PARENTING
20 September 2019

Belajar Ikhlas saat Harus Meninggalkan Pekerjaan yang Dicintai Demi Merawat Anak

Saya harus resign untuk mendampingi masa tumbuh kembang anak, jika kantor tidak menyetujui permintaan saya untuk bekerja dari rumah
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Amelia Puteri
Disunting oleh Andra Nur Oktaviani

Oleh Laela Marlina (25 th), Ibu dari Kalula Hafshah A (1 th), Member WAG Orami Mompreneur (2).

Menjadi perempuan yang mampu secara finansial karena bekerja tentu menyenangkan, apalagi jika bekerja yang sesuai bidangnya dan suasana bekerja yang sangat bersahabat.

Tapi apa jadinya jika kita harus melepas itu semua demi anak? Klise memang, tetapi hal ini benar adanya dan tidak semua orang mudah untuk memutuskan dan menghadapinya dengan ikhlas.

Hai Moms, saya adalah seorang newbie Moms yang masih perlu beradaptasi dengan situasi ketika baru memiliki anak pertama.

Bayangkan saja, sejak dulu saya sudah terbiasa dengan aktivitas kantor dan organisasi yang menyenangkan, bisa bertemu banyak orang, hingga memiliki tabungan.

Sedangkan, sekarang saya benar-benar hanya beraktivitas di wilayah domestik, kegiatan sehari-hari pun rasanya hanya mementingkan keluarga dan tetangga. Kondisi ini tentunya sangat berbeda dari sebelumnya.

Baca Juga: Perjuanganku Punya Anak dengan Kista Endometriosis

Sudah Kerja sesuai Passion

Resign Kerja Demi Anak. Yakin BISA Ikhlas 3.jpg

Foto: Orami/Laela Marlina

Senang sekali dulu bisa bekerja sebagai Admin Social Media di salah satu brand fesyen muslim di Bandung. Sehari-hari saya menangani konten, copywriting, serta menulis artikel yang memang sudah menjadi hobi sejak lama.

Selain itu, lingkungan kerja lumayan menyenangkan dan tetap kompetitif. Pokoknya, benar-benari duniaku banget!

Meskipun gajinya sebagian besar dihabiskan untuk ongkos rumah-kantor yang jauh, saya tetap bahagia karena bisa mengalokasikan uang untuk tabungan dan hati pun senang karena hobi tersalurkan.

Menurut saya, materi itu nomor dua dalam bekerja, dan nomor satunya yaitu bisa bekerja sesuai passion. Lagipula, jika masih mengejar materi dan lifestyle yang mewah, lebih baik jangan menikah dulu.

Sejak awal bekerja, saya mengumpulkan uang untuk membantu biaya pernikahan. Pokoknya, harus mandiri. Jadi, goodbye wishlist barang-barang branded dan liburan impian!

Baca Juga: Kunci Keberhasilan Toilet Training: Sabar, Konsisten, dan Kerja Sama

Bimbang di Antara Dua Pilihan

Resign Kerja Demi Anak. Yakin BISA Ikhlas 2 .jpg

Foto: Orami/Laela Marlina

Saat kandungan mulai membesar, teman-teman di kantor selalu menanyakan, "Kalau sudah lahiran, mau tetap kerja atau resign buat ngasuh anak, Lae?"

Saat itu, saya hanya bisa tersenyum, karena memang belum ada diskusi mendalam bersama suami. Bagi saya, tetap berkarir atau memutuskan resign setelah melahirkan bukan hal yang mudah. Membutuhkan pikiran yang dingin serta harus bisa menurunkan ego.

Tak disangka, saya harus melahirkan sebulan lebih cepat dari perkiraan. Riwayatnya preeklampsia, bayinya prematur, persalinan secara caesar, dan LDR nya 43 hari, karena anak harus diobservasi.

Sebagai newbie Moms, jujur hal tersebut membuat saya trauma, terlebih segala sesuatunya yang sangat di luar prediksi.

Baca Juga: Begini Cara Saya Menghadapi Masa-masa Terrible Two Si Kecil

Resign Demi Anak, Mencoba Belajar Ikhlas

Resign Kerja Demi Anak. Yakin BISA Ikhlas.jpg

Foto: Orami/Laela Marlina

Bulan terakhir cuti melahirkan menjadi saat-saat yang berat. Masukan dari berbagai orang menjadi terlalu banyak. Intinya, banyak yang menyarankan supaya saya menjadi ibu rumah tangga demi anak.

Jauh-jauh hari sebelum melahirkan, hal ini sudah dibahas bersama suami. Saya harus resign untuk mendampingi pertumbuhan buah hati, jika kantor tidak menyetujui permintaan saya untuk bisa bekerja dari rumah.

Sayangnya, kantor tidak menyetujuinya.

Baiklah, mungkin ini awal hidupku yang baru!

September 2018, saya resmi resign bekerja dari kantor tercinta. Menjalani hari-hari menjadi IRT yang penuh dinamika dan adaptasi yang tak mengenal waktu.

Tidak jarang, saya merasa tidak berguna karena merasa tidak berdaya secara finansial, apa-apa harus menunggu bulanan suami atau invoice dari project yang sesekali datang.

Berbicara tentang keikhlasan, terkadang bisa memudar ketika orang-orang membanding-bandingkan kehidupan saya sebelum dan sesudah resign dari pekerjaan.

Secara tidak langsung, saya mendapat sindiran tentang andai memiliki penghasilan untuk membantu suami atau bisa membelikan buah hari barang-barang yang bagus, apalagi memiliki anak perempuan yang menarik jika ia memiliki banyak baju yang lucu-lucu.

Setiap malam, saya selalu berdoa dan memohon maaf kepada anak, jika selama ini saya bukanlah ibu dan istri yang bisa membantu dan membahagiakan keluarga.

Sejauh ini, saya tetap bahagia dan mencoba merawat ikhlas dari keputusan yang telah diambil.

Namun, hal ini tidak hanya dibangun oleh diri sendiri. Perlu dukungan dari support system, terutama pasangan, untuk semakin menguatkan rasa ikhlas di hari. Sekian Moms!

Artikel Terkait