3-12 BULAN
13 Juni 2019

Bayi Terkena Serangan Cacing Kremi, Apa Penyebabnya?

Bisa tertular dari anggota keluarga di rumah
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Orami
Disunting oleh Intan Aprilia

Cacing kremi adalah cacing tipis, mungil, berbulu, dan berwarna putih yang menginfeksi usus. Jenis cacing ini juga dikenal sebagai cacing parasit.

Infeksi cacing kremi adalah jenis infeksi usus yang paling umum memengaruhi jutaan orang setiap tahun, tidak terkecuali bayi dan balita.

Sebagai orang tua, Moms tentu akan sangat khawatir ketika mengetahui bahwa Si Kecill mungkin saja terkena serangan cacing kremi. Sebenarnya apa sih Moms yang menyebabkan bayi dan balita terinfeksi cacing kremi?

Apa saja gejala yang ditunjukkan? Apakah ada obat yang disarankan untuk mengatasinya? Baca artikel ini hingga selesai untuk mengetahui secara detail mengenai infeksi cacing kremi pada bayi.

Baca Juga: Selain Cacing Pita, 4 Parasit Ini Tidak Kalah Berbahaya

Bagaimana Penularan Cacing Kremi Pada Bayi?

Cacing Kremi Pada Bayi

Penularan cacing kremi pada bayi akan cepat terjadi bila ada orang dewasa di rumah yang juga terinfeksi. Beberapa cara penyebaran cacing kremi yang mungkin terjadi adalah seperti berikut ini:

  • Kontak langsung dengan benda yang terkontaminasi, misalnya mainan bayi.
  • Bayi tidak sengaja menelan makanan yang mungkin terkontaminasi.
  • Menghirup telur yang mungkin menempel pada pakaian atau seprai. Ini dapat terjadi ketika barang yang terinfeksi diguncang.

Baca Juga: Bukan Cuma Cuci Tangan, Lakukan 5 Cara Ini untuk Mencegah Cacingan pada Balita

Bagaimana Tanda-tanda Penularan Cacing Kremi Pada Bayi?

Cacing Kremi Pada Bayi

Dikutip dari checkupnewsroom.com, Justin Smith, M.D., dokter anak di Trophy Club sekaligus Penasihat Medis untuk Digital Health Cook Children di Fort Worth, Texas, menyebutkan bahwa sebagian besar infeksi cacing kremi pada bayi, anak-anak maupun orang dewasa tidak menimbulkan gejala. Akan tetapi, umumnya cacing kremi menimbulkan rasa gatal pada area anal.

Bayi dan anak-anak biasanya akan merasa sangat gatal ketika malam hari sehingga mereka tidak bisa tidur dengan nyenyak. Dalam kasus yang jarang terjadi, cacing kremi pada bayi juga dapat menyebabkan sakit perut, mual, dan muntah.

Ini dapat terjadi jika ada terlalu banyak cacing kremi di dalam usus bayi. Sementara dalam kasus yang sangat jarang terjadi, cacing kremi dapat memblokir usus dan menyebabkan usus buntu.

Namun, cacing kremi tidak akan menyebabkan gejala serius seperti buang air besar berdarah, penurunan nafsu makan, atau demam.

Jika bayi mengalami gejala-gejala tersebut, ada kemungkinan ia mengalami kondisi yang lebih parah dan harus segera mendapatkan penanganan medis.

Baca Juga: Mencegah Cacingan, 1 dari 7 Manfaat Bayam untuk Balita

Bagaimana Cara Mengetahui Jika Bayi Tertular Cacing Kremi?

Cacing Kremi Pada Bayi

Mengingat infeksi cacing kremi tidak menimbulkan gejala, ada beberapa cara yang dapat Moms gunakan untuk memeriksanya. Adapun cara-cara tersebut yaitu:

  • Gunakan senter untuk memeriksa area anal Si Kecil. Karena cacing bertelur di malam hari, maka pagi hari adalah waktu melakukan pemeriksaan yang sangat ideal.
  • Periksa permukaan feses buah hati.
  • Pada bayi perempuan, pemeriksaan juga perlu dilakukan pada bagian ujung vagina.
  • Gunakan selotip transparan, tekan dengan lembut di sekitar anus untuk melihat apakah Si Kecil sudah terinfeksi. Karena cacing kremi bertelur di sekitar area itu, jadi akan lebih mudah bagi Moms untuk mengidentifikasinya. Jika memang tertular, maka ada cacing kremi yang menempel pada selotip.

Baca Juga: Perlukah Anak Minum Obat Cacing?

Bagaimana Mengobati Cacing Kremi Pada Bayi?

Cacing Kremi Pada Bayi

Dikutip dari channel Ehowhealth, Dr. David Hill, dokter anak untuk Cape Fear Pediatrics, mengatakan bahwa pengobatan cacing kremi harus dikonsultasikan terlebih dahulu dengan dokter untuk mendapatkan saran obat dan dosis yang tepat.

Selain itu, setiap anggota keluarga di rumah yang sama juga harus diobati secara bersamaan. Tujuannya tidak lain untuk memastikan tidak ada lagi individu yang menyimpan telur dan mungkin menginfeksi bayi di kemudian hari.

Bukan hanya konsumsi obat, Dr. David Hill juga menyarankan agar pakaian bayi selalu diganti dan dicuci setiap hari. Potong kuku Si Kecil secara berkala dan biasanya mencuci tangannya setelah melakukan aktivitas apa pun.

Kebiasaan yang sama yang juga harus Moms dan anggota keluarga lain terapkan untuk menghindari kemungkinan terinfeksi kembali.

(RGW)

Artikel Terkait