2-3 TAHUN
3 Maret 2018

Balita Hipertensi, Kok Bisa?

Hipertensi tidak hanya diderita orang dewasa, lho!
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh (andia.ratna)
Disunting oleh (andia.ratna)

Ternyata tidak hanya orang dewasa yang bisa mengalami hipertesi (darah tinggi), balita pun bisa mengalaminya walaupun dengan insidensi yang lebih kecil. Adanya hipertensi pada balita menandakan bahwa ada masalah kesehatan yang mengganggunya.

Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), hipertensi pada anak dapat berkisar 1-2%. Anak dengan hipertensi ternyata memiliki risiko 4 kali lebih besar untuk mengalami hipertensi saat dewasa nantinya dibanding anak yang normal.

Kenapa bisa terjadi?

Sebenarnya hipertensi pada anak atau balita terjadi bisa disebabkan oleh kelainan sekunder atau ada penyakit yang menyertai sebelumnya.

Penyakit penyerta tersebut antara lain kelainan endokrin seperti hipertiroid, Conn’s Syndrome (pertumbuhan tumor jinak pada kelenjar adrenal), Hiperaldosteron (hilangnya kalium dalam jumlah besar dan memicu peningkatan natrium), kelainan ginjal di jaringan, atau akibat pemakaian obat-obatan tertentu.

Lalu dari mana mama bisa tahu balita mengalami darah tinggi?

Mama dapat menilai dari keluhan dan tanda fisik dari balita seperti gelisah, sesak napas, berkeringat, muntah, pucat, hingga kejang. Jika balita anda menunjukkan gejala yang demikian, segera lakukan pemeriksaan tekanan darah.

Pada umumnya tekanan darah pada anak-anak berbeda sesuai dengan usia dan jenis kelaminnya. Menurut American Heart Association dan American Academy of Pediatrics menyarankan agar balita mulai rutin menjalani pemeriksaan tekanan darah ketika dia beranjak usia 3 tahun.

Batas atas sistolik pada anak dengan usia tiga tahun berkisar antara 104 – 116. Hal ini juga bergantung pada tinggi badan serta jenis kelamin. Sedangkan pada kisaran diastolik normalnya adalah 63 sampai 74.

Bagaimana pengobatannya?

Yang harus Mama lakukan adalah kontrol secara rutin ke dokter anak untuk pengobatan lebih lanjut. Biasanya ada yang bersifat farmakologis dan non farmakologis.

Farmakologis bisa dinilai dari pemberian obat antihipertensi untuk mengontrol tekanan darah anak agar bisa dalam batas normal. Dari segi nonfarmakologis bisa dinilai dengan memperhatikan faktor gaya hidup balita. Mama dapat mengajaknya untuk aktif bergerak atau olahraga kecil dan membatasi asupan garam pada makanan si kecil.

(PIA)

Artikel Terkait