PROGRAM HAMIL
1 Oktober 2020

Berhubungan Saat Masa Subur Apakah Pasti Hamil? Ini Faktor yang Menentukan!

Selain masa subur, banyak hal yang mempengaruhi peluang kehamilan
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Putriana
Disunting oleh Amelia Puteri

Memiliki momongan merupakan impian sebagian besar pasangan suami istri. Berbagai cara dilakukan untuk mendapatkan sang buah hati sebagai pelengkap keluarga.

Salah satunya dengan melakukan hubungan pada masa subur yang dipercaya sebagai cara pasti mendapatkan kehamilan.

Tetapi, berhubungan saat masa subur apakah pasti hamil? Pertanyaan ini mungkin menjadi perhatian banyak pasangan baru yang ingin memiliki anak. Moms bisa mencari tahu penjelasan lengkapnya berikut ini.

Berhubungan Saat Masa Subur Apakah Psti Hamil?

Seks dengan Posisi 69, Simak Tips & Triknya!

Foto: Orami Photo Stock

Jika ditanya berhubungan saat masa subur apakah pasti hamil? Jawabannya bisa iya, bisa tidak. Seorang wanita memiliki peluang hamil sekitar 15-30 persen setiap bulannya.

Namun peluang kehamilan paling tinggi berada pada masa subur terutama saat hari ovulasi, yakni proses ketika sel telur yang sudah matang dikeluarkan menuju tuba falopi dan siap untuk dibuahi oleh sel sperma.

Apabila sel sperma dalam keadaan sehat dan berhasil bertemu dengan sel telur, maka terjadilah pembuahan.

Bagaimana cara kita tahu kapan ovulasi terjadi? Salah satu caranya adalah dengan menghitung masa subur. Ini dapat menjadi faktor dalam menentukan berhubungan saat masa subur apakah pasti hamil.

Menurut studi tahun 2003 yang diterbitkan jurnal Human Reproduction, mengatur waktu berhubungan dapat membantu wanita mendapatkan peluang kehamilan.

Studi ini melibatkan 346 wanita dengan rentang usia antara 20 hingga 44 tahun. Hasilnya 38 persen kemungkinan hamil dalam satu siklus, 68 persen kemungkinan dalam tiga siklus, 81 persen dalam enam siklus, dan 92 persen kemungkinan hamil dalam 12 siklus.

Selain dengan menghitung masa subur, opsi lain yang dapat dilakukan untuk memperkirakan waktu ovulasi dengan lebih akurat adalah dengan alat prediksi kesuburan.

Alat ini bekerja dengan mengukur kandungan LH (luteinizing hormone ) dalam urin. Hormon ini biasanya mengalami kenaikan jumlah sekitar 14-15 hari pasca haid, sedangkan ovulasi bisa terjadi sekitar 10 hingga 12 jam setelah LH terdeteksi meningkat.

Baca Juga: Kenali 5 Tanda Tubuh Berada Pada Masa Subur

Bagaimana Cara Menghitung Masa Subur?

berhubungan saat masa subur apakah pasti hamil

Foto: Orami Photo Stock

Setelah mengetahui kemungkinan berhubungan saat masa subur apakah pasti hamil, selanjutnya Moms bisa mencari tahu bagaimana menghitung masa subur.

Menurut laman National Health Service di Inggris, wanita yang memiliki siklus menstruasi normal dan teratur umumnya mengalami ovulasi pada 12-14 hari atau sekitar dua minggu sebelum tanggal menstruasi berikutnya.

Namun waktu tersebut tidak dapat dipastikan akan sama setiap bulannya, karena ada beberapa kemungkinan siklus ovulasi berubah. Misalnya sedang mengonsumsi obat-obatan tertentu, sedang menyusui, kondisi medis seperti polycystic ovary syndrome (PCOS), diet ketat, hingga stres.

Umumnya wanita memiliki siklus menstruasi 28 hari, namun tak sedikit dari mereka mempunyai siklus yang lebih pendek yakni 21 hari atau bahkan siklus yang lebih panjang sekitar 35 hari.

Untuk mempermudah, Moms bisa memanfaatkan aplikasi penghitung masa subur yang bisa diunduh lewat ponsel.

Baca Juga: Cek Masa Subur Melalui 5 Jenis Lendir Serviks Berikut Ini!

Apa Saja Faktor yang Pengaruhi Peluang Kehamilan Selain Masa Subur?

faktor lain yang memengaruhi berhubungan saat masa subur apakah pasti hamil

Foto: Orami Photo Stock

Berhubungan saat masa subur memang menjadi salah satu kunci untuk meningkatkan peluang hamil. Namun ada beberapa faktor lain yang tak kalah penting dan turut memengaruhi keberhasilan tersebut. Beberapa di antaranya adalah:

1. Usia

Faktor lain yang mendukung keberhasilan untuk hamil ketika berhubungan saat masa subur adalah usia.

Dikutip dari Today's Parent, dokter kandungan di Women's College Hospital dan St. Joseph's Health Center di Toronto, Kanada, dr. Yolanda Kirkham mengatakan kalau usia turut menentukan seberapa besar peluang hamil terjadi setiap bulannya.

Wanita berusia di bawah 35 tahun memiliki persentase kehamilan 25-30 persen, wanita berusia 35-39 tahun memiliki kemungkinan delapan hingga 15 persen, wanita berusia 40-42 tahun memiliki kemungkinan hamil sebesar lima persen, sedangkan wanita berusia 43 tahun memiliki peluang satu hingga dua persen saja.

Bukan hanya memengaruhi tingkat kesuburan, tetapi juga risiko keguguran yang meningkat menjadi 15 persen setelah usia 35 hingga 50 persen pada usia 45 tahun.

Secara umum, Kirkham mengatakan 85 persen wanita akan hamil dalam kurun waktu satu tahun mencoba. Namun ia menyarankan untuk berkonsulasti soal kesuburan apabila Moms masih berusia di bawah 35 tahun dan belum berhasil setelah mencoba selama satu tahun.

Pada wanita berusia 35 tahun ke atas, disarankan langsung berkonsultasi dan mencari bantuan ahli jika belum mendapat kehamilan setelah mencoba selama enam bulan.

Alasannya, karena kualitas sel telur akan menurun dan kondisi medis menjadi lebih terjadi umum seiring bertambahnya usia.

2. Kualitas Sperma

Kualitas sperma juga menjadi faktor lain dari keberhasilan berhubungan saat masa subur apakah pasti hamil.

Dr. Marjorie Dixon, seorang spesialis pengobatan reproduksi yang berbasis di Toronto, mengatakan jika terjadinya kehamilan tidak hanya dipengaruhi oleh sel telur, namun juga kualitas sperma.

“Setidaknya 50 persen masalah ketidaksuburan dapat disebabkan oleh faktor ketidaksuburan pria,” kata Dixon.

Maslaah reproduksi yang disebabkan oleh kualitas sperma mencakup julah sperma sedikit, bentuk sperma (beberapa sperma yang memiliki dua kepala), hingga kecepatan sperma berenang menuju tuba falopi.

Selain masalah genetis, penurunan kualitas sperma bisa terjadi akibat beberapa faktor seperti konsumsi minuman keras, merokok, dan berendam air panas ataupun sauna.

Meski demikian, Dixon mengatakan jika faktor eksternal yang mengakibatkan menurunnya kualitas sperma tidak bersifat permanen.

“Testis seperti pabrik produksi sperma. Jika Anda berhenti merokok atau minum atau pergi ke pemandian air panas, tiga bulan kemudian mereka pulih dan Anda baik-baik saja.”

Baca Juga: 5 Buah untuk Tingkatkan Kualitas Sperma, Sudah Coba?

3. Rutin Berolahraga dan Tidur Cukup

Kata Dr. Marjorie Dixon, aliran darah yang baik dapat mengoptimalkan peluang hamil dan hal ini bisa didapatkan dengan olahraga secara teratur.

"Aliran darah pada otot juga berarti aliran darah ke organ, termasuk ovarium Anda. Dan dibutuhkan pembuluh darah yang baik untuk menghasilkan telur yang sehat," jelasnya.

Namun olahraga yang dilakukan harus proporsional. Karena olahraga berlebihan dengan intensitas, frekuensi, dan durasi tinggi lebih dari 4 jam seminggu justru akan menimbulkan efek sebaliknya.

Tubuh akan mengalami ketidaksimbangan apabila energi yang dikeluarkan untuk berolahraga jauh lebih besar daripada nutrisi yang masuk. Hal ini dapat menyebabkan gangguan hormon di otak atau disfungsi hipotalamus yang mengakibatkan siklus mentsruasi tak teratur.

Pada pria, olahraga dengan frekuensi, intensitas, dan durasi yang tinggi lebih dari 5 jam per minggu dapat menyebabkan penurunan kesuburan. Jenis olahraga yang dimaksud salah satunya adalah kardio seperti aerobik dan bersepeda.

Tips lainnya yang bisa memperbesar peluang hamil selain berhubungan saat masa subur adalah tidur cukup dan nyenyak. Alasannya, karena ovulasi biasanya terjadi pada malam hari. Sehingga tidur cukup dan berkualitas penting untuk menjaga tubuh tetap prima.

4. Gaya Hidup

Gaya hidup sangat mungkin berpengaruh pada kesuburan dan peluang kehamilan. Menerapkan gaya hidup sehat seperti berolahraga dan tidur cukup terbukti meningkatkan kesuburan baik bagi pria dan wanita.

Sebaliknya, gaya hidup tidak sehat seperti merokok dan konsumsi minuman beralkohol dapat meningkatkan masalah infertilitas.

Pada pria, merokok bisa menurunkan produksi sperma, menurunkan motilitas atau pergerakan sperma, dan morfologi atau bentuk sperma normal. Selain itu, kerusakan DNA sperma pun mungkin juga terjadi.

Sedangan pada wanita, merokok dapat menimbulkan ketidakseimbangan hormon dan juga mempengaruhi kualitas sel telur.

Sementara itu, menurut Your Fertility, kebiasaan mengonsumsi minuman beralkohol dapat menyebabkan impotensi, mengurangi libido atau gairah seks, dan menurunkan kualitas sel sperma.

Kebiasaan ini juga memiliki pengaruh negatif bagi reproduksi wanita seperti meningkatkan angka keguguran, menurunkan peluang penempelan janin pada rahim, gangguan ovulasi, dan perkembangan embrio yang tidak normal.

Baca Juga: Benarkah Usia Pengaruhi Peluang Hamil Seorang Wanita?

5. Berat Badan

Dilansir dari jurnal Medicine, indeks massa tubuh (IMT) memiliki kolerasi dengan kesuburan dan kualitas sperma pada pria. Pria yang memiliki IMT rendah (di bawah 20) dapat memperbesar kemungkinan infertilitas.

Sementara, obesitas pada pria dapat memicu disfungsi ereksi dan meningkatkan kerusakan DNA serta sperma. Berat badan menjadi faktor yang perlu diperhatikan selain berhubungan saat masa subur.

Tak hanya pria, pada wanita yang mengalami obesitas, masalah kesuburan dapat dipicu ketidakseimbangan hormonal dan gangguan ovulasi.

6. Intensitas Berhubungan

Sering tidaknya berhubungan juga menjadi faktor yang memungkinkan terjadinya kehamilan, selain berhubungan saat masa subur apakah pasti hamil.

Terlalu sering berhubungan dan juga ejakulasi dapat menurunkan kualitas sperma. Sedangkan terlalu jarang berhubungan dapat berpotensi melewatkan timing yang pas saat terjadinya ovulasi.

Berhubungan selama beberapa hari setelah masa menstruasi selesai dipercaya dapat meningkatkan keberhasilan kehamilan. Selain dapat bertepatan dengan matangnya sel telur atau ovulasi, sel sperma bisa jadi dalam keadaan yang baik.

7. Kondisi Psikologis

Secara ilmiah, belum ada bukti kuat yang secara langsung menyatakan kesehatan reproduksi dan tingkat kesuburan dipengaruhi oleh kondisi psikologis seperti salah satunya stres.

Namun, stres dan tekanan psikologis pada wanita memiliki pengaruh terhadap sistem imun, sistem hormonal, dan sistem saraf otonom. Secara tak langsung, hal ini berkaitan pula dengan sistem reproduksi wanita.

Jurnal yang dipublikasikan Dialogues in Clinical Neuroscience tahun 2018 menyebutkan beberapa penelitian yang mendukung pernyataan tersebut. Salah satunya jurnal Human Reproduction di tahun 2004.

Studi tersebut melibatkan 122 wanita yang mendatangi klinik kesuburan. Hasilnya sekitar 40 persen dari mereka mengalami masalah psikologis seperti depresi, gangguan kecemasan, atau keduanya.

Sejumlah studi terbaru yang membahas tentang prevalensi gejala psikologis pada infertilitas menyimpulkan bahwa 25 hingga 60 persen orang yang mengalami masalah kesuburan memiliki tingkat depresi dan gangguan kecemasan secara signifikan lebih tinggi.

Itu dia Moms, penjelasan mengenai berhubungan saat masa subur apakah pasti hamil serta apa saja faktor yang memengaruhi kehamilan.

Jika Moms masih memiliki pertanyaan, bisa langsung berkonsultasi dengan dokter kandungan untuk program hamil, ya. Hal ini agar mendapatkan saran yang terbaik.

Artikel Terkait