DI ATAS 5 TAHUN
11 Januari 2017

Belajar dari Anak Saat Hewan Peliharaan Mati

Si kecil mungkin lebih tegar dari yang Mama kira
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Carla Octama
Disunting oleh Carla Octama

Memiliki hewan peliharaan merupakan sebuah pengalaman berharga. Bukan bagi anak saja, tapi bagi seluruh anggota keluarga. Jika hewan peliharaan mati, mungkin Mama langsung cemas akan reaksi yang diberikan anak nantinya. Apakah anak bisa menerimanya? Bagaimana cara menjelaskannya? Apa yang harus dilakukan jika anak sedih dan sulit dihibur? Karena Mama terlalu memusingkan reaksi anak, kadang Mama sendiri jadi lupa bahwa tak hanya anak yang kehilangan sosok tercinta. Mama dan anggota keluarga lain pun juga merasakan kehilangan yang begitu menyakitkan.

Anak ternyata paham bahwa kematian itu tak terhindarkan

Sebuah penelitian terbaru yang dilakukan oleh para ahli di New York, Amerika Serikat mengungkapkan bahwa ternyata anak-anak bisa menghadapi kematian hewan peliharaannya dengan cukup dewasa. Selama ini, Mama mungkin menganggap bahwa kematian adalah hal yang sulit dijelaskan pada anak. Apalagi ketika menyangkut soal binatang peliharaan anak yang sudah dianggap seperti kakak, adik, atau sahabat baiknya sendiri. Padahal, anak-anak dalam rentang usia 6 hingga 13 tahun sudah bisa menilai bahwa usia binatang peliharaan memang lebih pendek dari manusia. Anak-anak yang terlibat dalam penelitian tersebut bahkan memahami kalau usia ikan lebih pendek dari kucing atau anjing. Maka, secara naluriah anak pun akan lebih tabah dalam menerima kematian binatang peliharaan jika usianya memang sudah tua.

Bagaimana anak menghadapi kematian hewan peliharaannya?

Menurut penelitian tersebut, kesedihan yang dirasakan anak ketika hewan peliharaannya mati lebih besar jika sebelumnya tidak ada gejala atau tanda-tanda sakit. Kalau kelinci, hamster, atau anjing peliharaan anak sudah terlihat lemah dan sakit sebelum mati, anak akan lebih mudah mengelola rasa sedih yang muncul. Akan tetapi, kalau si hewan peliharaan mati tiba-tiba, anak mungkin sulit untuk menerima kenyataan tersebut. Pasalnya, bagi anak hewan peliharaan bukan sekadar teman bermainnya. Hewan peliharaan anak sudah seperti anggota keluarga, layaknya Mama atau kakak dan adiknya sendiri. Ini karena menurut dr. Joshua Russel, pemimpin penelitian tersebut, anak percaya bahwa dirinya adalah pusat kebahagiaan dan kasih sayang si hewan peliharaan. Hubungan anak dan hewan peliharaan keluarga memang biasanya sangat dekat.

Mengambil hikmah dari kematian hewan peliharaan anak

Banyak sekali hal yang bisa Mama petik dari kematian hewan peliharaan kesayangan anak. Salah satunya adalah si kecil mungkin justru lebih tegar dari Mama sendiri ketika kehilangan binatang peliharaan. Meski belum sepenuhnya memahami konsep kematian, anak sudah tahu bahwa kematian adalah hal yang tak terhindarkan. Jadi meski anak menangis dan bersedih, luapan emosi tersebut justru perlu dan bisa membantunya melalui masa-masa kehilangan. Maka, Mama sendiri juga tak perlu sungkan untuk berproses bersama anak. Menangis bukanlah tanda bahwa Mama tidak bisa menerima kenyataan, melainkan sebuah ungkapan duka yang alami. Menangis bersama anak karena kehilangan sosok tercinta di rumah justru bisa mendekatkan Mama dengan buah hati.

Menjadi orangtua memang menakjubkan. Anak justru bisa mengajari Mama tentang banyak hal, salah satunya kematian. Pernahkah Mama sendiri kehilangan binatang peliharaan kesayangan di rumah? Bagaimana cara Mama menghadapinya?

(IA)

Artikel Terkait