KEHAMILAN
17 September 2020

Bolehkah Ibu Hamil Makan Pete Setiap Hari? Ini Faktanya!

Untuk Moms yang masih suka makan pete selama hamil, sebaiknya mulai membatasi konsumsinya nih.
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Rizky
Disunting oleh Ikhda Rizky Nurbayu

Selain jengkol, pete juga merupakan salah satu makanan favorit banyak orang Indonesia walaupun mereka tahu bahwa makanan ini akan menyebabkan bau yang tidak sedap. Dengan aroma yang khas dari pete, beberapa orang bahkan bisa semakin bersemangat untuk makan. Oleh karena itu, beberapa orang termasuk ibu hamil kerap menambahkan pete ke dalam makanan mereka untuk meningkatkan selera makan.

Bagi sebagian orang Indonesia, makan pete dengan sambal dan nasi hangat bisa menjadi hidangan yang sangat lezat. Namun, sebetulnya, bolehkah ibu hamil makan pete? Apakah makanan satu ini memiliki lebih banyak manfaat untuk kehamilan atau malah bisa menyebabkan dampak buruk? Supaya Moms tidak keliru, mari simak faktanya berikut ini!

Baca Juga: Jengkol Vs Petai, Apa Manfaatnya Bagi Kesehatan Tubuh?

Bolehkah Ibu Hamil Makan Pete?

Pete atau Parkia speciosa, adalah keluarga kacang-kacangan dan dipanen dari pohon tinggi di hutan hujan yang dapat tumbuh antara 15 meter hingga 45 meter. Ini adalah tanaman atau hidangan populer di negara-negara Asia Tenggara, mulai dari Myanmar, Thailand, Singapura, Malaysia, dan Indonesia.

Jika Moms bertanya apakah makan pete diperbolehkan selama hamil, maka jawabannya akan sangat bervariasi. Sebetulnya boleh-boleh saja ibu hamil makan pete, namun jumlahnya harus tetap dibatasi supaya tidak menyebabkan efek negatif bagi tubuh dan perkembangan bayi di dalam kandungan.

Dikutip dari artikel yang dipublikasikan di Awakening State, tanaman ini mengandung banyak sekali mineral, mulai dari kalium, mangan, kalsium, besi, seng, tembaga, fosfor, yang kesemuanya baik untuk kehamilan.

Pete juga kaya akan vitamin seperti vitamin A dalam bentuk beta-karoten, vitamin B1, vitamin B6, vitamin B9 atau folat, dan vitamin C. Selain itu, pete juga merupakan sumber protein yang sangat baik, rendah lemak dan serat makanan serta rendah gula. Pete bahkan menjadi makanan yang cocok dikonsumsi oleh pengidap diabetes tipe 2.

Baca Juga: Perhatikan 7 Hal Ini Saat Hamil 9 Bulan

Ini Manfaat Pete untuk Ibu Hamil

Ini Manfaat Petai untuk Ibu Hamil

Foto: Orami Photo Stock

Selama hamil, konsumsi pete diperbolehkan karena makanan satu ini juga memiliki banyak manfaat, seperti misalnya:

1. Meningkatkan Suasana Hati

Selama hamil, terutama saat trimester pertama, beberapa wanita akan merasakan gejala morning sickness. Setelah muntah dan mual pagi hari, ibu hamil pun pasti jadi mengalami kelesuan dan penurunan suasana hati.

Namun, berkat kandungan triptofan di dalam pete, suasana hati ibu hamil akan kembali membaik. Triptofan merupakan asam amino esensial (dianggap demikian karena tubuh kita tidak dapat memproduksinya sendiri) yang bertindak sebagai pengatur suasana hati alami karena memiliki kapasitas untuk membantu keseimbangan tubuh dan menghasilkan hormon tertentu secara alami, terutama serotonin.

Serotonin ini adalah hormon neurotransmitter yang dijuluki "molekul bahagia". Dengan meningkatnya kadar serotonin berkat triptofan di dalam pete, maka kualitas hidup seseorang yang memiliki masalah kesehatan mental akan membaik.

Untuk mencegah morning sickness, Moms juga bisa makan pete di sela waktu makan untuk membuat kadar glukosa darah naik. Dengan begini Moms tidak akan merasa lemas dan akan merasa lebih bahagia menjalani kehamilan.

2. Mendukung Pertumbuhan Bayi

Saat hamil, Moms membutuhkan sekitar dua kali lipat jumlah zat besi dari kebutuhan sebelum hamil. Ini karena tubuh menggunakan mineral penting ini untuk membuat darah ekstra untuk bayi. Lebih penting lagi, ibu hamil membutuhkan zat besi ekstra untuk plasenta dan pertumbuhan bayi, terutama pada trimester ke-2 dan ke-3.

Tak hanya itu, ibu hamil juga dianjurkan untuk memasukkan sumber vitamin C alami seperti yang ada dalam pete. Terutama saat mengonsumsi sumber zat besi nabati karena vitamin C dapat membantu tubuh menyerap hingga 6 kali lebih banyak.

3. Melancarkan Pencernaan

Orang yang mengonsumsi makanan tinggi serat memiliki tingkat sembelit yang lebih rendah daripada orang yang mengonsumsi makanan rendah serat, dan mereka juga memiliki peluang lebih kecil untuk mengembangkan wasir dan divertikulitis. Saat hamil, estrogen pun membuat sistem pencernaan melambat sehingga sembelit adalah kondisi yang cukup umum dialami ibu hamil. Berkat serat yang terkandung di dalam pete, maka risiko sembelit pada ibu hamil akan berkurang.

Baca Juga: 4 Penyebab Ibu Hamil Sulit Tidur di Trimester Ketiga

Namun, Makan Pete saat Hamil Tak Boleh Berlebihan

Meski terbukti memiliki banyak manfaat selama kehamilan, tampaknya makan pete terlalu banyak selama hamil juga tidak disarankan. Larangan mengonsumsi pete terlalu banyak pun tidak hanya berlaku untuk ibu hamil, tetapi juga untuk semua kalangan. Berikut ini efek buruk pete selama kehamilan yang perlu Moms ketahui:

1. Mengganggu Kinerja Ginjal

Konsumsi pete yang terlalu banyak akan membuat ginjal bekerja lebih berat. Ini karena pete mengandung protein yang cukup tinggi, yang dalam jangka panjang bisa menyebabkan efek buruk pada ginjal. Proses penyaringan ginjal pun melambat dan jika dibiarkan, ginjal akan bekerja semakin berat dari seharusnya.

2. Menyebabkan Bau Tidak Sedap

Salah satu alasan beberapa orang menghindari pete adalah karena ia menyebabkan bau yang tidak sedap. Bau tidak sedap ini bahkan bisa menyebar dan dapat bertahan di sistem ekskresi tubuh dan di mulut selama dua sampai tiga hari. Jika tak diolah dengan benar pun, bau pete akan semakin buruk.

3. Mengganggu Sistem Pencernaan

Tak hanya sebabkan bau, mengolah pete dengan tidak benar juga akan menyebabkan gangguan pencernaan. Ini karena tubuh akan semakin kesulitan memecah karbohidrat kompleks di dalam pete. Oleh karena itu, masak pete harus betul-betul diperhatikan agar tidak mengganggu sistem pencernaan.

Baca Juga: Berteriak saat Hamil, Benarkan Bisa Memengaruhi Pendengaran Si Kecil?

Jenis Makanan Lain yang Perlu Dihindari saat Hamil

Tak hanya pete, ada juga beberapa jenis makanan lain yang perlu dihindari selama kehamilan. Beberapa ibu hamil mungkin sudah tahu beberapa jenisnya, seperti makanan mentah, kopi, dan semacamnya. Namun untungnya, ada lebih banyak yang makanan yang boleh dikonsumsi daripada yang tidak. Supaya kehamilan tetap terjaga, maka penting bagi Moms menghindari beberapa jenis makanan ini:

1. Ikan dengan Kandungan Merkuri Tinggi

ikan dengan Merkuri Tinggi

Foto: Orami Photo Stock

Merkuri adalah senyawa yang sangat beracun. Ia tidak memiliki tingkat paparan yang aman dan paling sering ditemukan di air yang tercemar. Dalam jumlah yang lebih tinggi, merkuri bisa menjadi racun bagi sistem saraf, sistem kekebalan, dan ginjal. Merkuri juga dapat menyebabkan masalah perkembangan yang serius pada bayi di dalam kandungan, bahkan dalam jumlah yang lebih rendah.

Karena ditemukan di laut yang tercemar, ikan laut besar dapat mengakumulasi merkuri dalam jumlah yang lebih tinggi. Oleh karena itu, sebaiknya hindari ikan dengan kandungan merkuri tinggi saat hamil dan menyusui seperti ikan raja makarel, tuna (terutama tuna mata besar), dan ikan marlin.

Namun, penting untuk diperhatikan bahwa tidak semua ikan mengandung merkuri tinggi - hanya jenis tertentu. Menurut Food and Drug Administration, mengonsumsi ikan merkuri rendah selama kehamilan sangat menyehatkan, dan ikan ini bisa dimakan hingga tiga kali seminggu. Ikan merkuri rendah berlimpah dan meliputi ikan teri, ikan kod, ikan salmon, dan ikan nila.

Ikan berlemak seperti salmon dan ikan teri juga merupakan pilihan yang sangat baik karena mengandung asam lemak omega-3 yang tinggi, yang penting untuk mendukung perkembangan bayi.

2. Ikan Setengah Matang atau Mentah

Ikan Setengah Matang atau Mentah

Foto: Orami Photo Stock

Saat Moms menyadari kehamilan, maka ini berarti Moms harus mengucapkan selamat tinggal untuk sementara waktu pada sushi. Ikan mentah, terutama kerang, dapat menyebabkan beberapa infeksi. Ini bisa berupa infeksi virus, bakteri, atau parasit, seperti norovirus, Vibrio, Salmonella, dan Listeria.

Beberapa dari infeksi ini hanya dapat mempengaruhi ibu hamil dengan menyebabkan dehidrasi dan kelemahan. Namun, nyatanya infeksi lain dapat ditularkan ke bayi dengan konsekuensi yang serius, atau bahkan fatal.

Wanita hamil sangat rentan terhadap infeksi listeria. Faktanya, menurut Center for Diseases Control and Prevention , wanita hamil 10 kali lebih mungkin terinfeksi oleh Listeria daripada populasi umum. Bakteri ini dapat ditemukan di tanah dan air atau tanaman yang terkontaminasi. Ikan mentah dapat terinfeksi selama pemrosesan, termasuk pengasapan atau pengeringan.

Bakteri Listeria dapat ditularkan ke bayi melalui plasenta, meskipun Moms tidak menunjukkan tanda-tanda penyakit. Hal ini dapat menyebabkan persalinan prematur, keguguran, lahir mati, dan masalah kesehatan serius lainnya.

Jadi, sangat disarankan untuk menghindari ikan mentah dan kerang, termasuk banyak hidangan sushi. Namun jangan khawatir, Moms bisa kembali menikmati sajian ikan setelah bayi lahir.

3. Telur Mentah

Telur Mentah

Foto: Orami Photo Stock

Tak hanya ikan atau daging mentah, ibu hamil juga perlu menghindari makanan yang disajikan dengan telur mentah. Ini karena Moms bisa terkontaminasi bakteri Salmonella dari dalam telur tersebut.

Jika terinfeksi bakteri ini maka gejalanya meliputi demam, mual, muntah, kram perut, dan diare. Namun, dalam kasus yang jarang terjadi, infeksi akibat bakteri Salmonella juga bisa menyebabkan kram di rahim, yang kemudian akan menyebabkan kelahiran prematur atau lahir mati.

Beberapa makanan yang biasanya mengandung telur mentah dan perlu untuk dihindari antara lain:

  • Telur orak-arik ringan
  • Telur rebus
  • Mayones buatan sendiri.
  • Beberapa saus salad buatan sendiri.
  • Es krim buatan sendiri.
  • Lapisan gula buatan sendiri.

Sebagian besar produk komersial yang mengandung telur mentah dibuat dengan telur yang dipasteurisasi sehingga aman untuk dikonsumsi. Namun, Moms harus tetap selalu membaca label untuk memastikannya. Untuk lebih aman lagi, pastikan selalu memasak telur sampai matang atau gunakan telur yang sudah dipasteurisasi.

4. Daging Jeroan

Daging Jeroan

Foto: Orami Photo Stock

Daging jeroan memang dikenal menjadi sumber berbagai nutrisi. Mulai dari zat besi, vitamin B12, vitamin A, seng, selenium, dan tembaga, semuanya baik untuk kamu dan bayi. Namun, makan terlalu banyak vitamin A hewani tidak dianjurkan selama kehamilan.

Pasalnya, terlalu banyak konsumsi vitamin A, terutama pada trimester pertama kehamilan, dapat menyebabkan kelainan bawaan dan keguguran. Meski pada banyak kasus kelainan terjadi akibat suplemen A yang terdapat dalam suplemen, akan tetapi penting bagi Moms untuk menjaga konsumsi jeroan seperti hati selama kehamilan. Konsumsi setidaknya beberapa ons sekali seminggu.

5. Kafein

Kafein

Foto: Orami Photo Stock

Sebelum hamil, Moms mungkin seorang penggemar kopi, teh, minuman ringan, atau minuman lain dengan kandungan kafein. Namun selama kehamilan, Moms biasanya akan disarankan untuk membatasi asupan kafein. Menurut American College of Obstetricians and Gynecologists, Moms harus membatasinya hingga kurang dari 200 miligram (mg) per hari.

Kafein diserap dengan sangat cepat dan mudah masuk ke dalam plasenta. Karena bayi dan plasentanya tidak memiliki enzim utama yang dibutuhkan untuk memetabolisme kafein, sehingga jika kadarnya terlalu tinggi, kafein akan menumpuk. Asupan kafein yang tinggi selama kehamilan terbukti dapat membatasi pertumbuhan janin dan meningkatkan risiko berat badan lahir rendah saat melahirkan. '

Jika bayi lahir dengan berat lahir terlalu rendah (didefinisikan sebagai kurang dari 2,5 kg), maka ini akan dikaitkan dengan peningkatan risiko kematian bayi dan risiko penyakit kronis yang lebih tinggi di masa dewasanya kelak. Jadi selama hamil, pantau terus asupan kafein yang masuk ke tubuh. Sebagai gantinya, konsumsi air putih untuk menghidrasi tubuh.

6. Makanan yang Tidak Dicuci

Makanan yang Tidak DIcuci

Foto: Orami Photo Stock

Permukaan buah dan sayuran yang tidak dicuci atau dikupas dapat terkontaminasi oleh beberapa bakteri dan parasit. Ini termasuk Toxoplasma, E. coli, Salmonella, dan Listeria, yang dapat diperoleh dari tanah atau melalui penanganan.

Kontaminasi dapat terjadi kapan saja selama produksi, panen, pemrosesan, penyimpanan, pengangkutan, atau eceran. Salah satu parasit berbahaya yang mungkin tertinggal pada buah dan sayuran disebut Toxoplasma. Mayoritas orang yang terkena toksoplasmosis tidak memiliki gejala, sementara yang lain mungkin merasa seperti terserang flu selama sebulan atau lebih.

Kebanyakan bayi yang terinfeksi bakteri Toxoplasma saat masih dalam kandungan tidak memiliki gejala saat lahir. Namun, gejala seperti kebutaan atau cacat intelektual dapat berkembang di kemudian hari. Terlebih lagi, sebagian kecil bayi baru lahir yang terinfeksi mengalami kerusakan mata atau otak yang serius saat lahir.

Selama Moms hamil, sangat penting untuk meminimalkan risiko dengan mencuci bersih menggunakan air, mengupas, atau memasak buah dan sayuran. Pertahankan juga kebiasaan baik ini setelah bayi lahir.

Baca Juga: Hamil 7 Bulan: Gejala, Ciri-ciri, Makanan yang Baik, dan Pantangannya!

Jadi, jika Moms bertanya bolehkah ibu hamil makan pete, jawabannya boleh namun tetap dalam jumlah yang terbatas. Selain itu, penting juga agar Moms menghindari makanan-makanan lain disebutkan di atas selama kehamilan demi mencegah bayi mengalami efek yang tidak diinginkan.

Namun supaya lebih pasti lagi, pastikan Moms berdiskusi dengan dokter pribadi selama kehamilan untuk mengetahui jenis makanan apa saja yang boleh dan tidak boleh dikonsumsi selama kehamilan.

Artikel Terkait