SELEBRITI
6 November 2019

Bambang Pamungkas Dikritik Keras Jakmania, Begini Cara Mengkritik yang Baik di Media Sosial

BePe pun kembali merespon kritik dari Jakmania tersebut

Sumber: instagram.com/bepe20

Artikel ditulis oleh Amelia Puteri
Disunting oleh Intan Aprilia

Bambang Pamungkas dikritik oleh salah satu Jakmania (supporter klub Persija Jakarta) karena komentar yang ia lontarkan pada Juni 2017 lalu.

"Kecintaan kita terhadap klub ini tidak sama, namun kecintaan kita terhadap sepak bola dan keluarga, saya pikir sama. Jadi jangan bermain untuk Persija Jakarta, tapi bermainlah untuk diri kalian, anak, istri, pacar, dan orang tua kalian.

Ketika kita bermain untuk orang-orang yang kita cintai, maka hal-hal baik akan datang," begitu komentar Bambang Pamungkas kepada rekan-rekannya, mengutip Tribun Cirebon.

Bambang Pamungkas Dikritik Keras Jakmania, Begini Cara Mengkritik yang Baik di Media Sosial

Foto: instagram.com/bepe20

Namun, salah satu Jakmania, Abi Irlan, memberikan tanggapan dari Jakmania Garis Keras lewat unggahan di akun Instagram-nya, @irlan.alarancia.

Akun @irlan.alarancia menulis caption sindiran untuk pria yang kerap disapa BePe tersebut.

"JAKMANIA butuh pemain yang bermain untuk PERSIJA. Kalo anda @bepe20 gak sanggup dan memilih bermain untuk KELUARGA. SILAHKAN ANGKAT KAKI," tulisnya.

Komentar ini pun mendapatkan beragam respon dari warganet lainnya. Ada yang mendukung BePe, tetapi ada juga yang menyetujui caption sindiran Abi Irlan.

Baca Juga: Yuk, Coba 4 Langkah Mengajari Anak Cara Menyikapi Kritik dengan Baik

Cara Tepat Melontarkan Kritik di Media Sosial

Melihat dari kejadian BePe di atas, orang memiliki cara menyampaikan kritik yang berbeda-beda. Tidak semua orang bisa memberikan kritik secara baik-baik dan tenang, baik itu ketika mengkritik di hadapan seseorang langsung, ataupun di media sosial.

Agar kritik dapat diterima seseorang, sebaiknya buat kritik di media sosial yang membangun, dan tidak penuh dengan hujatan atau terkesan menjatuhkan seseorang.

Berikut ini cara tepat memberikan kritik di media sosial yang perlu diperhatikan, mengutip Bustle.

1. Gunakan Metode "Feedback Sandwich"

kritik media sosial-1.jpg

Celes Chua, seorang life coach, merekomendasikan untuk selalu menggunakan "feedback sandwich" ketika perlu memberi kritik kepada seseorang.

Metode ini dimulai dengan pujian, atau komentar positif, kemudian tuliskan kalimat yang ditafsirkan sebagai kritik, dan kembali mengulangi kalimat positif.

Dengan cara ini, kritik "terjepit" di antara dua hal positif, yang membuatnya tampak tidak terlalu keras.

Baca Juga: Bolehkah Anak Punya Akun Media Sosial Sendiri?

2. Fokus Pada Situasi, Bukan Orangnya

kritik media sosial-2.jpg

Chua juga menekankan pentingnya berfokus pada situasi, bukan pada individu.

Misalnya, ketimbang mengatakan, "Anda benar-benar pembicara yang membosankan," katakan, "Saya pikir presentasi Anda bisa menggunakan lebih banyak visualisasi."

Hal ini akan membantu mencegah lawan bicara berpotensi merasa 'terserang' kritik.

3. Pakai Bahasa yang Positif

kritik media sosial-3

Leo Babuata, pendiri Zen Habits, mencatat pentingnya menjaga penggunaan bahasa yang positif dalam memberi kritik.

Misalnya, lebih baik mengatakan, "Saya ingin melihat performa bermain sepakbola yang lebih bertenaga di lapangan", daripada "Permainan sepakbola Anda sungguh jelek".

Baca Juga: Ternyata, Ini 3 Penyebab Beda Kepribadian di Media Sosial dan Dunia Nyata

4. Pikirkan Jika Kritik Tersebut Benar-Benar Perlu Dikatakan

kritik media sosial-4

Memang rasanya lebih mudah memberikan kritik kepada orang lain, terutama di media sosial di mana anonimitas bisa dilakukan.

Tetapi, penting juga untuk menanyakan kepada diri sendiri, apakah kritik tersebut memang perlu dilontarkan kepada seseorang melalui media sosial?

Jika kritik tidak benar-benar diperlukan, atau bila merasa orang tersebut tidak memerlukan kritik dari Moms, maka pikirkan untuk tidak mengatakan apa-apa sama sekali.

Dalam kasus Bambang Pamungkas, dirinya lalu memberikan komentar yang dikritiknya tersebut.

"Kecintaan setiap pemain terhadap sebuah klub bisa jadi tak sama, namun kecintaan (rasa memiliki) mereka terhadap keluarga saya, yakin tidak jauh beda.

Jadi bisa dibayangkan, jika semua pemain Persija Jakarta bermain untuk keluarga mereka, seolah-olah jika mereka kalah maka keluarga mereka akan terancam, dan berpotensi tersakiti. Apa yang kira-kira akan mereka lakukan?

Jadi ini bukan tentang rasa memiliki, atau tidak memiliki Persija Jakarta. Ini tentang bagaimana 'menyentuh' sisi emosional terdalam pemain, agar mampu mengeluarkan kemampuan terbaiknya, dan melakukan apa saja yang perlu dilakukan di atas lapangan.

Karena sekali lagi, faktanya kecintaan setiap pemain terhadap Persija tidak berada di level yang sama," tulis BePe dalam laman resminya. Bagaimana tanggapan Moms mengenai kejadian ini?

Artikel Terkait