KELUARGA
4 Maret 2020

5 Bentuk Mom Shaming Pada Ibu Rumah Tangga yang Mungkin Moms Alami

Moms, pergulatan tentang ibu yang tinggal di rumah tampaknya tidak memiliki tanggal kedaluwarsa
Artikel ditulis oleh Waritsa Asri
Disunting oleh Orami

Kondisi mengkritik, mempermalukan, atau meremehkan ibu dan bayi lain karena pilihannya dalam menjalani peran sebagai ibu berbeda dengan pilihan Moms, maka saat itu juga mom shaming terjadi.

Sehingga, berkumpul bersama teman sesama ibu atau post sesuatu di media sosial terkadang sudah tidak mengasyikan lagi.

Tahukah Moms bahwa menurut penelitian tahun 2012 dari University of Akron, ibu rumah tangga ternyata lebih rentan mengalami stres daripada ibu yang bekerja.

Hal ini berakibat mom shaming mudah terjadi. Padahal perlu diingat bahwa setiap ibu dilatari oleh norma budaya, motivasi, dan tujuan pengasuhan anak yang juga beragam.

Baca Juga: 5 Cara Alami Menghilangkan Bekas Luka Cacar Air

Bentuk Mom Shaming pada Ibu Rumah Tangga

Ada beberapa bentuk mom shaming terhadap ibu rumah tangga yang terkadang tidak disadari, seperti:

1. Ceramah Tentang Menyusui

Soal Menyusui

Moms pasti mendukung pemberian ASI ekslusif pada bayi. Tapi, ada beberapa ibu dan bayi yang tidak melakukannya atau memilih untuk tidak menyusui karena sejumlah alasan.

”Kenapa kamu tidak menyusui padahal di rumah?” atau “Kenapa memilih susu formula pada ASI lebih murah?” adalah bentuk mom shaming yang sering terlontar. Hal ini bisa sangat menyakitkan untuk seorang ibu, lho.

2. Bertanya Tentang Perkembangan Bayi

tumbuh kembang anak

Hindari pertanyaan seperti “Apa nggak khawatir si kecil belum bisa merangkak?” atau “Bukannya bayi umur segini seharusnya sudah bisa duduk ya?”

Semua bayi berbeda dan milestone perkembangan setiap bayi juga waktunya berbeda-beda.

Si ibu dan bayi yang Moms beri pertanyaan di atas mungkin sudah merasa kalau perkembangan anaknya sedikit terlambat.

Dan pertanyaan itu tidak menenangkan mereka sama sekali, justru membuat mereka lebih khawatir.

Baca Juga: 3 Masker Rambut Minyak Zaitun untuk Memanjangkan Rambut

3. Berkomentar Tentang Pilihannya Menjadi Ibu Rumah Tangga

Ibu Rumah Tangga

Bentuk mom shaming yang paling sering terjadi adalah mempertanyakan pilihan mereka menjadi ibu rumah tangga.

“Aku kayaknya bakal bosan setengah mati kalau harus di rumah seharian,” bisa terdengar menghakimi pilihan ibu. Bisa jadi ini dilakukan lantaran alasan finansial, kesehatan, atau alasan lainnya.

4. Berkomentar Tentang Tubuh

Komentar Tentang Tubuh

Moms, hindari komentar seperti “Berat badannya sudah turun? Ia pasti nggak ngurusin anaknya deh supaya bisa olahraga” atau “Dia masih belum nurunin berat badan? Padahal udah hampir setahun melahirkan."

Bahkan tak jarang ada bentuk mom shaming tentang penampilan wajah. ”Ya ampun kok gak dandan sih? Hati-hati nanti suami kabur”.

5. Menanyakan Pilihan Melahirkan

Cara Melahirkan

Beberapa ibu memilih melahirkan bayi di rumah sakit dengan bantuan epidural. Tapi ada juga ibu yang memilih melahirkan tanpa bantuan obat apapun.

Tiap ibu punya hak untuk memilih cara ia melahirkan bayinya ke dunia. Kita tidak perlu bertanya, menghakimi, atau mengkritik pilihannya.

Baca Juga: Atasi Radang Amandel Pada Ibu Hamil dengan 4 Cara Alami Ini

Padahal, Ibu Rumah Tangga Sama Baiknya dengan Ibu Bekerja

hal yang gak perlu dikatakan pada ibu rumah tangga( hero

Walaupun begitu, Moms, ada dua temuan penelitian teratas mengenai ibu yang tinggal di rumah yang mungkin mengejutkan.

Sebuah studi tahun 2014 menemukan bahwa terdapat manfaat memiliki orang tua di rumah pada tahun-tahun awal kehidupan seorang anak.

Dalam studi tersebut, kinerja pendidikan dari 68.000 anak-anak diukur. Mereka menemukan peningkatan kinerja sekolah hingga anak-anak usia sekolah menengah. Dampak pendidikan terbesar dalam penelitian mereka ditemukan pada anak-anak usia 6 dan 7.

Kabar baik bagi ibu yang tetap di rumah. Dua penelitian menyatakan Moms berada di rumah bersama anak-anak selama tahap-tahap awal itu lebih baik untuk Si Kecil daripada mereka berada di daycare.

Studi-studi dari Institut Nasional Kesehatan Anak dan Pengembangan Manusia dan Institut Pengembangan Anak dari Universitas Minnesota menemukan bahwa anak-anak yang menghabiskan banyak hari mereka di tempat penitipan anak mengalami tingkat stres dan agresi yang lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang tinggal di rumah. Tiga penelitian lanjutan tujuh tahun setelah penelitian asli mengkonfirmasi temuan-temuan itu masih berlaku.

Baca Juga: 6 Langkah Mengobati Tekanan Darah Rendah

Terakhir, menurut psikolog bersertifikat, Amy Morin LCSW, penelitian adalah penelitian dan hanya Moms yang mengetahui apa yang terbaik untuk Anda dan keluarga.

“Memang benar tidak semua orang memiliki kemewahan memilih antara tinggal di rumah atau bekerja, tetapi tidak semua dapat memberitahu apa yang paling tepat untuk terjadi bagi keluarga Anda,” terangnya.

Moms, buatlah keputusan yang tepat untuk Anda dan jangan khawatir tentang apa yang dipikirkan orang asing, tetangga, atau ibu mertua Anda.

(WAR/ERW)

Artikel Terkait