2-3 TAHUN
7 September 2019

Beda dengan Time Out, Ini Manfaat Time In untuk Balita

Time in dianggap lebih efektif dan positif dibanding time out
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Dina Vionetta
Disunting oleh Dina Vionetta

Moms pernah mendengar atau bahkan menerapkan metode time out saat Si Kecil “berulah”?

Dianggap memiliki beberapa kekurangan, sekarang ada alternatif yang dianggap lebih positif, yakni time in.

Jika pada time out anak dibiarkan sendirian di kamar atau di pojok ruangan, saat time in balita justru ditemani oleh Moms.

Moms berbicara dengan tenang, mengajak anak mengekspresikan perasaannya, sehingga anak bisa mengatur emosinya.

Pada time in, orang tua diajak berempati dengan perasaan anak. Time in memberikan kesempatan untuk terhubung dengan Si Kecil dan membicarakan perilaku balita tadi.

Metode ini tidak hanya lebih efektif dibanding time out, tapi juga lebih positif.

Kepada The Washington Post, pakar parenting Amerika Serikat Bonnie Compton mengatakan bahwa time in menghindari perasaan diabaikan serta pengucilan yang sering menyertai time out.

Alasan Time In Lebih Efektif daripada Time Out

Beda dengan Time Out, Ini Manfaat Time In untuk Balita 01.jpg

Foto: ctfassets.net

  • Anak merasa kebutuhan mereka diperhatikan
  • Orang tua dan anak merasa terkoneksi sebelum orang tua memberikan koreksi terhadap perilaku anak
  • Anak diberi waktu yang cukup untuk memproses serangkaian perasaan
  • Orang tua tidak merasa kewalahan atau malah menciptakan persaingan kekuatan (power struggle) untuk membuat anak tetap diam saat time out
  • Anak tidak merasa dikucilkan, malu, atau takut
  • Time in memberikan kesempatan bagi orang tua dan anak untuk membicarakan permasalahan yang sebenarnya

Cara Menerapkan Time In

Beda dengan Time Out, Ini Manfaat Time In untuk Balita 02.jpeg

Foto: baby-chick.com

  • Tarik nafas dalam-dalam dan hembuskan perlahan. Sebab, meski Moms merasa kesal, Moms harus bisa berbicara dengan tenang dan positif.
  • Ajak anak ke tempat lain, misalnya duduk di sofa atau di ruang makan.
  • Cari tahu penyebab perilaku buruk anak. Akui kebutuhan dan perasaannya. Misalnya, “Adik marah, ya, sampai lempar-lempar barang begitu. Adik marah karena Mama tidak bisa menemani adik main, ya.”
  • Biarkan anak mengungkapkan perasaannya.
  • Setelah itu, Moms bisa memberikan koreksi. Contohnya, “Kalau barang-barang dilempar, nanti barangnya bisa rusak, enggak bisa dipakai lagi. Lain kali kalau adik kesal, adik bilang Mama, ya, peluk Mama.”

Meski anak tahu Moms tidak membenarkan perilakunya atau mengabulkan permintaannya, biasanya anak akan lebih cepat tenang karena Moms memahami perasaannya.

Time in biasanya adalah waktu anak paling membutuhkan orang tuanya. Ketika anak tantrum atau bertingkah emosional terkait sesuatu yang terlihat tidak penting bagi orang dewasa, ia membutuhkan koneksi untuk mengafirmasi perasaannya, memahami bahwa frustrasi bisa terjadi dan itu adalah bagian dari hidup sehari-hari,” jelas Crystal Antonace dari organisasi Chicago Attachment Parent International.

Bagaimanapun juga, time in memiliki kekurangan.

Menurut psikolog klinis Amerika Serikat Thomas Phelan, time in tidak praktis, terutama bagi orang tua yang memiliki lebih dari satu anak atau sedang sibuk mengerjakan tugas lain.

Sebab, time in membutuhkan waktu untuk berbicara dan berpelukan setiap ingin mendisiplinkan anak.

Time in membutuhkan banyak waktu serta anak yang sangat kooperatif,” tandasPhelan.

(EMA)

Artikel Terkait