BAYI
18 Juni 2020

7 Penyebab Bayi Meronta di Dalam Gendongan, Wajib Tahu!

Jika sudah begini, Moms pasti panik
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Indah
Disunting oleh Andra Nur Oktaviani

Menggendong anak itu perlu, apalagi menggendong bayi baru lahir karena bayi baru lahir membutuhkan orang tuanya untuk bisa bertahan hidup. Menggendong bukan hanya mempererat bonding atau ikatan dengan orang tua tapi juga bisa membantu orang tua untuk bisa multitasking menyelesaikan pekerjaan rumah tangga.

Tidak bisa dipungkiri bahwa gendongan seringkali menjadi penyelamat para orang tua agar tetap waras dalam menjalani perannya sebagai seorang ibu dan istri.

Bukan hanya ibu rumah tangga penuh waktu, ibu bekerja pun setelah seharian bekerja di luar rumah dan setiap hari, ingin menggendong anaknya di kala weekend atau sepulang kerja.

Gendongan bisa meringankan dalam menggendong karena kedua tangan tidak mudah pegal sehingga proses bonding dengan anak bisa menjadi lebih lama.

Baca Juga: Stop Menggendong Bayi Hadap Depan, Ini Bahayanya!

Namun orang tua seringkali mendapati bahwa anak tidak suka digendong dengan menggunakan gendongan, padahal orang tua sangat membutuhkan gendongan agar kebutuhan anak untuk dekat dengan orang tua dan kebutuhan orang tua untuk menyelesaikan pekerjaan rumah keduanya bisa tetap didapat.

Lantas, kenapa ya anak tidak suka digendong dengan menggunakan gendongan? Normal enggak sih?

Penyebab Bayi Meronta dalam Gendongan

Ini 5 Hal yang Menjadi Alasan Bayi Menangis 01.jpg

Foto: Orami Photo Stock

Menurut dr. Rosie Knowles dalam buku Why Babywearing Matters, anak meronta di dalam gendongan itu umum dan normal. Bukan berarti keinginan orang tua menggendong dengan menggunakan alat bantu gendongan pupus, namun perlu diketahui alasan mengapa bayi tidak suka digendong dengan menggunakan gendongan.

Berikut ulasannya.

1. Tidak Biasa

Penyebab utama bayi meronta dalam gendongan adalah ia tidak terbiasa. Sejak anak lahir, orang tua seringkali dihadapi dengan imbauan jangan menggendong anak karena nanti menjadi kebiasaan buruk. Sehingga menggendong menjadi momen yang menakutkan dan sebisa mungkin dihindari.

Padahal momen menggendong yang paling esensial adalah di masa 3 bulan pertama kehidupan bayi, yakni fase di mana seorang bayi beradaptasi dengan dunia barunya.

Sehingga ketika anak kemudian menjadi berat dan orang tua mulai membutuhkan gendongan, tidak heran jika anak menolak untuk digendong dengan menggunakan gendongan karena tidak terbiasa.

2. Bahan Gendongan Kasar dan Gerah

Ada beberapa bayi yang sensitif dengan sentuhan dikulitnya. Pilih bahan gendongan yang lembut dan juga breathable, sehingga bayi nyaman dan tidak merasa kegerahan.

Selain itu pakaian bayi juga harus diperhatikan. Tinggal di negara tropis sebenarnya tidak memerlukan penggunaan baju lengan panjang ditambah kaos kaki, sarung tangan, serta kupluk.

Menggendong sendiri bisa membuat bayi dan penggendong merasa hangat, jika ditambah pakaian yang tertutup dan gendongan, anak bisa kepanasan di dalam gendongan sehingga ia tidak nyaman.

3. Bayi Membutuhkan Hal Lain

Bayi menangis tidak selalu membutuhkan digendong. Menggendong tidak bisa menggantikan kebutuhan esensial bayi yang lain seperti haus atau lapar, popok basah, atau bayi mengantuk dan tidak terbiasa tidur di dalam gendongan.

Baca Juga: 6 Tips Aman Menggendong Bayi, Sudah Tahu?

4. Bau Gendongan Tidak Familiar

Bau gendongan yang tidak familiar juga bisa jadi salah satu penyebab bayi meronta dalam gendongan lho Moms. Bukan hanya sensitif dengan indera peraba, beberapa bayi juga sensitif dengan indera penciumannya.

Ada bayi yang hanya mau digendong dengan gendongan yang itu itu saja karena ia sudah hapal dengan baunya.

Jika menggunakan gendongan baru sebaiknya di cuci dulu dan coba dipakai beberapa kali oleh penggendong agar bau khas yang disukai bayi menempel di gendongan tersebut dan bayi tidak merasa itu gendongan baru.

5. Digendong Orang Lain

Bukan hanya bau gendongan yang tidak familiar, jika penggendong bukan orang yang familiar pun bayi seringkali menolak digendong.

Terutama bayi yang sudah berusia 6 bulan ke atas dan mulai familiar dengan wajah penggendong, kerap kali akan menolak digendong. Jangankan menggunakan gendongan, tanpa gendongan pun bayi bisa menolak untuk digendong.

6. Posisi Tidak Nyaman

Hindari 5 Kesalahan Saat Menggunakan Gendongan Bayi -4.jpg

Foto: Orami Photo Stock

Posisi menggendong di dalam gendongan yang tidak biasa pun bisa membuat anak tidak mau digendong dengan gendongan. Jika selama ini anak selalu digendong tanpa menggunakan gendongan di posisi tiduran, kemudian bayi tiba-tiba dikenalkan dengan posisi menggendong tegak dan erat, bisa jadi ini bukan posisi menggendong yang biasanya ia rasakan.

Bayi bisa meronta dan tidak nyaman. Belum lagi jika menggunakan gendongan dengan kaki menggantung, ini bisa menambah ketidaknyamanan bayi dan bayi bisa merasa kesakitan.

7. Bayi Bisa Merasakan Perasaan Penggendong yang Tidak Tenang dan Nyaman

Bayi sangat sensitif dan bisa turut merasakan apa yang tengah dirasakan oleh penggendongnya. Jika penggendong merasa tidak nyaman dan belum percaya diri dengan cara ia menggendong dengan gendongan baru, bayi bisa ikut merasakan kepanikan penggendong dan membuat bayi tidak ingin digendong dengan menggunakan gendongan.

Apalagi jika penggendong terlalu lama ketika menggunakan gendongan dan tidak juga mendapatkan posisi yang nyaman. Bayi memang seringkali tidak sabaran, jadi sebelum mempraktikannya langsung dengan bayi, sebaiknya penggendong berlatih dulu dengan menggunakan boneka.

Baca Juga: 4 Hal Penting yang Harus Diperhatikan saat Menggendong Bayi

Nah, itulah beberapa penyebab bayi meronta dalam gendongan. Setelah tahu penyebabnya, Moms baru bisa mengatasinya.

Artikel Terkait