NEWBORN
19 Juni 2019

Berisiko Tinggi, Begini Gejala Dini Cerebral Palsy pada Bayi Prematur

Dapat dikenali dari perkembangan bayi
Artikel ditulis oleh Dina Vionetta
Disunting oleh Dina Vionetta

Cerebral palsy (CP) adalah kelainan otak yang mempengaruhi kemampuan bergerak, masalah kognitif dan sensorik, serta epilepsi. Meskipun semua bayi berisiko mengalami kelainan ini, risikonya jauh lebih tinggi pada bayi yang terlahir prematur. Di mana sekitar 100 dari 1.000 bayi di dunia yang lahir pada usia kehamilan kurang dari 28 minggu berisiko menderita CP. Semakin dini bayi lahir, semakin tinggi pula risikonya.

Bagaimana Bayi Prematur dapat Meningkatkan Risiko CP?

Berisiko Tinggi, Begini Gejala Dini Cerebral Palsy Pada Bayi Prematur.jpg

foto: todaysparent.com

Kelahiran prematur yang terjadi sebelum usia kehamilan 37 minggu, merupakan faktor risiko pengembangan berbagai kondisi medis pada bayi, termasuk Cerebral Palsy.

Tubuh dan sistem saraf bayi prematur masih belum sepenuhnya berkembang sehingga dapat menyebabkan komplikasi seperti halnya masalah pernapasan. Selain itu, rahim ibu berfungsi untuk melindungi janin dari infeksi dan berbagai kelainan. Di mana kelahiran prematur membuat bayi kehilangan perlindungan tersebut. Oleh karenanya, banyak bayi prematur yang harus dirawat secara intensif di NICU.

Meskipun bayi prematur tidak selalu mengalami CP dan gangguan kesehatan lainnya, hampir setengah dari anak-anak yang mengembangkan CP terlahir secara prematur. Banyak kondisi neurologis dan penyebab yang menghubungkan antara kelahiran prematur dan CP, seperti leukomalacia periventricular (PVL).

Bayi prematur juga memiliki risiko infeksi yang tinggi, faktor risiko lain yang berkaitan dengan Cerebral Palsy.

Baca Juga: Berat Bayi Lahir Besar, Apa Risikonya?

Bagaimana Gejala Dini Cerebral Palsy pada Bayi Prematur?

Berisiko Tinggi, Begini Gejala Dini Cerebral Palsy Pada Bayi Prematur 3.png

foto: verywellfamily.com

“Agak sulit bagi orang tua untuk mengenali gejala dini Cerebral Palsy. Tetapi menurut saya yang paling mudah untuk mengetahuinya adalah saat bayi tidak mencapai tonggak perkembangannya. Hal-hal seperti bayi belum bisa duduk sendiri hingga usia 7 bulan atau masih belum bisa berjalan pada usia 12 – 15 bulan,” kata dokter anak Alexa Craig. MD., seperti dilansir dari Mainehealth.com.

Beberapa gejala dini Cerebral Palsy lainnya pada bayi prematur antara lain:

  • Kelemahan otot (bayi tampak lunglai ketika diangkat atau digendong)
  • Tidak dapat mengangkat kepalanya sendiri ketika tengkurap atau dalam posisi duduk yang didukung
  • Kejang otot atau tampak kaku
  • Kontrol otot, postur, dan refleks yang buruk
  • Kesulitan makan atau menelan
  • Lebih suka menggunakan satu sisi tubuhnya

Baca Juga: Yuk, Perhatikan 3 Faktor Penting Ini Saat Menyusui Bayi Prematur

Kapan Gejala Dini Cerebral Palsy pada Bayi Prematur dapat Didiagnosis?

Berisiko Tinggi, Begini Gejala Dini Cerebral Palsy Pada Bayi Prematur 3.png

foto: tommy.org

Cerebral Palsy adalah kelainan yang kompleks dan proses diagnosis yang perlu dilakukan tidaklah mudah. Dengan begitu, waktu diagnosis resmi juga sangat bervariasi.

Mengutip Research.cerebralpalsy.org.au, bayi prematur yang lahir sangat dini biasanya diawasi dengan cermat dan mungkin menjalani pemindaian MRI dini. MRI dapat menunjukkan adanya cedera otak, tetapi pada tahap ini masih dianggap terlalu dini untuk memprediksi dampaknya. Apakah mengarah pada CP atau kondisi medis lainnya.

Selanjutnya, dokter akan mengamati perkembangan gerakan bayi (General Movement Assessment) sejak lahir hingga usia 5 bulan. Ini adalah predikator kuat CP, terutama ketika ada perubahan tertentu pada otak yang terlihat pada pemeriksaan MRI. Namun, pada tahap ini masih belum dapat memprediksi tingkat keparahan CP.

Jika hasil General Movement Assessment menunjukkan bahwa bayi berisiko mengalami CP, maka intervensi dapat dimulai sedini mungkin.

Baca Juga: Mengenal Retinopati Prematuritas, Risiko Kebutaan Pada Bayi Prematur

Bayi prematur memang memiliki risiko tinggi mengalami CP dan tanda-tandanya tidak mudah dikenali secara kasat mata. Namun, perkembangan teknologi dalam bidang kesehatan sekarang ini sudah sangat canggih untuk membantu dokter melakukan diagnosis dan penanganan. Pastikan Moms selalu berkonsultasi dengan dokter mengenai perkembangan si kecil.

(RGW)

Artikel Terkait