2-3 TAHUN
10 Oktober 2017

Balita Senang Menggambar di Tembok, Jangan Dimarahi!

Dicat ulang, anak corat-coret lagi. Menjengkelkan, ya?
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh fitria.rahmadianti
Disunting oleh fitria.rahmadianti

Menginjak usia balita, anak seakan melihat tembok sebagai hamparan luas media untuk ia warnai dengan krayonnya. Dinding rumah yang tadinya bersihpun kini berhias 'lukisan artistik' karya si 'maestro cilik'. Rumah jadi terlihat kotor dan berantakan. Dicat ulang, anak bikin gambar lagi di tembok. Begitu terus. Jengkel? Wajar. Tapi jangan sampai memarahi anak, ya, Ma.

Jika anak Mama termasuk tipikal suka mencoret tembok, jangan khawatir. Ini adalah bagian dari kreativitasnya, layaknya menari atau menyanyi. Hal ini terjadi karena balita sedang dalam periode mengeksplorasi. Selain menggambar di dinding, rasa penasaran si kecil juga bisa terjadi dalam bentuk mengorek-ngorek tembok atau mengelupas lapisan cat dinding.

Larangan yang terlalu sering Mama sampaikan bisa menghambat kreativitasnya. Akibatnya, anak jadi kurang percaya diri, kurang inisiatif, dan menjadi pribadi pemalu. Lantas, apakah Mama tak perlu mengambil tindakan apa-apa? Tidak juga.

Mama tidak perlu memarahi soal anak menggambar di dinding, karena pada dasarnya coret tembok akan berhenti pada masa tertentu. Lebih baik arahkan ia untuk menuangkan kreativitasnya ke media yang seharusnya. Berikan dukungan terhadap kegiatan menggambarnya dengan memberikan selembar kertas dan katakan bahwa media untuk menggambar adalah kertas atau kanvas, bukan tembok.

Jika anak sudah selesai mencorat-coret kertas, Mama bisa membingkai 'lukisan' tersebut dan memajangnya. Dengan begitu, anak akan merasa karyanya dihargai. Mama juga bisa menekankan kalau anak menggambar di tembok, dinding akan jadi kotor dan lukisannya tidak bisa dijadikan pigura.

Bagaimanapun juga, pada akhirnya, kids will be kids. Cara di atas memang tak menjamin anak berhenti mencorat-coret tembok. Mamapun tidak dapat mengawasi si kecil nonstop. Karena itu, Mama juga perlu belajar ikhlas. Dengan dukungan dari Mama, si kecil bisa jadi pribadi yang kreatif. Siapa tahu di masa depan nanti ia jadi pekerja seni sukses, kan?

Studi telah membuktikan bahwa kreativitas dimulai secara alami sejak dini. Pada anak balita, kreativitas adalah salah satu hal yang paling menonjol. Karena itu, biasakan memberi solusi pada satu hal yang Mama anggap tidak di jalurnya, seperti anak mencorat-coret tembok. Selebihnya, biarkan anak berkreasi, mengembangkan imajinasinya, dan melakukan eksplorasi.

Baca juga: Bolehkah Menggunakan Cat untuk Kamar Bayi?

(FAR/EMA)

Artikel Terkait