PARENTING
10 Mei 2019

Begini 7 Tips Menerapkan Gender Neutral Parenting

Ketahui jenis pola asuh gender neutral parenting, ini tipsnya
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Orami
Disunting oleh Orami

Moms mungkin kerap mendengar beberapa kalimat ajaran masa kecil seperti memakai warna biru untuk laki-laki, dan merah muda untuk perempuan.

Atau, mainan mobil-mobilan diperuntukkan bagi anak lelaki, sementara para perempuan sebaiknya bermain dengan boneka.

Namun, semakin lama, beberapa orang tua memilih untuk membesarkan anak mereka tanpa memerhatikan gender, atau istilahnya gender neutral.

Pola asuh yang netral gender yaitu ketika orang tua membesarkan anak mereka tanpa memaksakan norma-norma gender yang sudah ada sebelumnya.

Gender neutral parenting membuat anak bisa mengekspresikan diri mereka dengan lebih leluasa dan memilih hal-hal apa yang mereka suka.

Dr. Stella Mavroveli, psikolog di Imperial College sekaligus ibu dari dua orang anak laki-laki juga menerapkan pola asuh netral gender.

"Kita harus menerima dan memahami bahwa terdapat perbedaan psikis dan fisik pada laki-laki dan perempuan. Sebagai orang tua, kita harus membiarkan anak kita tumbuh dan berkembang di lingkungan yang terlalu mengkotak-kotakkan secara ekstrem. Bila seperti itu, anak jadi tidak bisa memiliki pandangan dan pilihan untuk dirinya sendiri," jelasnya, dikutip dari Telegraph UK.

Moms perlu memahami, ada beberapa tips jika memutuskan ingin menerapkan pola asuh yang netral gender. Agar tidak kelewatan, berikut tips membesarkan anak dengan cara gender neutral parenting.

Baca Juga: Salah Pola Asuh, Anak Bisa Jadi Kleptomania!

1. Kurangi Pentingnya Stigma Terhadap Gender

genderneutral.jpg

Jangan gunakan istilah netral gender, tetapi bantu anak-anak bebas dari batasan gender apa pun.

Moms dapat melakukan ini dengan menghapus label pada gender dari bahasa. Misalnya seperti mengganti ‘Kamu benar-benar gadis yang pintar!’ dengan ‘Kamu anak yang pintar!’.

Anak jadi akan memahami bahwa ia berharga sebagai manusia, tidak hanya sebagai seorang perempuan.

2. Hindari Tema Merah Muda dan Biru

Berhati-hatilah dalam mengaitkan stereotip gender dan penekanan untuk menunjukkan perbedaan antara anak laki-laki dan perempuan.

Jangan pernah mengaitkan pink dengan seorang anak perempuan, dan biru dengan seorang anak laki-laki.

Karena ini dapat mengubah pemikiran dan perilaku mereka untuk beradaptasi dengan norma sejak dini.

Moms bisa mendorong mereka untuk memakai warna yang netral gender. Biarkan anak dengan sendirinya menentukan pilihan mereka.

Bila pada akhirnya anak perempuan Moms suka warna pink, itu memang atas dasar pilihannya sendiri, bukan karena Moms yang memaksakan warna tersebut padanya sedari kecil.

Baca Juga: Perlukah Membeli Mainan Sesuai Jenis Kelamin Bayi?

3. Dorong Anak Perempuan dan Laki-laki Bermain Bersama

genderneutral2.jpg

Sangat penting bagi anak-anak untuk merasa nyaman bermain dengan lawan jenis karena ini akan membuat mereka siap di masa depan.

Seperti membangun hubungan di masa depan di tempat kerja, di rumah, dan di sekolah.

Moms dapat mengajak anak terlibat ke dalam kegiatan campuran gender, seperti olahraga dan kelompok bermain.

4. Jangan Menghilangkan Gender Secara Sepenuhnya

Tujuan Moms bukan untuk menghapus gender, tetapi untuk mendorong anak mengejar semua minat, karier, dan hobi yang benar-benar ia inginkan.

Dengan memastikan peluang dan pilihan mereka tidak dibatasi oleh gender, Moms dapat lebih menekankan bahwa ia bisa menyukai dan menjadi apapun yang ia inginkan.

Contohnya, memasak adalah pekerjaan yang selama ini selalu diasosiasikan sebagai pekerjaan perempuan.

Namun, anak laki-laki Moms tidak perlu merasa malu bila ia suka memasak dan nantinya menjadi chef yang andal.

5. Beri Contoh Melalui Role Model

genderneutral3.jpg

Beritahu kepada anak-anak pada panutan seperti perawat pria, atau seorang insinyur dan mekanik wanita, dan sebagainya.

Anak akan didorong jika dia belajar tentang orang-orang yang menentang stereotip gender dan mengekspresikan diri mereka tanpa melihat gender.

6. Buat Anak Sebagai Individu yang Mandiri

Studi menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan antara otak pria dan otak wanita.

Meskipun tentu saja kedua jenis kelamin memiliki perbedaan biologis, tetapi dalam aspek lain seseorang memiliki karakteristik dari kedua gender.

Karena itu, sangat penting untuk fokus pada anak sebagai manusia tunggal, daripada mengaitkan apa pun tentang gender.

Baca Juga: Mengenal Pola Asuh Hyper Parenting Dan Dampaknya Bagi Anak

7. Ingat, Mainan Tidak Memiliki Gender

genderneutral4.jpg

Jangan jadikan stereotip gender sebagai mainan anak laki-laki dan perempuan. Ini dapat memengaruhi anak dalam perkembangan psikologis dan fisik mereka.

Biarkan Si Kecil bermain dengan berbagai macam mainan, sebagaimana tidak membedakan berdasarkan warna biru atau merah muda.

"Saya tidak pernah membelikan mobil-mobilan pada anak laki-laki saya, tapi saya membiarkannya memilih mainan yang ia inginkan. Di usianya yang sekarang, ia menyukai main mobil-mobilan dan alat galian.

Pada akhirnya, sebagai orang tua kita berusaha membesarkan anak dengan cara menerima dan memahami individualitasnya. Bila ia ingin main gali-galian karena ia menyukainya, saya tidak akan melarangnya," ujar Dr. Mavroveli.

Apa yang paling penting, keputusan Moms untuk membesarkan anak yang netral gender tidak seharusnya didasari untuk membuat anak sebagai simbol perubahan sosial.

Tanamkan pemikiran bahwa pola asuh yang netral gender untuk memberi anak kebebasan dalam memutuskan identitasnya sendiri.

(AP/INT)

Artikel Terkait