BALITA DAN ANAK
12 Februari 2020

Apakah Buta Warna Parsial Menurun ke Anak? Ini Kata Ahli

Buta warna bisa rentan terjadi pada anak laki-laki
Artikel ditulis oleh Amelia
Disunting oleh Andra Nur Oktaviani

Ada beberapa orang yang tidak memiliki kemampuan untuk melihat warna. Mereka memiliki kondisi yang dinamakan buta warna.

Namun, ada juga kondisi di mana buta warna ini hanya terjadi sebagian. Hal ini dinamakan buta warna parsial atau anomalous trichromacy. Hal ini berarti seseorang cenderung tidak bisa melihat warna-warna tertentu dan gradasinya.

Cari tahu lebih lanjut tentang buta warna parsial dan apa faktor yang menyebabkannya berikut ini.

Cara Mata Melihat Warna

buta warna parsial-2.jpg

Foto: bustle.com

Bunga mawar berwarna merah, bunga melati berwarna putih. Lewat mata, kita bisa melihat dan mempersepsikan warna. Ketika cahaya mengenai sebuah objek, ada refleksi sehingga gelombang warnanya bisa kita lihat.

Bagian yang paling berjasa dalam hal ini adalah kerucut, sel-sel sangat kecil yang ada di dalam retina. Kerucut ini adalah jenis fotoreseptor yang merespons pada cahaya.

Mayoritas manusia memiliki 6-7 juta kerucut dan terkonsentrasi di bagian dalam retina bernama fovea centralis.

Baca Juga: Kenali Gejala Buta Warna Pada Anak

Penyebab Buta Warna Parsial Bisa Terjadi

buta warna parsial anak-1.jpg

Foto: realshades.com

Sejatinya, kerucut dalam mata merespons pada warna berbeda. Sebagian besar merespons pada warna merah, sebagian kecil pada warna hijau, dan sedikit bagian merespons pada warna biru.

Pada orang dengan buta warna parsial, sel-sel kerucut ini mengalami kerusakan. Mereka masih bisa mendeteksi warna, namun persepsinya tidak 100 persen benar. Contohnya, tertukar antara warna satu dengan lainnya.

Faktor Seseorang Alami Buta Warna Parsial

buta warna parsial-4

Foto: Orami Photo Stock

Ada hal-hal yang menyebabkan seseorang bisa mengalami buta warna parsial. Ketahui apa saja penyebabnya berikut ini ya, Moms.

1. Faktor Keturunan

Biasanya, buta warna parsial terjadi karena faktor keturunan dari keluarga dengan kelainan fotopigmen. Gen yang menurunkan buta warna parsial adalah kromosom X.

Itu sebabnya buta warna parsial lebih banyak ditemukan terjadi pada pria dibandingkan dengan wanita.

2. Retinopati Diabetik

Penyakit degenerasi makula dan retinopati diabetik menyebabkan kerusakan pada retina tempat sel kerucut berada. Hal ini yang menyebabkan orang dengan diabetes bisa saja mengalami buta warna parsial.

Baca Juga: 6 Tips Menjaga Kesehatan Mata Anak agar Tetap Cemerlang

3. Penyakit Otak

Penderita Alzheimer maupun Parkinson juga memiliki kecenderungan mengalami buta warna parsial. Selain itu, orang-orang yang menderita demensia menghadapi kesulitan dengan persepsi penglihatan hingga salah menginterpretasi warna yang dimaksud.

4. Kecelakaan

Dalam kasus lain, kecelakaan atau cedera berat juga bisa mengakibatkan sel kerucut dalam retina mengalami kerusakan. Akibatnya, seseorang bisa mengalami buta warna parsial.

Baca Juga: Apakah Buta Warna Bisa Diobati?

Buta Warna Parsial Bisa Menurun ke Anak

buta warna parsial-3.jpg

Foto: phys.org

Salah satu penyebab terjadinya buta warna parsial adalah faktor genetik. Ketidakmampuan melihat warna merah, hijau, dan biru biasanya diturunkan dari orangtua lewat kromosom X.

Lalu, bagaimana buta warna parsial bisa diturunkan ke anak secara genetik?

Pertama-tama, kromosom yang dapat menurunkan buta warna parsial adalah kromosom X. Artinya untuk anak perempuan dengan kromosom XX, bila hanya satu kromosom yang terkena, maka ia akan menjadi carrier (pembawa) saja.

Sementara bagi anak laki-laki yang memiliki kromosom XY, apabila mendapatkan kromosom X dengan kasus buta warna, maka ia akan mendapatkan buta warna turunan.

Namun seorang ayah yang buta warna sekalipun tidak bisa menurunkan ke anak laki-lakinya, karena kromosom X dari ayah hanya turun ke anak perempuan.

Itu sebabnya, buta warna parsial untuk warna merah/hijau lebih banyak terjadi pada pria dibandingkan dengan wanita. Sementara buta warna untuk biru cukup setara antara pria dan wanita karena terbawa di kromosom non-sex.

Ditinjau oleh dr. Anandika Pawitri

Sumber: sehatq.com

Konten ini merupakan kerja sama yang bersumber dari SehatQ

Isi konten di luar tanggung jawab Orami Parenting

Artikel Terkait