjadinya sembelit yang berkontribusi pada radang usus buntu.

Jika usus buntu kembali kambuh setelah Moms menjalani terapi antibiotik dan mengkonsumsi beberapa makanan yang dianjurkan, segera konsultasikan dengan dokter, ya, Moms.

Artikel Terkait