BAYI
13 Agustus 2020

BAB Bayi Berlendir, Apa Penyebabnya dan Bagaimana Cara Mengatasinya?

Moms perlu waspada kalau BAB Si Kecil berlendir
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Adeline Wahyu
Disunting oleh Amelia Puteri

Karena makanan Si Kecil sebagian besar dalam bentuk yang cair di bulan-bulan pertama kehidupan mereka, maka jangan heran jika bayi kita memiliki tinja atau kotoran yang tidak menyerupai milik anak yang lebih tua atau orang dewasa.

Moms akan menemui kotoran yang sedikit lunak, bahkan mungkin tidak pada saat mengganti popok anak. Terkadang sulit untuk Moms mengetahui apakah tinja bayi ini adalah normal atau tidak.

Salah satu contohnya adalah adanya BAB bayi berlendir. Terkadang lendir adalah bagian dari proses normal. Namun terkadang, lendir pada BAB bayi bisa menjadi tanda infeksi yang menyebabkannya atau kondisi medis.

Usus secara alami akan mengeluarkan lendir yang membantu melapisi saluran usus, mencerna makanan, dan mengeluarkan kotoran. Terkadang, beberapa lendir ini muncul di kotoran bayi. Sejumlah kecil lendir dalam satu atau dua popok anak, jika tidak disertai dengan gejala lain, maka Moms tidak perlu mengkhawatirkannya.

Akan tetapi, ada kalanya lendir muncul dalam jumlah yang besar atau terjadi berulang selama beberapa hari. Dalam hal ini, kemungkinan besar ada masalah pada Si Kecil. Apa penyebab dan bagaimana cara mengatasinya? Simak penjelasan berikut ini ya Moms.

Baca Juga: Penyebab dan Cara Mengatasi Sembelit pada Bayi

Penyebab BAB Bayi Berlendir

penyebab bab bayi berlendir

Foto: Orami Photo Stock

Penyebab BAB bayi berlendir, bisa jadi disebabkan karena beberapa kemungkinan berikut ini.

1. Infeksi

Lendir pada kotoran bayi mungkin menandakan adanya kelainan pada usus bayi. Kelainan ini paling sering merupakan infeksi.

Infeksi bakteri atau virus (flu lambung) dapat mengiritasi usus dan menyebabkan peradangan. Hasilnya adalah peningkatan lendir di kotoran bayi.

Gejala lainnya yang dapat mengindikasikan infeksi sedang terjadi adalah demam dan bayi yang rewel. Bayi dengan infeksi juga memiliki tinja berwarna hijau.

Beberapa darah bahkan mungkin akan terlihat dalam kasus iritasi yang ekstrem. Namun infeksi ini umumnya hilang dengan sendirinya atau dengan pengobatan antibiotik dalam waktu 1 minggu.

2. Alergi dan Sensitivitas pada Makanan

Penyebab lainnya dari BAB bayi berlendir adalah karena alergi dan sensitivitas terhadap makanan. Kedua hal ini dapat mengakibatkan diare atau memicu lendir saat bayi BAB.

Pada bayi yang menyusui, perubahan dalam makanan yang dikonsumsu ibu juga bisa menjadi salah satu penyebab. Sensitivitas terhadap zat besi, kedelai, atau bahan susu fomula lainnya juga bisa ikut berperan.

Bayi yang sudah lebih besar dan bisa makan makanan padat, beberapa makanan bisa menyebabkan diare. Hal ini bisa menjadi tanda awal dari sensitivitas makanan, walaupun sebenarnya perubahan warna ini merupakan hal yang umum terjadi.

Lalu, perubahan pada makanan bayi, seperti berganti ke susu formula baru juga bisa menyebabkan diare selama beberapa hari.

Moms harus bicarakan dengan dokter anak untuk mengatasi risiko diare dan sakit perut saat perubahan makanan. Hal ini juga mungkin perlu lebih diperhatikan secara ekstra jika anak menunjukkan tanda-tanda gangguan tumbuh kembang.

"Gangguan tumbuh kembang berarti ada gangguan pada pertumbuhan (tinggi dan berat) serta pada perkembangan anak (kemampuan menguasai teknik baru, seperti berjalan, berbicara, bermain, dan lain-lain)," jelas dr. Ayu Andrian Putri dari Meet Doctor.

Baca Juga: 3 Tanda Bayi Alergi Makanan yang Harus Diwaspadai

3. Tumbuh Gigi

Bayi yang tumbuh gigi bukan hanya rewel, namun bisa juga disertai dengan gejala seperti adanya lendir di kotoran Si Kecil.

Berdasarkan jurnal American Dental, gigi-gigi geraham balita akan muncul pada usia mereka 2 tahun. Biasanya muncul ketika seorang anak berusia antara 23 dan 33 bulan.

Adanya kelebihan air liur dan rasa sakit karena tumbuh gigi dapat mengiritasi usus anak, sehingga menghasilkan lendir berlebih di feses.

4. Cystic Fibrosis

Bayi dengan cystic fibrosis mungkin mengalami peningkatan jumlah lendir sebagai efek samping dari kondisinya. Lendir akan cenderung mengeluarkan bau busuk dan berminyak. Bayi juga mungkin memiliki penambahan berat badan yang buruk dan pertumbuhannya tertunda karena cystic fibrosis.

Kondisi ini juga menyebabkan lendir berlebih berkembang di organ-organ lainnya, terutama paru-paru, pankreas, hati, dan usus.

Karena cystic fibrosis dapat mengganggu pencernaan anak, dokter akan merekomendasikan enzim khusus untuk perawatan. Jika kenaikan berat badan bayi tidak terlihat juga, kadang-kadang tabung makanan digunakan untuk memberikan nutrisi.

5. Intususepsi

Intususepsi adalah kondisi medis serius yang dapat terjadi ketika usus bayi saling bergeser, suatu proses yang dikenal sebagai "teleskoping." Ini adalah keadaan darurat medis karena aliran darah hilang ke usus dan tinja tersumbat.

Akibatnya, bayi mungkin hanya bisa mengeluarkan lendir yang telah dikeluarkan di bawah area yang tersumbat. Kotoran anak bahkan sering menyerupai jeli merah berwarna gelap.

Gejala intususepsi lainnya termasuk sakit perut yang datang dan pergi, muntah, adanya darah di kotoran, serta anak tampak lesu atau ngantuk setiap saat.

Baca Juga: Gejala & Penanganan Dehidrasi Pada Bayi

Cara Mengatasi BAB Bayi Berlendir

cara mengatasi BAB bayi yang berlendir

Foto: Orami Photo Stock

Kondisi BAB bayi yang berlendir ini biasanya tidak perlu dikhawatirkan selama bayi Moms menunjukkan perilaku yang normal dan tidak memiliki tanda-tanda infeksi atau penyakit lainnya, seperti terus-menerus rewel sepanjang hari, demam, serta adanya bercak darah di kotoran anak

Perawatan untuk BAB bayi berlendir tergantung pada penyebab yang mendasarinya.

Sebagai contoh, seorang dokter akan merekomendasikan perawatan suportif untuk bayi dengan infeksi virus di lambung. Ini bisa termasuk memberikan cairan untuk mencegah dehidrasi dan obat-obatan untuk menjaga demam Si Kecil turun.

Jika alergi adalah penyebab utama lendir pada kotoran bayi, dokter dapat merekomendasikan diet makanan untuk ibu jika menyusui.

Contohnya termasuk menghilangkan susu sapi dari makanan kita. Jika bayi diberi susu formula, dokter dapat merekomendasikan untuk mengganti susu formula.

Jika intususepsi merupakan penyebab utama BAB bayi berlendir, dokter kemungkinan akan merekomendasikan pembedahan untuk memperbaiki tumpang tindih usus. Dalam beberapa kasus, juga mungkin dapat menggunakan barium atau enema udara untuk membantu “pelurusan” usus.

Apa pun pendekatan terhadap intususepsi, perawatan yang cepat sangat penting untuk mencegah hilangnya aliran darah ke usus. Kalau tidak, bayi berisiko lebih besar mengalami perforasi usus (lubang di usus).

Jika ada tanda-tanda infeksi atau penyakit bersamaan dengan lendir di kotoran bayi, Moms harus segera menghubungi dokter anak untuk mencari tahu. Hubungi dokter juga jika bayi menolak cairan atau minum sedikit cairan dan mulai tampak dehidrasi.

Tanda-tanda dehidrasi termasuk tidak mengeluarkan air mata saat menangis atau popoknya tidak sering basah seperti biasa.

Moms harus terus memantau BAB Si Kecil. Jika bayi terus-menerus memiliki feses yang mengandung lendir dan Moms khawatir, hubungi dokter anak.

Jika Moms merasakan warna merah seperti darah di kotoran bayi atau bayi sakit tanpa alasan yang jelas, hubungi dokter anak.

Namun Moms, sebagian besar perubahan pada kotoran bayi ini hanya bersifat sementara, dan sejumlah kecil lendir di kotoran bayi biasanya tidak perlu dikhawatirkan. Ini merupakan hal normal, terutama jika Si Kecil masih menyusui eksklusif.

Dokter anak biasanya akan menawarkan jaminan dan membantu memantau gejala-gejala pada bayi. Apa yang terpenting, Moms harus memeriksakan anak secara rutin ke dokter, untuk mengetahui pertumbuhan dan perkembangan Si Kecil berjalan lancar atau tidak ya.

Artikel Terkait