KESEHATAN
3 Desember 2019

Ini Bedanya Alzheimer dan Demensia, Terkadang Memang Membingungkan ya

Tidak sedikit juga yang mengira bahwa demensia dan alzheimer adalah sama
Artikel ditulis oleh Orami
Disunting oleh Andra Nur Oktaviani

Demensia dan alzheimer biasanya diasosiasikan dengan penurunan kemampuan otak merekam memori alias pikun. Keduanya juga biasanya terjadi pada para lansia. Karena itu, tidak sedikit juga yang mengira bahwa demensia dan alzheimer adalah sama. Padahal ada bedanya alzheimer dan demensia lho Moms.

Sekalipun gejala dari dua kondisi ini mungkin saling melengkapi, tetap harus dibedakan antara alzheimer dan demensia, karena penanganan yang juga berbeda antara satu dengan yang lain.

Beda Alzheimer dan Demensia

Sebenarnya, apa bedanya alzheimer dan demensia? Simak ulasannya di bawah ini!

Mengenal Demensia

Demensia 1.jpg

Bedanya alzheimer dan demensia yang pertama adalah demensia bukanlah sebuah penyakit. Demensia adalah istilah umum yang biasanya digunakan untuk menjelaskan sejumlah gejala yang menganggu ingatan, kemampuan berkomunikasi dan bagaimana menjalankan kegiatan sehari-hari.

Demensia adalah sindrom, bukan penyakit. Sebuah sindrom dengan kumpulan gejala yang tidak memiliki diagnosa definitif. Demensia juga merupakan kumpulan gejala yang mempengaruhi fungsi-fungsi kognitif mental seperti kenangan dan penalaran.

"Demensia adalah istilah umum di mana penyakit alzheimer termasuk di dalamnya," ujar dokter Timothy J. Legg, PhD, PsyD, MSN dari Rocky Mountain University seperti dikutip dari healthline.com

Ketika sindrom demensia ini terus berkembang, maka akan berdampak pada penurunan fungsi otak. Sindrom ini kerap menjadi penyebab terjadinya disabilitas pada orang tua.

Berdasarkan World Health Organization (WHO), setidaknya 50 juta orang di seluruh dunia, hidup dengan demensia.

Baca Juga: Lakukan 5 Kebiasaan Ini Setiap Hari untuk Mencegah Demensia

1. Gejala Demensia

Demensia 2.jpg

Bedanya alzheimer dan demensia yang selanjutnya adalah gejalanya. Cukup mudah untuk mengenali fase awal gejala demensia yang masih tergolong ringan. Biasanya diawal dengan periode sering lupa. Orang dengan demensia memiliki kesulitan mengingat dan mengalami disorientasi.

Ketika sindrom demensia terus memburuk, kebingungan dan kelupaan makin menjadi. Mereka menjadi sulit mengingat nama-nama dan juga wajah-wajah yang dikenal.

Tanda-tanda yang jelas dari demensia adalah mulai menyampaikan pertanyaan yang terus berulang, kesadaran akan kebersihan diri makin berkurang dan makin sulit membuat keputusan.

Pada fase yang cukup berat, orang dengan demensia menjadi tidak mampu untuk peduli dengan dirinya sendiri. Mereka harus berusaha keras untuk mengingat dalam jangka pendek, termasuk meningat orang dan tempat yang sangat familiar.

"Perubahan perilaku terus terjadi dan akhirnya bisa berujung pada depresi dan perilaku yang agresif," papar Dr Timothy.

2. Penyebab dan Penanganan Demensia

Demensia 3.jpg

Bedanya alzheimer dan demensia yang selanjutnya adalah penyebab dan penanganannya. Pada umumnya, demensia berkaitan dengan pertambahan usia, khususnya usia lanjut.

Demensia terjadi karena sel-sel otak tertentu mengalami kerusakan. Banyak kondisi yang bisa menyebabkam demensia, di antaranya penyakit degeneratif seperti Alzheimer, Parkinson, dan Huntington.

Penyakit alzheimer sendiri menyumbang sekitar 50 sampai 70 persen dari keseluruhan kasus demensia. Setiap penyebab demensia menimbulkan kerusakan pada kumpulan sel otak yang berbeda-beda.

Selain itu, ada juga penyebab lain demensia, yakni terinfeksi virus seperti HIV, penyakit yang berkaitan dengan sistem peredaran darah stroke, depresi, konsumsi obat-obatan yang berlebihan.

Untuk penanganan demensia bergantung pada penyebab dan jenis demensia yang dialami. Tapi banyak upaya penanganan untuk demensia, juga berlaku bagi azheimer karena pengobatannya saling melengkapi.

Mengenal Alzheimer

Alzheimer 1.jpg

Jika demensia merupakan sebuah sindrom, alzheimer adalah sebuah penyakit. Ini bedanya alzheimer dan demensia. Alzheimer adalah jenis penyakit yang menjadi salah satu penyebab seseorang mengalami gejala-gejala demensia.

Penyakit ini biasanya akan memburuk seiring dengan waktu atau pertambahan usia dan mempengaruhi ingatan, bahasa serta pemikiran seseorang.

Berdasarkan National Institutes of Health, diperkirakan lebih dari 5,5 juta orang di AS menderita Alzheimer. Meskipun orang muda juga bisa terkena alzheimer, gejala-gejala penyakit ini pada umumnya mulai terlihat setelah usia 60 tahun.

Baca Juga: Kebiasaan Tidur yang Bisa Tingkatkan Penyakit Alzheimer

1. Penyebab Alzheimer

Alzheimer 2.jpg

Alzheimer menyerang otak. Kerusakan otak bahkan dimulai bertahun-tahun sebelum gejala penyakit ini muncul. Adanya penumpukan protein abnormal dalam otak biasanya terjadi pada para penderita alzheimer.

Akibatnya, koneksi antarsel terhenti dan sel-sel ini pun akhirnya mati. Pada kasus yang lebih berat, otak menunjukkan penyusutan yang signifikan.

Hampir tidak mungkin mendiagnosa alzheimer dengan tingkat akurasi yang tinggi, jika penderita masih hidup. Diagnosa penyakit baru bisa akurat, ketika otak diperiksa dengan mikroskop dalam proses autopsi. Keakuratan diagnosanya bisa mencapai 90 persen.

2. Gejala Alzheimer

Alzheimer 3.jpg

Gejala alzheimer dan demensia bisa saling melengkapi, tapi tetap ada beberapa perbedaan. Keduanya memiliki gejala seperti penundaan dalam kemampuan berpikir, penurunan ingatan, penurunan kemampuan berkomunikasi.

Sementara gejala-gejala alzheimer mencakup antara lain kesulitan mengingat peristiwa atau percakapan yang baru saja terjadi, menjadi apatis, mengalami depresi, disorientasi, kebingungan, perubahan perilaku, kesulitan berbicara dan menelan, bahkan pada tingkat yang berat, penderita sampai kesulitan berjalan.

Baca Juga: Bagaimana Cara untuk Menghindari Alzheimer? Ini 3 Kiatnya

3. Penanganan Alzheimer

1101AlzheimersHBP_SC.jpg

Foto: Heart.org

Hingga saat ini, belum ditemukan obat bagi alzheimer. Yang ada hanya pengobatan yang berupaya meminimalisir gejala-gejala yang timbul. Di antaranya, pengobatan untuk perubahan perilaku seperti obat antipsikotik dan pengobatan untuk kehilangan ingatan biasanya termasuk cholinesterase inhibitors donepezil (Aricept) and rivastigmine (Exelon) and memantine (Namenda).

Penderita alzheimer juga akan bisa menerima pengobatan alternatif yang bertujuan mendorong fungsi otak atau kesehatan tubuh secara keseluruhan seperti minyak kepala atau minyak ikan, pengobatan untuk perubahan pola tidur, dan pengobatan untuk depresi.

Itulah bedanya alzheimer dan demensia. Ternyata, meskipun melengkapi satu sama lain, demensia dan alzheimer adalah dua kasus berbeda. Semoga bermanfaat ya Moms!

(SERA)

Artikel Terkait