BALITA DAN ANAK
6 Maret 2020

Benarkah Diet Ketogenik Baik Untuk Anak Penderita Epilepsi?

Harus dilakukan dibawah pengawasan dokter
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Wina Andria
Disunting oleh Ikhda Rizky Nurbayu

Bukan demi menurunkan berat badan, diet ketogenik untuk anak penderita epilepsi ternyata bisa jadi alternatif pengobatan untuk mengurangi frekuensi kejang.

Sebenarnya tidak semua anak penderita epilepsi perlu menjalankan diet ketogenik, karena dokter biasanya akan terlebih dahulu mencoba memberikan obat antiepilepsi. Menurut data dari Epilepsy Society, hanya sekitar 30% anak penderita epilepsi yang perlu menjalankan diet ketogenik.

Namun, seberapa aman dan efektifkah diet ketogenik untuk anak penderita epilepsi? Silakan baca sampai selesai untuk tahu jawabannya ya, Moms.

Sejarah Diet Ketogenik untuk Anak

diet ketogenik untuk anak

Foto: hsph.harvard.edu

Walau belakangan banyak dilakukan oleh orang dewasa untuk menurunkan berat badan, diet ketogenik pada awalnya justru dikembangkan sebagai bentuk terapi atau pengobatan bagi penderita epilepsi lho, Moms.

Diet ketogenik awalnya dikembangkan oleh Dr. Russel Wilder, MD, pada tahun 1920an dan kemudian distandarisasi oleh Dr. M.G. Peterman pada tahun 1970an.

Pada tahun 1994, diet ketogenik kembali populer dan mulai dikenal banyak orang karena berhasil mengurangi gejala epilepsi pada seorang anak berusia 2 tahun di Amerika.

Prinsip Diet Ketogenik Untuk Anak Penderita Epilepsi

diet ketogenik untuk anak

Foto: thedailymeal.com

Dalam sebuah artikel yang ditulis oleh Mark Occhipinti, MS, PhD, presiden dari American Fitness Professionals & Associates, dijelaskan kalau prinsip diet ketogenik adalah membatasi asupan karbohidrat agar tubuh beralih menggunakan lemak sebagai sumber energi.

Pada umumnya, tubuh manusia menggunakan karbohidrat sebagai sumber energi. Namun saat konsumsi karbohidrat ditekan, tubuh akan mulai membakar lemak dan keton sebagai sumber energi.

Nah, diet ketogenik untuk anak penderita epilepsi menggunakan rasio 3-4 gram lemak untuk setiap 1 gram karbohidrat dan protein yang dikonsumsi. Itu artinya sekitar 90% asupan kalori untuk tubuh anak justru berasal dari makanan berlemak.

Dalam diet ketogenik, makanan berkarbohidrat tinggi seperti nasi, roti, olahan tepung, serta gula dihilangkan, dan konsumsi makanan yang mengandung lemak seperti mentega, alpukat, strawberry, minyak zaitun, telur, keju, daging, dan ikan ditingkatkan.

Tapi harus diingat ya Moms, diet ketogenik untuk anak hanya boleh dilakukan secara bertahap dengan rekomendasi dan pendampingan dari dokter.

Cara Kerja Diet Ketogenik Untuk Anak Penderita Epilepsi

diet ketogenik untuk anak

Foto: parenting.firstcry.com

Sebuah studi yang dilakukan oleh tim peneliti dari Emory University School of Medicine menyatakan kalau diet ketogenik terbukti dapat mengubah susunan genetik yang terlibat dalam metabolisme energi pada otak. Proses tersebut membantu menstabilkan fungsi saraf yang bisa memicu kejang.

Epilepsy Foundation juga menjelaskan kalau meningkatnya produksi keton saat tubuh mulai beralih menggunakan lemak sebagai sumber energi itu tidak berbahaya. Kadar keton yang lebih tinggi juga dihubungkan dengan pengendalian kejang yang lebih baik.

Jadi bisa disimpulkan kalau diet ketogenik untuk anak penderita epilepsi itu cukup aman dan efektif untuk mengendalikan kejang, selama dilakukan dengan pendampingan dari dokter ya, Moms.

Nah, apa Moms tahu apa saja yang perlu dilakukan saat anak epilepsi mengalami kejang?

Artikel Terkait