NEWBORN
31 Oktober 2019

Bayi Terlambat Berbicara karena Lingkungan Bilingual?

Mitos atau fakta soal bayi terlambat bicara karena bingung bahasa?
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Dina Vionetta
Disunting oleh Dina Vionetta

Membesarkan si kecil dalam lingkungan bilingual mungkin membuat Moms khawatir si bayi terlambat berbicara (late talkers).

Namun, tahukah Moms bahwa bayi bahkan mampu memahami lebih dari satu bahasa sejak lahir?

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa dibesarkan di lingkungan bilingual membuat bayi terlambat berbicara hanyalah mitos.

Untuk lebih jelasnya, silahkan simak pembahasan yang ada di bawah ini.

Baca Juga: Pentingnya Komunikasi Nonverbal Saat Berinteraksi dengan Balita

Apa Kata Peneliti Tentang Kemampuan Bahasa Bayi Bilingual?

bilingual baby 1

Foto: npr.org

Sebuah studi terbaru mengungkapkan bahwa bayi dapat membedakan kata-kata dari bahasa yang berbeda sejak usia 20 bulan.

Bahkan sebelum mereka mulai berbicara, bayi sebenarnya sudah mampu menyerap bahasa yang mereka dengar.

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Proceeding of National Academy of Sciences juga mengungkapkan adanya kecenderungan bayi untuk memantau dan mengendalikan bahasa.

Melalui serangkaian eksperimen, para peneliti yang terlibat mampu menentukan upaya kognitif bayi, dengan kata lain, meneliti seberapa keras otak bayi bekerja untuk memahami apa yang ada dalam foto-foto yang ditunjukkan kepada mereka.

Sementara saat bayi mendengar adanya perubahan bahasa yang dilakukan sepanjang penelitian, pupil mereka akan membesar yang membuktikan adanya pemahaman secara langsung.

Selain itu, penelitian yang dipimpin oleh Associate Professor Leher Singh dari Departemen Psikologi di Fakultas Seni dan Ilmu Sosial NUS, mengeksplorasi pembelajaran bahasa Inggris dan bahasa Mandarin.

Baca Juga: 5 Cara Memberikan Pujian pada Bayi yang Membangun Rasa Percaya Dirinya Kelak

Melalui penelitian tersebut, para peneliti menyampaikan bahwa mengajarkan dua bahasa sejak usia dini membantu anak-anak menguasai aturan masing-masing bahasa dengan lebih cepat.

Bahkan, belajar bahasa Inggris dan Mandarin secara bersamaan juga mampu mempercepat pembelajaran bahasa Mandarin.

Hasil penelitian di atas pertama kali diterbitkan secara online melalui Jurnal Frontiers in Psychology pada bulan April 2016.

Tim NUS juga membuat temuan menarik terkait pengembangan keterampilan berbahasa pada bayi ( 12-13 bulan).

Para peneliti menemukan bahwa meskipun bayi-bayi yang terlibat dalam penelitian belum dapat berbicara secara jelas, mereka sudah tahu banyak tentang kata-kata di masing-masing bahasa, jika mereka bilingual.

Penelitian ini menunjukkan bahwa bayi dapat menavigasi aturan bahasa, bahkan saat aturannya bertentangan.

Bayi juga dapat menggunakan informasi ini pada saat mereka berusia 12 bulan untuk mempelajari dua bahasa yang berbeda.

Kemampuan Bayi dalam Mempelajari Bahasa

bilingual baby 2

Foto: whyy.org

Penelitian menunjukkan bayi mulai belajar bunyi bahasa bahkan sebelum mereka lahir.

Selama berada di dalam rahim, suara ibunya merupakan salah satu yang paling didengar bayi yang belum lahir.

Saat bayi lahir, mereka tidak hanya dapat membedakan antara bahasa ibunya dan bahasa lain, tetapi juga menunjukkan kemampuan membedakan bahasa.

Pembelajaran bahasa tergantung pada pemrosesan suara.

Semua bahasa di dunia jika disatukan membentuk sekitar 800 suara.

Setiap bahasa hanya menggunakan sekitar 40 bunyi bahasa atau fonem, yang membedakan antara satu bahasa dengan bahasa lainnya.

Baca Juga: 5 Manfaat Mengobrol Dengan Bayi yang Patut Moms Ketahui

Saat lahir, otak bayi memiliki bakat yang tidak biasa: dapat membedakan antara semua 800 suara.

Ini berarti bahwa pada tahap ini bayi dapat mempelajari apa pun yang mereka alami. Secara bertahap bayi menemukan suara yang paling sering didengar.

Antara usia 6-12 bulan, bayi yang tumbuh dalam lingkungan monolingual menjadi lebih terspesialisasi dalam subset suara dalam bahasa asli mereka.

Dengan kata lain, mereka menjadi spesialis bahasa asli.

Pada ulang tahun pertama mereka, bayi-bayi monolingual mulai kehilangan kemampuan mereka untuk mendengar perbedaan antara bunyi bahasa asing dan bahasa asli.

(RGW)

Artikel Terkait