PARENTING
5 September 2019

Begini Cara Saya Menghadapi Masa-masa Terrible Two Si Kecil

Tidak ada salahnya menyisihkan waktu untuk menenangkan diri sendiri saat anak sedang emosi
Artikel ditulis oleh Amelia
Disunting oleh Andra Nur Oktaviani

Oleh Chriesty Anggraeni (31 th), Ibu dari Zikri Athalla Syamsi (2 th, 7 bln), Member WAG Orami Toddler (9)

Sebenarnya menghadapi masa terrible two pada anak sudah sering saya baca jauh-jauh hari sebagai persiapan jika suatu saat masa itu terjadi pada Zikri (31 bulan).

Benar saja, akhir-akhir ini, Zikri kecil kami tengah mencurahkan emosinya dengan sering berkata "tidak", lebih sering menangis marah jika keinginannya tak segera kami penuhi.

Pedoman yang saya baca ketika menghadapi Zikri dalam keadaan seperti itu, terkadang lenyap begitu saja. Selain tetap sabar, saya juga berusaha agar tidak mengeluarkan kalimat-kalimat buruk yang semakin memperkeruh suasana.

Tak ingin terus berlanjut tanpa ilmu, saya mulai menelaah kembali bagaimana seharusnya sikap saya atau orang tua dalam menghadapi masa terrible two pada anak.

Anak ingin diperlakukan bak orang dewasa, memiliki keinginan yang kuat terhadap segala sesuatu karena disebabkan oleh meningkatnya perkembangan kognitif dan emosinya.

Baca Juga: 3 Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Sosial Emosional Anak

Membekali Diri dengan Ilmu untuk Hadapi Terrible Two pada Anak

Berbekal dengan melihat gejala yang terjadi pada Zikri, saya menguatkan pemahaman dengan membaca buku parenting atau jurnal parenting terpercaya.

Hal ini saya lakukan untuk merasakan perilakunya dalam menghadapi masa terrible two anak.

Apa yang pertama kali dilakukan ketika menghadapinya?

1. Mengelola Emosi

d50928d8.jpg

Foto: Orami/Chriesty Anggraeni

Hal penting menurut saya, sebelum menangani anak, saya perlu cepat mengelola emosi terlebih dahulu. Kadang perilaku yang timbul pada anak adalah cerminan perilaku kita.

Baca Juga: Cara Mengelola Emosi agar Hubungan dengan Suami Tetap Harmonis

2. Rasakan Wujud Perilaku Anak

Sebelum melakukan sesuatu, rasakan terlebih dahulu wujud perilaku anak:

  • Jika anak mewujudkan perilaku rewel, tetapi masih dalam batas aman, hal yang perlu saya lakukan adalah tidak menanggapinya. Biarkan ia menangis, dan anggap perilakunya tidak pernah terjadi.
  • Jika anak mewujudkan perilakunya dalam bentuk emosi tapi tidak menyakiti, maka dampingi ia secara pasif. Biarkan ia meluapkan apa yang ia rasakan. Pastikan ia menuntaskan emosinya, misalnya dengan meredakan tangisannya.
  • Jika anak mewujudkan perilakunya dalam bentuk yang tidak aman. Misalnya memukul, melempar barang dan sebagainya. Maka yang perlu saya lakukan adalah menyelamatkan korbannya, tetapi biarkan pelakunya.
  • Jika anak mewujudkan perilakunya dalam bentuk emosi dan tidak aman. Maka saya perlu mengamankan anak terlebih dahulu, kemudian dampingi ia sampai tuntas emosinya.

3. Berikan Arahan yang Jelas Sebelum Tantrum Terjadi

2018_1014_10460500.jpg

Foto: Orami/Chriesty Anggraeni

Agar tujuan kita untuk menenangkan anak tercapai, Moms dapat menawarkan Si Kecil kegiatan yang sebenarnya itu adalah tujuan kita.

Misalnya, dengan memberikan pilihan, "Adek mau mandi dulu atau makan dulu?"

Secara tidak langsung, dia akan mengerjakan kedua hal tersebut, tetapi dengan arahan yang baik ketimbang menyuruhnya dengan, "Adek mandi!", "Adek makan!" yang pada akhirnya akan ia tolak.

4. Konsisten dan Kongruen

Sepakati aturan dan tetap konsisten terhadap aturan yang telah dibuat, walaupun anak menunjukkan strategi untuk melanggarnya.

Kongruen artinya apa yang Moms ucapkan harus sejalan pula dengan apa yang dilakukan. Karena apa yang Moms katakan dan lakukan akan dicontoh oleh anak.

Baca Juga: 4 Cara Jitu Melatih Kesabaran Anak agar Tidak Menyebalkan

5. Tingkatkan Sabar

2018_1125_09363000.jpg

Foto: Orami/Chriesty Anggraeni

Ya, Moms. Terkadang kita hanya perlu bersabar menghadapi perilaku anak ketika ia sedang menjadi rewel dan penuh emosi. Kendalikan emosi dan jiwa dengan rasa sabar agar pikiran tidak ikut terkuras.

Pikiran kita perlu tetap tenang, agar dapat mengambil tindakan yang sesuai. Jika Moms lelah, boleh dengan menyisihkan waktu untuk diri sendiri.

Tidak perlu merasa bersalah ketika Moms ingin menenangkan diri. Menurut saya, hal ini akan lebih baik daripada menghabiskan energi dengan turut memarahi anak yang sedang emosi.

Dalam masa tenang, saya sering membangun komunikasi dan interaksi yang positif dengan Zikri. Terkadang mengevaluasi serta menyelipkan nilai dalam setiap kejadian.

Tenang Moms, saya yakin masa-masa ini akan segera berlalu. Ini hanya sebuah fase saat anak sedang menguatkan mental jika ia mengalami kesulitan nantinya saat dewasa.

Artikel Terkait