3-12 BULAN
30 Mei 2020

Stop Menggendong Bayi Hadap Depan, Ini Bahayanya!

Menggendong hadap luar bisa menyebabkan overstimulasi
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Indah
Disunting oleh Intan Aprilia

Menggendong bayi menghadap depan atau membelakangi orang tua seakan menjadi tren karena dianggap menyenangkan dan mampu menstimulasi bayi. Hal ini bisa benar dan bisa juga salah.

Bayi pada usia tertentu memang mulai menikmati dan ingin tahu tentang apa yang ada disekitarnya, terutama ketika ia mulai memiliki kontrol leher yang cukup baik serta ia tidak lagi tidur terus menerus, biasanya ketika memasuki usia 4 bulan.

Dr. Rosie Knowles dalam bukunya Why Babywearing Matters mengatakan, beberapa orang tua mulai menggendong hadap luar atau yang dikenal dengan front facing out atau FFO karena berpikir bahwa itu yang terbaik untuk anak yang mulai ingin tahu.

Banyak orang tua percaya bahwa bayi perlu diberikan stimulasi sebanyak mungkin untuk melihat lingkungan sekitarnya ketimbang melihat orang tuanya sendiri.

Baca Juga: 5 Cara Tepat Menggendong Bayi, Wajib Diperhatikan!

Sebenarnya, kepercayaan ini menunjukkan adanya ketidak percayaan diri pada orang tua dan menganggap dirinya tidak cukup menarik untuk dilihat oleh anak.

Padahal, dengan menggendong bayi menghadap ke Moms, ia bisa mempelajari banyak hal, terutama belajar beragam emosi dan ekspresi.

Wajah orang tua seharusnya sudah cukup untuk membuat anak merasa bahagia jika diimbangi dengan komunikasi serta bercanda ria dengan bayi.

Bahaya Menggendong Bayi Hadap Depan

2 Kebiasaan Tidur Di Gendongan.jpg

Foto: Orami Photo Stock

Memang, tidak ada salahnya untuk mengenalkannya dengan dunia luar sesekali, tapi Moms harus mewaspadai bahaya menggendong bayi hadap depan berikut ini:

1. Overstimulasi

Produsen gendongan banyak menyarankan untuk menggendong posisi depan tidak lebih dari 20-30 menit perhari.

Hal ini disarankan, terutama untuk bayi di bawah satu tahun, karena bahaya akan overstimulasi akan mengintai.

Overtimulasi bisa membuat bayi mendadak menjadi rewel, karena terlalu banyak informasi yang harus ia cerna dan membuatnya menjadi stres.

2. Tertidur

Bayi memang mudah sekali lelah. Tertidur bukan selalu menjadi tanda bahwa anak nyaman, tapi bisa jadi ia lelah.

Membiarkan anak tertidur di dalam gendongan menghadap depan bisa berbahaya, yakni pada pernapasan bayi.

Bayi yang tertidur pada posisi depan cenderung akan menunduk sehingga bisa menyebabkan jalur napasnya terhambat.

Segera pindahkan anak ke posisi menghadap orang tua jika anak tertidur.

Baca Juga: Review Jujur Gendongan Baby Tula dari Moms Orami

3. Gendongan Tidak Ergonomis

Di pasaran, gendongan yang memiliki fitur gendong hadap luar lebih banyak yang panelnya sempit.

Ketika anak masuk ke dalam gendongan kaki anak tegak lurus dan menyebabkan keseluruhan tubuh anak menggantung tegak lurus.

Hindari menggunakan gendongan jenis ini karena tidak nyaman dan akan membahayakan struktur tulangnya.

Pilih gendongan yang memungkinkan kedua paha anak tertopang membentuk huruf M, tidak perlu hip seat, asal paha anak tertopang dengan baik, gendongan jenis ini bisa lebih nyaman dan aman digunakan baik untuk bayi dan juga orang tua.

4. Bayi Belum Memiliki Kontrol Leher yang Baik

Hindari menggendong bayi menghadap ke depan ketika anak belum memiliki kontrol leher yang baik.

Sama seperti halnya dengan tertidur di dalam gendongan, anak yang belum memiliki kontrol leher yang baik cenderung akan menempelkan dagu pada dadanya.

Hal ini bisa berbahaya pada bayi karena bisa menghambat jalan napasnya.

Alternatif Gendongan Hadap Depan

gendong2.jpg

Photo: Orami Photo Stock

Akibat beberapa bahaya menggendong bayi hadap depan, Moms bisa menerapkan alternatif menggendong di bawah ini:

1. Hip Carry

Memasuki usia 4 bulan dan anak mulai ingin tahu dengan lingkungan sekitar, menggendong bayi di samping atau hip carry bisa menjadi alternatif.

Posisi ini memungkinkan anak memiliki pandangan yang lebih luas dan anak bisa memilih sendiri untuk melihat orang tuanya atau ingin melihat lingkungan sekitarnya.

Orang tua juga bisa mengontrol anak lebih baik pada posisi ini, juga bisa merespon anak dengan cepat.

Baca Juga: Review Jujur Gendongan Ergobaby 360 oleh Moms Orami

2. Back Carry

Back carry aman dilakukan ketika anak sudah mampu duduk tegak mandiri. Back carry sama halnya dengan hip carry.

Dengan menggendong di punggung, anak bisa melihat lingkungan sekitar dan bersandar di punggung Moms ketika ia lelah.

Menggendong posisi ini juga bisa memungkinkan penggendong bergerak lebih leluasa.

Artikel Terkait