PARENTING ISLAMI
9 September 2020

Ini Aturan Tidur Terpisah dengan Anak Menurut Islam

Catat aturan tidur terpisah dengan anak menurut Islam agar mendapatkan manfaat dan berkah
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Fia Afifah R
Disunting oleh Andra Nur Oktaviani

Seorang anak harus mendapatkan pendidikan Islam sejak dini, termasuk dalam hal adab. Salah satunya, orang tua memiliki kewajiban untuk mendididik anak dengan baik dan benar dalam hal memisahkan tempat tidur.

Mengapa harus ada aturan tidur terpisah dengan anak menurut islam? Salah satu alasannya terdapat dalam sebuah hadist: “Perintahlah anak-anak kalian untuk melakukan shalat saat mereka berumur tujuh tahun, pukullah mereka (jika tidak melaksanakan shalat) saat mereka telah berumur sepuluh tahun, dan pisahlah tempat tidur di antara mereka,” (HR Abu Daud).

Kewajiban memisah ranjang ini salah satunya ditegaskan dalam kitab Kifayah al-Akhyar yang menyatakan bahwa haram bagi seorang laki-laki tidur seranjang dengan laki-laki yang lain, begitu juga bagi perempuan haram tidur satu ranjang dengan perempuan yang lain, meskipun masing-masing dari mereka berada di sisi ranjang yang lain, seperti yang dimutlakkan oleh Imam ar-Rafi’i dan diikuti oleh Imam an-Nawawi dalam kitab ar-Raudhah.

Sedangkan dalam kitab Syarah Muslim, Imam an-Nawawi membatasi keharaman tersebut ketika mereka dalam keadaan telanjang. Batasan demikian sama halnya yang ditegaskan oleh Qadli Husein, al-Harawi dan ulama lainnya.

Dan ketika anak kecil laki-laki dan perempuan telah menginjak usia sepuluh tahun, maka wajib untuk memisahkan mereka dengan ibu, bapak, saudara laki-laki, dan perempuannya dengan ranjang yang berbeda, sebab terdapat dalil nash yang menyebutkan hal ini. (Abu Bakar bin Muhammad al-Husaini, Kifayah al-Akhyar, hal. 354)

Baca Juga: 10 Aturan untuk Ibu Menyusui Menurut Islam, Jangan Abaikan!

Tidur Terpisah dengan Anak Menurut Islam Dimulai saat Berusia 7 Tahun

Kapan Harus Tidur Terpisah Dengan Si Kecil? -1

Foto: Orami Photo Stock

Berdasarkan hal tersebut, terdapat ketentuan tentang aturan tidur terpisah dengan anak menurut Islam. Para ulama berpandangan bahwa tempat tidur anak harus dipisah, baik dengan orang tua ataupun saudaranya, tatkala anak sudah menginjak usia sepuluh tahun.

Kewajiban ini selain berlandaskan dalil tersebut, juga dimaksudkan agar menjauhi prasangka buruk (mawadhi’ at-tuham) serta agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, sebab usia sepuluh tahun merupakan usia-usia mulai munculnya syahwat (madzinnah as-syahwat).

Meski demikian, sebagian ulama berpendapat aturan tidur terpisah dengan anak menurut Islam tidak dimulai dari usia sepuluh tahun, melainkan sejak anak menginjak usia tujuh tahun.

Pendapat ini salah satunya diusung oleh Imam az-Zarkasyi dengan berpijak pada dalil hadits yang lain, yakni: “Jika anak kalian telah berumur tujuh tahun, maka pisahlah ranjang tidur mereka,” (Hadits riwayat Imam Daruquthni dan Imam Hakim). Hadits ini adalah hadits shahih berdasarkan syarat kualifikasi Imam Muslim.”

Namun, penetapan usia tujuh tahun sebagai aturan tidur terpisah dengan anak menurut Islam dipandang sebagai pendapat yang lemah oleh para ulama. Karena, saat berumur 7 tahun hanya sebuah anjuran (sunnah), dan tidak sampai mengarah pada hukum wajib.

Lebih lanjut Imam Ibnu Rusy dalam al-Muqadimat juga menjelaskan, tempat tidur anak-anak mulai dipisahkan pada umur tujuh tahun saat mulai diperintahkan untuk salat, dan ada pula yang mengatakan; pada usia sepuluh tahun ketika mereka dididik melakukan salat.

Menurut Ibnu Rusyd, pendapat yang mengatakan bahwa pemisahan tempat tidur sejak umur tujuh tahun karena pada usia tersebut bisa dikatakan sebagai akhir masa kanak-kanak, ditandai dengan tanggalnya semua gigi susu dan telah berganti dengan gigi tetap.

Baca Juga: 8 Aturan Islam tentang Bayi Baru Lahir, Jangan Diabaikan!

Cara Tidur Terpisah dengan Anak Menurut Islam

Kapan Harus Tidur Terpisah Dengan Si Kecil? -2

Foto: Orami Photo Stock

Maksud memisahkan tempat tidur antara anak dan orang tua, dapat mengarah pada dua cara. Pertama, memisah tempat tidur dengan memiliki tempat tidur sendiri-sendiri. Kedua, tempat tidur cukup satu tempat atau satu ruangan, namun masing-masing anak dan orang tua berada di tempat yang terpisah dan tidak saling berdekatan.

Masing-masing dari dua cara dalam memisahkan anak dan orang tua dalam tempat tidur sama-sama dapat dijadikan pijakan dan diamalkan, meski yang paling utama adalah mengikuti cara pertama, sebab cara tersebut merupakan cara yang paling hati-hati (al-ahwath).

Dalam praktiknya, sebaiknya orang tua harus bijak dan memperhatikan sarana dan prasarana yang tersedia dalam rumahnya, jika ruangan rumah hanya terbatas dan tidak memungkinkan untuk dipisah dengan kamar yang lain, maka boleh bagi orang tua untuk mengikuti cara kedua dalam memisah tempat tidur anak dengan sekiranya tidur anak dan orang tua tidak berdekatan dan menempel, meski masih dalam satu ruangan yang sama.

“Di samping menyiapkan suasana baru bagi anak yang beranjak kian dewasa, memisahkan tempat tidur juga bagian dari ikhtiar membentuk pribadi anak untuk lebih mandiri. Dengan tidur sendiri, apalagi bila punya kamar sendiri, anak dilatih untuk bertanggung jawab atas dirinya dan ruangannya tanpa mesti selalu bergantung pada orang tua,” kata Ustadz M. Ali Zainal Abidin, Pengajar di Pondok Pesantren Annuriyyah, Kaliwining, Jember, Jawa Timur dilansir Nahdlatul Ulama.

Baca Juga: Jangan Berteriak kepada Anak, Ini Hukumnya Menurut Islam!

Aturan tidur terpisah dengan anak menurut islam tentu saja harus disesuaikan dengan kondisi keluarga.

Artikel Terkait