KEHAMILAN
15 September 2020

Terjadinya Bercak atau Flek Saat Hamil, Normal atau Tidak?

Penyebabnya bisa jadi pertanda sesuatu yang mengkhawatirkan
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Dina Vionetta
Disunting oleh Amelia Puteri

Banyak ibu hamil langsung merasa khawatir secara berlebihan ketika terjadi flek saat hamil. Padahal tidak semua bercak darah yang keluar dari vagina selama masa kehamilan berbahaya.

Alyssa Stephenson-Famy, MD, dokter spesialis ibu dan anak di University of Washington, Seattle mengatakan sebagian besar bercak atau flek tidak berbahaya.

Secara rinci, dr. Famy mengatakan bahwa banyak perempuan mengeluarkan flek setelah berhubungan intim.

Yang lainnya mungkin mengalami pendarahan karena alasan yang tidak ada hubungannya dengan kehamilan, seperti infeksi atau robekan pada dinding vagina.

Meski begitu, ada perdarahan pada ibu hamil yang bisa menjadi indikasi berbagai komplikasi, termasuk keguguran, kehamilan ektopik, dan plasenta previa, dan karenanya tidak boleh diabaikan.

Berikut adalah berbagai alasan yang menyebabkan terjadinya flek saat hamil dan kapan harus mulai khawatir.

Baca Juga: Kenali Pendarahan Implantasi, Flek di Awal Kehamilan

Penyebab Flek Saat Hamil 4 Bulan Pertama

Flek di Awal Kehamilan.jpg

Foto: Orami Photo Stock

American Pregnancy Association menjelaskan, bahwa flek atau bercak ketika hamil adalah masalah umum yang dihadapi banyak wanita hamil. Sekitar 20 persen wanita melaporkan mengalami flek selama 12 minggu pertama kehamilannya.

Dijelaskan oleh dr. Stephenson-Famy, bahwa diperkirakan 25 hingga 40 persen wanita akan mengalami perdarahan vagina selama awal kehamilan.

Menurut American College of Obstetricians and Gynecologists, perdarahan pada trimester pertama terjadi pada sekitar 15-25 persen wanita hamil.

Bercak atau flek dapat terjadi 1-2 minggu setelah pembuahan, ketika sel telur yang dibuahi ditanamkan pada lapisan rahim. Munculnya flek saat hamil atau perdarahan pada trimester pertama mungkin tidak menjadi masalah.

Ini bisa disebabkan oleh berhubungan seks, adanya tanda infeksi, implantasi (sel telur yang dibuahi menempel pada lapisan rahim dan mulai tumbuh), perubahan hormon, atau perubahan serviks (ketika leher rahim terbuka ke rahim yang berada di atas vagina).

Kadang-kadang perdarahan atau flek pada kehamilan trimester pertama merupakan tanda masalah serius, seperti terjadinya keguguran di mana hampir semua wanita yang keguguran mengalami perdarahan sebelum keguguran.

Kehamilan ektopik juga dapat menjadi kondisi flek saat hamil yang mengkhawatirkan, ini terjadi ketika sel telur yang telah dibuahi berada di luar rahim dan mulai tumbuh.

Terakhir, kehamilan molar yang merupakan kondisi jarang terjadi, ketika massa jaringan terbentuk di dalam rahim.

Baca Juga: Tips Menghilangkan Flek Hitam di Wajah Saat Hamil, Aman!

Jenis Flek Saat Hamil yang Berbahaya dan Mengkhawatirkan

Ada sejumlah kemungkinan penyebab flek saat hamil atau pendarahan yang tidak berbahaya pada paruh pertama kehamilan, termasuk perdarahan implantasi terjadi sekitar empat pekan pertama kehamilan dan tidak perlu dikhawatirkan. Sebab, ia justru menandakan terjadinya implantasi.

Selain itu, flek saat hamil muncul ketika menebalnya serviks karena darah yang mengalir ke sana dalam jumlah banyak selama kehamilan mungkin memicu perdarahan apabila terjadi hubungan seksual.

Infeksi yang terjadi pada beberapa wanita karena penyakit menular seksual seperti klamidia. Dalam hal ini, kondisi yang mendasarinya perlu diobati sesegera mungkin.

Perdarahan atau flek saat hamil bisa terjadi sehabis pemeriksaan panggul atau pap smear yang biasa dilakukan di trimester pertama kehamilan.

Tetapi, flek saat hamil yang perlu dikhawatirkan antara lain meliputi perdarahan subkorionik, yaitu perdarahan di sekitar plasenta. Sebab, perdarahan ini dapat meningkatkan risiko persalinan prematur.

Selain itu, kehamilan kimiawi, yang terjadi ketika sel telur dibuahi tetapi tidak berhasil terimplan ke dalam rahim.

Keguguran, merupakan kehilangan kehamilan spontan dalam 20 minggu pertama. Seringkali, perdarahan atau flek saat hamil yang terjadi selama keguguran akan disertai dengan gejala lain, seperti kram atau sakit perut.

Ada pula kehamilan ektopik, yang terjadi ketika telur yang dibuahi terimplan di luar rahim, paling sering di saluran tuba.

Baca Juga: Penyebab Flek Hitam Saat Hamil

Penyebab Pendarahan pada 4 Bulan Terakhir

Flek di Akhir Kehamilan.jpg

Foto: Orami Photo Stock

Risiko perdarahan lebih sering terjadi pada awal kehamilan dan berkurang pada trimester kedua. Makanya, saat terjadi pendarahan pada usia kehamilan ini tentu harus diwaspadai.

Sering kali, pendarahan terjadi karena hubungan seksual dan pemeriksaan serviks terutama di akhir kehamilan.

Selain itu, ada pula plasenta previa, yaitu ketika plasenta menutupi serviks baik sebagian atau seluruhnya. Kondisi ini bisa menjadi penyebab munculnya flek saat hamil.

Hal yang cukup berbahaya adalah solusio plasenta, di mana plasenta terlepas dari dinding rahim dan dapat menyebabkan perdarahan vagina yang parah, mengancam ibu dan bayi.

Menurut American Academy of Family Physicians, solusio plasenta adalah penyebab paling umum dari pendarahan serius selama akhir kehamilan. Solusio plasenta terjadi jika ari-ari bayi terlepas dari dinding bagian dalam rahim sebelum melahirkan, baik sebagian atau seluruhnya.

Kondisi ini jarang terjadi, dan hanya terjadi pada sekitar satu persen dari semua kehamilan yang terjadi di Amerika Serikat.

Masalah umum yang dapat menyebabkan perdarahan ringan di akhir kehamilan termasuk terjadinya peradangan atau pertumbuhan pada serviks. Sementara, perdarahan berat adalah tanda yang lebih serius.

Perdarahan yang banyak mungkin disebabkan oleh adanya masalah dengan plasenta. Perdarahan dalam jumlah berapa pun juga bisa menandakan persalinan prematur.

Perdarahan atau munculnya flek saat hamil di trimester akhir dapat disebabkan oleh beberapa hal seperti ketika melakukan persalinan, berhubungan seks, pemeriksaan internal, atau masalah dengan serviks, seperti infeksi.

Sementara itu, perdarahan atau flek pada kehamilan trimester akhir mungkin merupakan tanda masalah serius, seperti dilakukannya persalinan prematur di mana Moms melahirkan sebelum usia kandungan 37 minggu.

Kondisi yang terkait plasenta seperti placenta previa (plasenta terletak sangat rendah di dalam rahim dan menutupi seluruh atau sebagian serviks), solusio plasenta (plasenta terlepas dari dinding rahim sebelum lahir) juga bisa menyebabkan flek saat hamil.

Pecahnya uterus, di mana rahim robek saat persalinan juga dapat menyebabkan flek di masa kehamilan. Kondisi ini bisa terjadi jika memiliki bekas luka di rahim dari kelahiran sesar sebelumnya, atau melakukan jenis operasi lain pada rahim.

Baca Juga: Melahirkan Normal Tanpa Jahitan, Mungkinkah? Ini Kata Dokter Kandungan

Waktu untuk Berkonsultasi dengan Dokter

5 Konsultasi Dokter.jpg

Foto: Orami Photo Stock

Munculnya flek saat hamil mungkin membuat Moms khawatir. Perlu diketahui, bahwa tanda-tanda perdarahan disebabkan oleh kondisi serius (keguguran, masalah plasenta, persalinan prematur), biasanya disertai dengan kram dan atau demam.

Warna darah juga penting, darah yang merah cerah biasanya lebih mengkhawatirkan daripada darah yang kecoklatan. Apa yang penting, selalu hubungi dokter apabila terjadi flek atau bercak.

Laura Riley, MD, penulis buku Pregnancy: The Ultimate Week-by-Week Pregnancy Guide mengatakan ibu hamil harus segera menghubungi dokter kalau merasa ingin pingsan dan darah yang keluar dari vagina terlihat mengotori pembalut.

"Perdarahan yang juga disertai rasa sakit dan demam juga jadi pertanda ibu hamil harus segera ke dokter," tutup Riley.

Jika terjadi perdarahan, jurnal American Academy of Family Physicians menjelaskan bahwa jika terjadi perdarahan, penanganannya tergantung pada penyebab perdarahan.

Tidak diperlukan perawatan untuk keguguran yang mengancam. Sementara, kehamilan ektopik perlu ditangani dengan obat atau operasi. Setelah keguguran, sisa jaringan dapat keluar dengan sendirinya.

Artikel Terkait